( 5M ) ~ SPMC = "Sudut Pandang Mata Capung" ~ yang boleh diartikan ~ "Sudut Pandang Majemuk" || MEMPERHATIKAN kebenaran-kebenaran sepele yang di-sepele-kan ; MENCARI-tahu mana yang benar-benar "benar" dan mana yang benar-benar "salah" ; MENYUARAKAN kebenaran-kebanaran yang di-gadai-kan dan ter-gadai-kan ; MENGHARAP kembali ke dasar-dasar kebenaran yang di-lupa-kan dan ter-lupa-kan ; MENOLAK membenarkan hal-hal yang tidak semestinya, menolak menyalahkan hal-hal yang semestinya. (© 2013~SW)
Friday, January 29, 2016
"NYINYIR GUGAT & HUJAT TRINITAS” || (Opini Sensi)
"NYINYIR GUGAT & HUJAT TRINITAS”
.
.
Opini Sangat Sensi: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
KETIKA diskusi ada yang ngotot minta bukti ayat tentang trinitas, saya mbatin: Sebenarnya dia paham masalah trinitas. Mau ngetes sambil mengolok. Atau benar pingin tahu? Tapi gaya bahasa dan intensitas yang disampaikan adalah mengolok dan menyalahkan.
.
Sesungguhnya saya juga tidak pernah mendefinisikan tentang dogma trinitas Nasrani, dan saya duga tidak semua nasrani paham tentang dogma trinitas juga (maaf kalau salah). Tapi yang saya pikirkan adalah, kenapa ya mereka begitu usil mempertanyakan tentang dogma trinitas Nasrani? Memang kalau Nasrani salah apakah mereka juga ikut disalahkan? Atau mereka harus bertanggung jawab agar umat Nasrani masuk Surga bersamanya? Apa dipikir mereka yang ngotot mempertanyakan sambil mengolok juga pasti masuk surga?
.
Sepertinya mereka punya misi “menyalahkan” agar ummat Nasrani berduyun-duyun pindah agama, lalu diklaim dapat hidayah, dan menurut saya itu pasti kurang cerdas, bukan begitu caranya saudaraku, yang anda lakukan itu mustahil dapat terjadi, karena dogma trinitas dalam Nasrani adalah dogma terpenting dalam ajaran agamanya, kalau yang Anda lakukan terbukti, maka bubarlah Nasrani. Apakah hal itu tidak terlalu lebai? Kenapa tidak terpikir bahwa semua Nasrani juga tidak mau terjerumus, termasuk pemimpin ummatnya? Apakah Anda pikir mereka juga mau menerima begitu saja jika hal yang Anda pertanyakan itu memang benar salah sesuai praduga Anda? Bukankah pemimpin ummat itu juga manusia biasa seperti kita? Untuk menjadi pemimpin ummat bukankah juga harus mempelajari kebenaran rasionalitas agamanya? Andai Anda diposisi mereka, apakah Anda mau melanjutkan kalau dogma agama yang Anda pelajari amburadul dan tidak masuk akal? Atau Anda merasa lebih pintar dari mereka semua, jadi anda lebih tahu tentang kesesatan mereka dibanding yang benar mempelajarinya?
.
Tidak semua ummat Nasrani dapat menerangkan dengan simpel tentang dogma trinitas, dan itu memang disayangkan, tapi memang sungguh tidak simpel, berbagai perumpamaan sudah banyak yang mengutarakan agar lebih mudah dipahami apa itu dogma trinitas, ada yang mengumpamakan matahari dengan sinar dan panasnya, ada yang mengumpamakan segitiga, cerita tentang kekekalan, dan masih banyak lagi, dan itu semua juga membuktikan bahwa dogma trinitas Nasrani memang tidak simpel untuk dipahami. Andai paham sekalipun tentang dogma trinitas, apa bisa dengan mudah menjabarkan dengan merangkai kata untuk menyampaikan agar mudah dipahami oleh orang lain? Tidak semudah itu bukan? Tapi dengan sengaja gencar mempertanyakan sekaligus menghujat dogma Nasrani oleh ummat kepercayaan lain, apakah itu etis? Apakah itu bukan kepo namanya? Ngapain ikut campur urusan rumah tangga lain? Mempertanyakan sambil bermaksud mempermalukan untuk berharap dapat muntahan bola takterduga boleh-boleh saja, asal tidak emosional ketika ayat-ayatnya juga dipertanyakan.
.
Dunia semakin maju, perkembangan informasi benar-benar mengalami revolusi, jarak antar manusia bukan lagi halangan untuk saling berkomunikasi, apa yang terjadi dibelahan bumi lain, hampir seketika itu juga dapat diketahui oleh manusia dibelahan bumi lainnya. Tuntutan HAM (Hak Asasi Manusia) adalah sangat rasional, karena itu maknanya kebebasan individu setiap manusia, memperjuangkan kesetaraan tanpa membedakan SARA, tapi hal itu sekaligus juga akan mendegradasi kepercayaan terhadap agama. Sesungguhnya diskusi tentang agama memang tidak pernah basi, itulah hebatnya ideologi agama, merasuki jiwa setiap manusia yang mengimaninya. Jalan pintas untuk menancapkan dalam benak ummat adalah penanaman virus fanatik, dan itu bisa dilakukan oleh semua agama. Utamanya adalah penanaman semenjak dini, karena usia dini adalah usia pada masa-masa menerima tanpa mampu menolak. Dan hasilnya sudah dapat diterka, maka ketika kita mengamati bahwa generasi saat ini lebih tidak toleran dari pada generasi-generasi yang lalu, itu juga menyiratkan bahwa ternyata kita telah salah dalam beragama. Bukankah beragama itu bertujuan memanusiakan manusia? Apakah ditakuti manusia lain itu termasuk memanusiakan manusia?
.
Jadi kalau mau dipetakan, untuk meraih ummat sebanyak-banyaknya dalam kelompok beragama, penanaman virus fanatik adalah jalan pintas dan garansi lebih awet dari pada jalan rasionalitas, lawannya adalah tuntutan HAM dan kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi seperti semua perbuatan untuk mencapai tujuan, pasti ada konsekwensinya, penanaman virus fanatik menghasilkan ummat yang menakutkan, sedang kalau ingin mengikuti arus perubahan, utamanya mengiringi HAM dan modernitas ilmu pengetahuan, kalangan agamawan harus berani mengupas agamanya serealitas mungkin, kemajuan ilmu pengetahuan menuntut semua serba rasional, jadi betul-betul menjudikan ayat-ayat di kitab sucinya masing-masing untuk boleh atau tidak dikupas dengan logika rasional, dan mereka yang bisa melewati ujian itu maka akan mendapatkan ummat yang lebih sesuai dengan zamannya, beriringan dengan HAM dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dan ayat-ayat dalam kitab suci agama memang sudah selayaknya selalu diperbaiki tafsirnya, agar dapat selalu mengiringi perkembangan zaman dan selalu memanusiakan manusia itu sendiri(kekinian). Memperbaiki tafsir tentu saja bukan merubah makna, karena hal itu tentu tidak mungkin. Tapi menurut saya agama memang masih sangat dibutuhkan oleh ummat manusia, ada sesuatu yang kurang lengkap jika manusia tidak mengakui Tuhan sebagai penciptanya, setidaknya itu lah yang saya rasakan, bagaimana dengan Anda?
.
Maaf sudah ngalor-ngidul menyampaikan uneg-uneg, padahal blom menyampaikan kupasan sesuai judul artikel ini, TRINITAS. Begini logikanya ala saya, pemahaman sederhana karena memang saya bukan termasuk kelompok agamawan yang bertanggung jawab secara langsung terhadap suatu agama. Tentu saja mohon maaf kalau salah menjabarkannya.
.
KETIKA ada yang ngotot mempertanyakan: Mana ayatnya tentang trinitas?? ; Darimana pakem trinitas itu? ; Apakah hanya berdasar kepada asumsi atau firman? ; Adakah ayat secara konteks memberitakan itu??? ; KALAU HANYA ASUMSI ....AHHH SEPERTI KARANGAN NOVEL SAJA. ; Untuk membuat pakem atau dogma ajaran tentu tidak bisa lepas dari firman ...sekarang silahkan Anda copas ayat yang menghasilkan dogma tersebut, sebab kita tidak mungkin menafsirkan sesuatu tidak terikat kepada firman. ; Jika tidak ada ayat trinitas berarti Yesus bukan Tuhan. Kenapa menuhankan Yesus? Muka tembok tidak tau malu hehehehe ... (.)
.
Itulah kengototan mereka mempertanyakan dengan gencar dan berulang-ulang, padahal seingat saya, saya juga blom pernah mendefinisikan dengan benar apa itu trinitas secara tersirat, tapi saya menangkap makna pertanyaan terpenting mereka, KENAPA YESUS DIANGGAP TUHAN? KENAPA NASRANI MENYEBUTNYA TUHAN YESUS?
.
Nekat, inilah keterangan yang saya sampaikan: Anda harus pahami dulu apa arti trinitas? Bukankah Trinitas adalah 3 dalam satu, tiga individu sebagai satu kesatuan. Kalau Anda sering mengumpamakan 1+1+1= 3 .... berarti Anda itu sangat menggelikan ... memang ini matematika? Berarti Anda tidak memahami arti sederhana dari Trinitas itu sendiri. Trinitas itu dogma, tahu apa arti dogma? Dogma itu artinya menangkap makna dari ajaran, dan ajaran adalah ayat-ayat itu sendiri. Jadi dogma tidak harus ada dalam bunyi ayat, tapi tidak boleh keluar dari pemahaman makna. Inti dari dogma trinitas yang Anda masalahkan adalah membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, mengapa nasrani menyebut Yesus adalah Tuhan Yesus, Dia adalah Allah yang hidup. Kalau Anda mau cari ayat yang menuliskan TRINITAS di ayat, setahuku memang itu tidak ada, karena memang Trinitas adalah dogma, hasil pemahaman, dan Nasrani setuju merumuskan dengan memberi nama dogma Trinitas.
.
Lalu masih ada kengototan pertanyaan berikut: Saya hanya menegaskan bila dasar dari trinitas adalah kesepakatan dari para dewan gereja apa tidak menyalahi firman? Sebab kesimpulan tidak bisa kita jadikan hukum yang kuat dari ajaran.
.
Tanggapan saya adalah: Membuktikan, ingat MEMBUKTIKAN! Dan yang dibuktikan tentu saja adalah sejarah kenyataannya, utamanya juga ayat-ayat yang menggambarkan hal itu. Hal yang rasional kenapa Yesus adalah juga Tuhan .... SEKALI LAGI YA, TRINITAS ADALAH DOGMA.
.
Lalu, "KENAPA YESUS DIANGGAP TUHAN OLEH NASRANI?" , berikut versi saya.
.
Ingat, banyak sekali ucapan Yesus yang tidak menyiratkan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena memang Yesus adalah juga Nabi. Tidak ada yang memaksa Anda harus percaya, tapi menghakimi dogma kepercayaan lain, itu sungguh menggelikan .... utamanya kalau salah. Ketuhanan Yesus justru lebih terungkap ketika semuanya tergenapi, karena memang "kala itoe" juga tidak ada yang percaya bahwa Yesus itu juga Tuhan .... sangat mungkin mirip seperti yang kalian proteskan saat ini ... dan itu rasional .... mana mungkin bisa begitu saja diterima bahwa ada manusia bahkan nabi yang mengaku Tuhan? Gambaran itulah yang terjadi "waktoe itoe" .... sampai semuanya tergenapi apa yang tertulis pada kitab-kitab sebelumnya ..... baru banyak yang ngeh bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri.
.
Yohanes 10:30. Isa Al-Masih: " Aku dan Bapa adalah satu."
Yohanes 14:9-11. Yesus: "... Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa... percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku...".
Yohanes 11:25. Isa Al-Masih: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"
Isa Al-Masih menyiratkan bahwa diri-Nya dapat memberikan kehidupan. Pernah tahu cerita Yesus membuat burung dari tanah kemudian meniupnya, bukankah cerita itu mirip dengan penciptaan Adam manusia pertama?
.
"Bukankah Sang Pemberi kehidupan hanya Allah?"
.
Banyak sekali bukti Isa Al-Masih punya otoritas Allah, karena sejatinya Ia adalah Allah itu sendiri.
.
~ ~ ~ ~ ~
.
Kalau ingin menjaring ummat, bukankah seharusnya kalian “pamer” kebaikan? Berlomba dalam kebaikan adalah rasional, dan ukuran klasiknya adalah: “Buah menujukkan kebaikan pohonnya, dan pohon dinilai dari buahnya”. Tereak dan sesumbar paling benar, paling baik, paling rasional, paling diridho Tuhan, paling welas asih, dan paling-paling lainnya yang serba wah dan hebat, apakah ada gunanya kalau kenyataannya banyak menghasilkan buah-buah yang kurang baik bahkan mencemarkan? Tidak mengakui buah busuk hasil dari pohon yang sama memang termudah dan praktis, lalu apakah terpikirkan apa yang ada dibenak semua orang atas pengingkaran itu? Lalu mengusik sejarah kekelaman kepercayaan lain sepertinya waras, padahal kita hidup di kekinian bukan? Dan kekinian itulah yang kita hadapi bersama, siapapun kita.
.
Sejatinya (setidaknya menurut saya), tidak masalah apapun agama Anda. Karena memang itu bukan tiket untuk masuk Surga, karena memang Tuhan tidak pernah membuat agama, agama hanya penuntun agar manusia lebih mudah memahami welas asih (bukankah larangan dan perintah Tuhan juga bertujuan akhir welas asih?), penuntun agar manusia selalu teringat kehendak Tuhan, penuntun agar manusia lebih manusiawi, bukankah itu tujuan kita beragama? Tidak beragama bukan berarti garansi pasti masuk Neraka, karena (masih menurut saya, maaf sebelumnya) Tuhan tidak tergila-gila untuk disembah, Tuhan pastinya lebih memilih Anda berlaku welas asih terhadap sesama manusia dari pada Anda menyembah Tuhan lalu mendustai sesama, sewenang-wenang, bahkan tega membunuh manusia lainnya. Tuhan Maha Sempurna, maknanya juga tetap sempurna ada atau tidak ada yang menyembah. Dan saya menegaskan bahwa saya tidak menganjurkan Anda tidak perlu beragama, karena dengan beragama saja kita masih melihat begitu banyak kebrutalan terjadi, pasti akan lebih menjadi-jadi kebrutalan itu seandainya semua manusia tidak beragama bukan? Atau kebrutalan yang terjadi dengan mengatas namakan agama adalah cermin kesesatan kita beragama? Apakah bukan itu efek negatif jalan pintas yang kita tempuh, menanamkan virus fanatik kepada ummat agar menjaring ummat sebanyak mungkin dengan cara instan? Itulah yang saya renungkan dalam pemikiran. Maaf.
.
Trintitas adalah kesatuan antara Bapa~Putra~Roh Kudus (Allah~Yesus~Roh Kudus), mohon ada yang berkenan memberi pencerahan tantang “Roh Kudus” yang memang belum saya bahas sama sekali. Maaf karena memang saya tidak “memahami”, beruntung itu bukan masalah penting yang dipertanyakan, dan semoga tidak menjadi dipertanyakan setelah ada pernyataan ini, kecuali sudah ada yang berkenan memberi pencerahan. Terimakasih. (SPMC SW, Jumat, 29 Januari 2016.)
.
.
.
Sumber gambar:
www .pulsk .com
.
Thursday, December 31, 2015
'ANNO DOMINI "Kembaran" YESUS'
ANNO DOMINI "Kembaran" YESUS
.
Opini: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
Tahun 2015 akan segera digusur oleh 2016, sang waktu sungguh sangat perkasa, adakah yang mampu menghentikannya walau hanya satu detik saja? Nuansa tahun baru sudah terasa beberapa hari sebelumnya, banyak sudah yang libur bersama, adakah diantara kalian yang tidak ikut mengucapkan "Selamat Tahun Baru" menjelang dan tiba waktunya pada 1 Januari 2016 yang sudah tinggal beberapa jam lagi?
.
Tahun 2016, itu maknanya 2016 tahun yang lalu Yesus lahir di Nazaret, memang itu penanggalan untuk menandakan tentang kelahiran Yesus yang oleh Nasrani juga disebut Tuhan Yesus. Maka hingga saat ini, era sebelum kelahiran Yesus disebut sebelum masehi (SM) sesudah kelahiran Yesus disebut Masehi (M).
.
Penanggalan Masehi dalam bahasa Latin disebut "Anno Domini" (AD) artinya "Tahun Tuhan", sedang penanggalan masehi dalam bahasa Inggris disebut Common Era yang disingkat "CE" artinya "Era Umum", sedangkan penanggalan sebelum masehi istilahnya "Before Christ" (BC) (sebelum 'kelahiran' Kristus) atau "Before Common Era" (BCE) artinya Sebelum Era Umum.
.
.
Untuk semua pembaca "SPMC",
.
SELAMAT TAHUN BARU
PF. 1 JANUARI 2016
.
~~~~~~~~~~~~
.
Semoga tidak ada "fatwa haram" untuk saling ucapkan "Selamat Tahun Baru". (SPMC SW, 31 Desember 2015).
.
.
.
Sumber gambar:
republika .co .id
Friday, December 25, 2015
"DICARI, NATAL YANG HALAL"
"DICARI, NATAL YANG HALAL"
.
Opini Wacana Sensi: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
UANG palsu itu "bukan" uang. Ketika komunitas kami mempunyai mata uang tersendiri sebagai hal yang utama dan itulah yang selalu ada di dompet kami. Lalu komunitas Anda punya mata uang tersendiri dan itulah yang selalu ada di dompet Anda. Komunitas mereka juga punya mata uang tersendiri dan itulah yang selalu ada di dompet mereka. Kenapa ada diantara Anda yang menuduh mata uang kami palsu, juga menuduh mata uang mereka palsu? Padahal kenyataannya mata uang kami berlaku sah dan bisa digunakan diantara komunitas kami masing-masing yang Anda tuduh palsu. Sementara kami juga mengakui bahwa mata uang didompet Anda adalah uang yang asli bagi komunitas Anda. Kalau mata Uang di dompet kami sebutannya Rupiah, mata uang di dompet Anda sebutannya Riyal, mata uang di dompet mereka sebutannya Dolar, apakah itu ada masalah? Bukankah tetap saja maknanya adalah UANG?
.
Uang maknanya adalah dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang kita butuhkan, sebagai nilai tukar benda maupun jasa yang telah kita sepakati bersama nominalnya. Uang palsu tidak sah untuk transaksi, dan pasti dipenjarakan jika ketahuan, bukankah begitu saudaraku?
.
Tuhan saya adalah pencipta jagat raya, air, tumbuh-tumbuhan dan semua kehidupan, apakah Tuhan anda ciri-cirinya sama dengan Tuhan saya? Kalau sama kenapa anda sering kali menuduh Tuhan saya beda dengan Tuhan Anda? Kenapa Anda sering kali sangat lantang menuduh Tuhan kami palsu? Atau memang Anda punya Tuhan yang beda ciri-cirinya dengan Tuhan kami? Atau memang Tuhan ada lebih dari satu menurut Anda?
.
Kalau kami menyebut Gusti, Anda menyebutnya Allah SWT, mereka menyebutnya Tuhan Yesus, yang lain menyebutnya Sang Hyang Widhi, juga ada yang menyebut Krishna, dan sebutan-sebutan lain untuk Tuhan mereka masing-masing, kenapa Anda menjadi sewot dan menuduh Tuhan mereka bukan Tuhan saudaraku?
.
Kenapa Anda suka sekali "mencopet" dompet orang lain untuk melihat mata uang mereka hanya untuk mengolok bahwa uang mereka palsu karena dompetnya tidak berisi uang Riyal, KENAPA? Apakah wawasan Anda tidak terlalu sempit? Apakah itu bukan ciri-ciri fanatik yang sering saya katakan? Kenapa justru Anda tidak malu melakukan itu semua? Dan itu semakin menguatkan dugaan saya, fanatik memang salah satu cirinya adalah tidak rasional, dan "tidak punya rasa malu" adalah salah satu sifat dari tidak rasional itu.
.
Ketika Anda juga dengan enteng menuduh orang lain menyembah berhala, menuhankan manusia, Tuhan dianggap beranak dan diperanakkan, itulah tuduhan membabi-buta karena Anda tidak paham dogma mereka. Menghakimi tanpa tahu masalah, apakah bukan ngawur namanya? Dapatkah Anda keluar dari jati diri Anda sejenak, lalu memikirkan tentang Ka'bah dan Lempar Jumroh, andai ritual itu adanya di kepercayaan lain, Nasrani misalnya, saya tidak bisa bayangkan sebutan apa yang akan Anda sematkan pada mereka. Tapi ummat lain yang seringkali Anda tuduh menyembah berhala apakah ada yang mengolok Anda untuk hal itu? Yang ada justru ikut prihatin ketika ada banyak korban meninggal ketika ritual Lempar Jumroh.
.
Mengucapkan Selamat Natal di setarakan dengan mengucapkan Syahadat, mengucapkan selamat natal haram karena imannya dianggap sama dengan yang diberi ucapan, atau diartikan ikut mengakui keimanannya orang yang diberi ucapan selamat, mereka yang merayakan natal adalah merayakan kelahiran Yesus yang dianggap Tuhan oleh Nasrani, karena itulah dianggap haram memberikan ucapan selamat natal, begitu dalih mereka yang fanatik. Itu menyangkut dogma mereka saudaraku, kenapa Anda kepo amat, apakah ada yang memaksa Anda untuk juga mengakui bahwa Yesus itu adalah Tuhan bagi Anda? Lha wong yang minta Anda memberi ucapan selamat natal aja juga tidak ada. Saya kasih info ya, sesama nasrani saja tidak ada yang ngemis untuk minta diberi ucapan selamat natal, apakah Anda percaya? Saya sungguh prihatin dengan pola pikir orang-orang yang fanatik.
.
Kalau pembenaran-pembenaran nalar yang Anda utarakan terus berkembang ke hal-hal tidak masuk akal lainnya, apakah beragama itu sejatinya untuk mengkotak-kotakkan manusia? Doeloe di negeri ini saya tidak pernah jumpai hal-hal aneh semacam itu, tapi beberapa tahun belakangan ini kenapa kita justru menjadi sangat susah menjalin persaudaraan, dan ngenesnya justru batasan-batasannya adalah Agama yang dipercayai bersumber pada kebenaran Tuhan yang Esa. Kalau memang Tuhan hanya ada satu dan Dia adalah pencipta Anda dan saya, kenapa pengkotak-kotak'an itu harus kita lakukan? Sangat ngenes ketika Anda kutip ayat yang Anda anggap suci untuk membenarkan dalih Anda, bukankah ujung akhirnya Anda mengatakan bahwa semua yang Anda lakukan adalah perintah Tuhan? Apa benar ada ajaran Tuhan untuk kita agar saling bertentangan? Apakah Anda yakin sudah memahami ajaran agama Anda sendiri dengan betul? Mengimaninya dan bukan fanatik?
.
(Bagi orang fanatik) Mengucapkan selamat natal dianggap juga mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan itu haram hukumnya, padahal HARAM itu sangat banyak macamnya, makan daging babi juga haram menurut muslim, apakah berteman dengan orang yang makan babi tidak haram juga? Bukankah itu maknanya sama, berarti mengakui babi tidak haram? Bukankah harusnya Anda juga boleh menganggap hal itu serupa? Saya juga pernah mendengar, wadah atau alat masak yang pernah dipakai untuk memasak barang haram walau sudah dicuci juga akan menghasilkan makanan haram. Apa jadinya kalau semua itu dikaitkan dan bahkan malah dikembangkan, kenapa tidak sekalian berpikir bahwa babi juga hidup di bumi yang sama kita tinggali, lalu dianggap haram tinggal ditempat yang sama dengan babi? Makin lama kok jadi makin tidak rasional. KAREPMU LAH!! (SPMC SW, Jumat, 25 Desember 2015)
.
===========================
.
"SELAMAT NATAL" untuk semua teman yang ikut merayakan. GBU
.
===========================
.
.
Sumber gambar:
www.intelijen .co.id
.
Opini Wacana Sensi: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
UANG palsu itu "bukan" uang. Ketika komunitas kami mempunyai mata uang tersendiri sebagai hal yang utama dan itulah yang selalu ada di dompet kami. Lalu komunitas Anda punya mata uang tersendiri dan itulah yang selalu ada di dompet Anda. Komunitas mereka juga punya mata uang tersendiri dan itulah yang selalu ada di dompet mereka. Kenapa ada diantara Anda yang menuduh mata uang kami palsu, juga menuduh mata uang mereka palsu? Padahal kenyataannya mata uang kami berlaku sah dan bisa digunakan diantara komunitas kami masing-masing yang Anda tuduh palsu. Sementara kami juga mengakui bahwa mata uang didompet Anda adalah uang yang asli bagi komunitas Anda. Kalau mata Uang di dompet kami sebutannya Rupiah, mata uang di dompet Anda sebutannya Riyal, mata uang di dompet mereka sebutannya Dolar, apakah itu ada masalah? Bukankah tetap saja maknanya adalah UANG?
.
Uang maknanya adalah dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang kita butuhkan, sebagai nilai tukar benda maupun jasa yang telah kita sepakati bersama nominalnya. Uang palsu tidak sah untuk transaksi, dan pasti dipenjarakan jika ketahuan, bukankah begitu saudaraku?
.
Tuhan saya adalah pencipta jagat raya, air, tumbuh-tumbuhan dan semua kehidupan, apakah Tuhan anda ciri-cirinya sama dengan Tuhan saya? Kalau sama kenapa anda sering kali menuduh Tuhan saya beda dengan Tuhan Anda? Kenapa Anda sering kali sangat lantang menuduh Tuhan kami palsu? Atau memang Anda punya Tuhan yang beda ciri-cirinya dengan Tuhan kami? Atau memang Tuhan ada lebih dari satu menurut Anda?
.
Kalau kami menyebut Gusti, Anda menyebutnya Allah SWT, mereka menyebutnya Tuhan Yesus, yang lain menyebutnya Sang Hyang Widhi, juga ada yang menyebut Krishna, dan sebutan-sebutan lain untuk Tuhan mereka masing-masing, kenapa Anda menjadi sewot dan menuduh Tuhan mereka bukan Tuhan saudaraku?
.
Kenapa Anda suka sekali "mencopet" dompet orang lain untuk melihat mata uang mereka hanya untuk mengolok bahwa uang mereka palsu karena dompetnya tidak berisi uang Riyal, KENAPA? Apakah wawasan Anda tidak terlalu sempit? Apakah itu bukan ciri-ciri fanatik yang sering saya katakan? Kenapa justru Anda tidak malu melakukan itu semua? Dan itu semakin menguatkan dugaan saya, fanatik memang salah satu cirinya adalah tidak rasional, dan "tidak punya rasa malu" adalah salah satu sifat dari tidak rasional itu.
.
Ketika Anda juga dengan enteng menuduh orang lain menyembah berhala, menuhankan manusia, Tuhan dianggap beranak dan diperanakkan, itulah tuduhan membabi-buta karena Anda tidak paham dogma mereka. Menghakimi tanpa tahu masalah, apakah bukan ngawur namanya? Dapatkah Anda keluar dari jati diri Anda sejenak, lalu memikirkan tentang Ka'bah dan Lempar Jumroh, andai ritual itu adanya di kepercayaan lain, Nasrani misalnya, saya tidak bisa bayangkan sebutan apa yang akan Anda sematkan pada mereka. Tapi ummat lain yang seringkali Anda tuduh menyembah berhala apakah ada yang mengolok Anda untuk hal itu? Yang ada justru ikut prihatin ketika ada banyak korban meninggal ketika ritual Lempar Jumroh.
.
Mengucapkan Selamat Natal di setarakan dengan mengucapkan Syahadat, mengucapkan selamat natal haram karena imannya dianggap sama dengan yang diberi ucapan, atau diartikan ikut mengakui keimanannya orang yang diberi ucapan selamat, mereka yang merayakan natal adalah merayakan kelahiran Yesus yang dianggap Tuhan oleh Nasrani, karena itulah dianggap haram memberikan ucapan selamat natal, begitu dalih mereka yang fanatik. Itu menyangkut dogma mereka saudaraku, kenapa Anda kepo amat, apakah ada yang memaksa Anda untuk juga mengakui bahwa Yesus itu adalah Tuhan bagi Anda? Lha wong yang minta Anda memberi ucapan selamat natal aja juga tidak ada. Saya kasih info ya, sesama nasrani saja tidak ada yang ngemis untuk minta diberi ucapan selamat natal, apakah Anda percaya? Saya sungguh prihatin dengan pola pikir orang-orang yang fanatik.
.
Kalau pembenaran-pembenaran nalar yang Anda utarakan terus berkembang ke hal-hal tidak masuk akal lainnya, apakah beragama itu sejatinya untuk mengkotak-kotakkan manusia? Doeloe di negeri ini saya tidak pernah jumpai hal-hal aneh semacam itu, tapi beberapa tahun belakangan ini kenapa kita justru menjadi sangat susah menjalin persaudaraan, dan ngenesnya justru batasan-batasannya adalah Agama yang dipercayai bersumber pada kebenaran Tuhan yang Esa. Kalau memang Tuhan hanya ada satu dan Dia adalah pencipta Anda dan saya, kenapa pengkotak-kotak'an itu harus kita lakukan? Sangat ngenes ketika Anda kutip ayat yang Anda anggap suci untuk membenarkan dalih Anda, bukankah ujung akhirnya Anda mengatakan bahwa semua yang Anda lakukan adalah perintah Tuhan? Apa benar ada ajaran Tuhan untuk kita agar saling bertentangan? Apakah Anda yakin sudah memahami ajaran agama Anda sendiri dengan betul? Mengimaninya dan bukan fanatik?
.
(Bagi orang fanatik) Mengucapkan selamat natal dianggap juga mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan itu haram hukumnya, padahal HARAM itu sangat banyak macamnya, makan daging babi juga haram menurut muslim, apakah berteman dengan orang yang makan babi tidak haram juga? Bukankah itu maknanya sama, berarti mengakui babi tidak haram? Bukankah harusnya Anda juga boleh menganggap hal itu serupa? Saya juga pernah mendengar, wadah atau alat masak yang pernah dipakai untuk memasak barang haram walau sudah dicuci juga akan menghasilkan makanan haram. Apa jadinya kalau semua itu dikaitkan dan bahkan malah dikembangkan, kenapa tidak sekalian berpikir bahwa babi juga hidup di bumi yang sama kita tinggali, lalu dianggap haram tinggal ditempat yang sama dengan babi? Makin lama kok jadi makin tidak rasional. KAREPMU LAH!! (SPMC SW, Jumat, 25 Desember 2015)
.
===========================
.
"SELAMAT NATAL" untuk semua teman yang ikut merayakan. GBU
.
===========================
.
.
Sumber gambar:
www.intelijen .co.id
Monday, December 21, 2015
“SILSILAH ‘KRONI’ ALLAH”
“SILSILAH ‘KRONI’ ALLAH”
.
Opini Logika Sensi: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
Kalau misal ada Bapak namanya Tuhan, dan Tuhan punya 6 orang anak, dan mereka diberi nama:
Kepercayaan ; Hindu ; Buddha ; Katolik ; Kristen ; Islam, lalu ke 6 anakNya tersebut mempunyai anak-anak juga, “misalnya”:
.
KEPERCAYAAN memiliki anak:
Jolelono Lono ; Tardjo Binangun ; Teng Sing Hie ; Adhyatmo ; Murti ; Marwah ; Ki Ageng ; Abimanyu ; .....
.
HINDU memiliki anak:
Pande Putu ; Kuncoro ; Suro Dimojo ; I Ketut Gede Warse ; Darmini ; Tanuri Kamis ; ....
.
BUDDHA memiliki anak:
Suanto Husada ; Suharyo Kusuma ; Go Su Meng ; Muchtar Suhardi ; Lindaningsih ; Kwik Kian Gie ; ....
.
KATOLIK memiliki anak:
Ratna Mursini ; Albert Cahyanto ; Julita ; Alijan ; Mariana ; Johanna ; Sugiharto Wicaksono ; ...
.
KRISTEN memiliki anak:
Welliam ; Jason Liong ; Hardjindro ; Paulus Tarsus ; Nely SKK ; Elen Soegi ; Riana ; Hilda ; ....
.
ISLAM memiliki anak:
Zagita Arca ; Nugroho Iman Santoso ; Muhammad Isbandy ; Asmaniar Asnif ; Rullie Setiawan; Agus Jumadi ; Ahmad Sofian ; Afiza Lubis Butet ; Awi Zhang ; Kiagus Antonius ; Castra Sukandar ; .....
.
“ANDAI” . . . . . , anak ISLAM berantem dengan anak KRISTEN, anak KATOLIK berantem dengan anak KRISTEN, anak BUDDHA berantem dengan anak HINDU, anak KEPERCAYAAN berantem dengan anak ISLAM, anak ISLAM berantem dengan saudaranya sendiri, anak KATOLIK berantem dengan saudaranya sendiri, dan seterusnya semua saling silang dengan berbagai kemungkinan dengan anak siapa mereka berantem, SIAPA YANG PALING BERSALAH?
.
Apakah yang bersalah ...
TUHAN?
KEPERCAYAAN?
HINDU?
BUDDHA?
KATOLIK?
KRISTEN?
ISLAM?
Menurut saya, yang paling bersalah adalah ke 6 anak TUHAN itu, karena itulah bukti bahwa mereka tidak bisa mendidik anak-anaknya sendiri.
.
Betul ada yang mengatakan isi atau cara pengajaran adalah salah satu tolok ukur, justru itulah kenapa tidak mencermati lagi kurikulumnya? Apakah betul kurikulum yang ditulis oleh semua anak Tuhan itu sesuai dengan petunjuk Tuhan yang memang adalah satu-satunya Bapak dari ke 6 anakNya tersebut? Apa mungkin Bapak ke 6 anak tidak menginginkan anak-anakNya baik semua, cucu-cucuNya sukses semua, rukun semua, bahagia semua? RENUNGKANLAH ....
.
Sekarang, ketika Tuhan sudah tidak ikut cawe-cawe lagi, sudah tidak memberi wejangan-wejangan lagi kepada ke 6 anakNya, kenapa tidak mengingat satu kata kunci keseragaman yang pernah diutarakan oleh Tuhan untuk 6 anakNya? Bukankah Tuhan mengutamakan KASIH? Dan itulah kata kunci yang seharusnya digunakan oleh ke 6 anakNya untuk mengoreksi kurikulum ajarannya masing-masing apakah ada yang keluar dari KASIH? Bukankah dalil KASIH itu yang memungkinkan keiginan TUHAN terlaksana yang justru demi kenyamanan semua manusia?
.
Jadi apakah tidak malu mengatakan paling baik kurikulumnya kalau menghasilkan lebih banyak anak didiknya yang berantem apalagi saling cakar-cakaran sesama saudara kandung seimannya? Sisirlah semua kurikulum kalian, karena memang kalian masing-masinglah yang pada awalnya menuliskan kurikulum kalian masing-masing itu. Kalau kalian anggap kurikulum itu murni seratus persen dari Tuhan, apakah mungkin kurikulumnya jadi berlainan? Atau karena sudah tahu Tuhan tidak mau ditanya lagi, maka kalian mengatasnamakan kurikulum itu hasil karya Tuhan? Apakah itu tidak kebangetan? Apakah bermaksud berlindung dibalik nama Tuhan untuk semua kurikulum yang walaupun itu berpotensi menimbulkan pertikaian? Apa mungkin Tuhan bermaksud mengadu domba anak cucunya sendiri? Ayolah berlogika waras dengan landasan KASIH untuk semua kurikulum pelajaran kita masing-masing. Kalau kalian tidak berani dan tidak boleh merubah kurikulum yang sudah tidak layak lagi untuk ukuran saat ini, setidaknya jangan diumbar-umbar dan diajarkan lagi, karena memang tujuan akhir ajaran adalah memanusiakan manusia agar dapat bersosialisasi kepada manusia lainnya yang dalam penggambaran artikel ini layaknya saudara dan saudara sepupu sendiri, dan semua itu dibawah naungan Tuhan sebagai GOD FATHER-nya. Kita semua sebetulnya satu darah silsilah, marga kita sama kalau kalian mau mengingat Tuhan dan menyadari silsilah yang saya gambarkan dalam artikel ini. Kenapa ada diantara kalian yang justru tidak mau disamakan Tuhannya? Jadi apakah kalian memang bukan dari silsilah yang saya wacanakan? Yakin kalian tidak tersesat? MENYEDIHKAN ...
.
Contoh ketika ada ayat yang menggambarkan persetubuhan anak dan bapak, antar saudara, dan semacamnya yang menurut kalian sangat tidak layak. Walau memang itu ada tertulis, apakah layak dianggap bahwa itu adalah kurikulum yang juga pasti diajarkan? Kenapa tidak berpikir bahwa kalau hal kejadian itu tidak pernah ada, apakah Anda dan saya menjadi sudah ada saat ini? Ingat, karena kita percaya bahwa awal dari kita adalah hanya Adam dan Hawa. Perkembangan dan tuntutan zamanlah yang membuat saat ini kita menilai bahwa itu adalah hal yang sangat mengerikan, biadab, bahkan layaknya binatang, tapi itu tetap tertulis walau saya yakin bukan merupakan kurikulum yang diajarkan. Keberanian meminggirkan kurikulum semacam itulah yang harus dilakukan pada semua “sekolahan” yang ada, itulah opini saya kalau memang ingin membuat ketentraman bersama, dan KASIH adalah kunci utama untuk menyisir seluruh isi kurikulum untuk di afkir atau setidaknya di parkir di gudang sejarah jika ada kurikulum yang bertentangan dengan kemanusiaan dan utamanya KASIH, karena bukankah TUHAN sendiri Maha Pengasih dan Maha Penyayang, apakah masuk akal kalau mengamini kurikulum sekolah-sekolah anak cucunya berisi saling bermusuhan?
.
Kalau ada diantara kalian yang berpikir untuk menyatukan hanya akan ada satu sekolahan, dan pemikiran itu dihasilkan dari kurikulum pelajaran yang kalian ikuti, jelas kurikulum kalian layak dikoreksi lagi untuk dipilah mana yang masih layak diaktifkan dan mana yang sudah layak dianggap sebagai sejarah. Karena kita sekolah disekolah tertentu atau memilih tempat sekolah itu berdasarkan “rasa”, rasa suka, rasa sesuai, rasa sreg, rasa yakin, rasa ingin, rasa setuju, rasa tidak dipaksa, rasa tidak diintimidasi, rasa tentram, rasa nyaman, rasa benar, rasa tidak sesat, rasa sesuai bakat, rasa cinta, ..... Bahkan jika ada yang tidak sekolah sekalipun, lambat laun akan diamini juga seperti yang terjadi di negara-negara maju sana, dan di negeri ini sangat mungkin juga sudah terjadi, contohnya adalah di KTPnya tertulis bersekolah disekolah A, B, C, D, E, F, .... tapi kenyataannya tidak pernah pergi bersekolah disekolahnya. Atau kalau mau contoh extrim, karena semua sekolah memang tidak pernah mengadakan ujian, apalagi mungkin semua sekolah lebih mengutamakan jumlah siswa, tak terhitung banyaknya siswa-siswa yang hanya datang kesekolah hanya sekedar ikut pelajaran ritual tanpa makna. Atau mungkin masuk sekolahnya setahun sekali atau dua kali saja. Bukankah memang tidak bisa dinilai hati dan pemikiran semua siswa?
.
Mana yang lebih baik mengaku beragama paling baik di dunia tapi berkelakuan biadab, dibandingkan dengan yang tidak beragama tapi penuh dengan welas asih dan suka menolong sesama manusia? Kalau Anda menjawab lebih baik beragama dan punya welas asih serta suka menolong sesama manusia, jelas Anda tidak paham pertanyaannya ..... hehehehehe ... karena kondisi ideal tidak perlu dimasalahkan bukan? Kalau mengacu HAM, lalu ditambah banyaknya contoh yang mengenaskan akan hasil didikan dari sekolah tertentu, di negeri ini bukan tidak mungkin lambat laun akan banyak yang terdaftar sekolah, tapi kenyataannya tidak pernah bersekolah, lalu apakah pilihan itu menjadi salah? Bukankah tujuan bersekolah adalah memanusiakan manusia, tapi kalau bersekolah justru menghasilkan hasil didiknya tidak bisa berhubungan dengan sesama manusia lainnya diluar teman sekolahnya, untuk apa lagi bersekolah disekolah semacam itu? Andai yayasan yang menaungi sekolah itu segera menyadari keadaan, yang sangat mungkin lupa mendidik guru-guru yang dimilikinya sebelum guru-guru itu sendiri mendidik murid-muridnya, saya kok yakin hasil didiknya justru akan lebih baik. Jangan lupa mengutamakan KASIH juga ketika mendidik guru-guru tersebut.
.
Karena mungkin ada yang belum menyadari bahwa semakin banyak manusia yang pendidikan sekolah formalnya semakin tinggi , ditambah perkembangan teknologi yang semakin canggih, itu mengakibatkan semakin banyak pula manusia berlogika secara rasional, dan hal itu mau atau tidak akan mendegradasi kepercayaan kepada agama. Dan pegangan paling kuat mereka adalah HAM, dan itupun rasional bukan? Tapi apakah lambat laun “sekolah-sekolah” itu akan hilang? (Jangan lupa dalam bahasan ini agama saya ibaratkan sebagai sekolah lho.) Saya yakin kok tidak, bukankah saat ini disemua sekolah juga sangat banyak muridnya yang telah berpendidikan formal sangat tinggi dan mumpuni? Semakin banyak orang-orang berpendidikan tinggi ikut masuk kesekolah tertentu, percayalah itu akan berdampak positif untuk semuanya, “untuk semuanya” maksud saya adalah juga untuk yang tidak bersekolah disekolah itu. Karena tentu saja mereka akan lebih bisa mengerti jika terjadi diskusi lintas “sekolah” untuk lebih mengedepankan logika rasional untuk menemukan titik temu yang lebih masuk akal. Dan mereka-merekalah yang juga akan merubah peradapan dari dalam walau hanya secara perlahan. Extrimisme, ketidak setaraan gender, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan HAM akan berubah, itupun kalau mereka tidak terjebak untuk menikmati kenikmatan yang menguntungkan pribadinya. Contohnya adalah, ketika ada yang pindah sekolah demi agar boleh menikmati punya istri lebih banyak, apa yang bisa kita harapkan untuk perubahan dari yang bersangkutan? Maaf, jangan marah karena terlalu sensi ya. (SPMC SW, Sabtu, 19 Desember 2015 )
.
.
Sumber gambar:
viaimoodh.blogspot .com
Friday, December 18, 2015
“MBLENGER LOGIKA KEBLINGER”
“MBLENGER LOGIKA KEBLINGER”
.
Opini Logika: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
Ngenes ketika lihat tipi dan mendengar alibi pernyataan “menyuap tidak menggunakan uang negara” dari terdakwa Prof. sangat senior yang sedang diadili tersangkut kasus penyuapan hakim pada lingkaran kasus Gubernur Sumut, GPN.
.
Saya sempat termanggu atas pernyataan profesor tersebut yang mempertanyakan kerugian negaranya dimana? Hemmm .... sepertinya itulah pernyataan yang semakin meyakinkan kita bahwa negara ini memang sudah bener-bener diambang keblinger. Profesor lho itu, banyak banget anak didiknya yang mantan magang di kantor advokatnya yang nota bene juga sudah banyak menjadi pengacara-pengacara top di negeri ini.
.
Apa bener suap yang dilakukan tidak ada kaitannya dengan uang negara? Taruhlah penyuapan itu menggunakan uang dari dompetnya, tapi apa iya jasa kepengacaraannya gratis? Padahal kasusnya sangat berkaitan dengan kasus korupsinya Gubernur Sumut - GPN, dan tentu saja uang hasil korupsi itu juga untuk membayar jasa advokat sang Profesor bukan? Lalu duit itulah yang digolongkan untuk menyuap Hakim, bukankah urutannya begitu? Kalau membela tentang kasus perceraian atau pertikaian dan tanpa dipungut biaya pengacara lalu nyogok pake duitnya sendiri, mungkin alibinya lebih rasional, walau itu juga pernyataan yang kebangetan. Nyogok kok mau dianggap benar, benar-benar tontonan keblinger oleh orang yang sudah bergelar Profesor. Masihkah kurang contoh betapa bobroknya negara ini?
.
Apakah Profesor terlalu senior sampai lupa malu, atau memang semua pengacara diharuskan tidak boleh punya malu dan tidak harus punya etika? Jadi ingat ketika pada awal masalah justru tidak mengakui tingkah penyuapan yang dilakukan anak buah adalah instruksinya, lalu berulah banyak macam ketika di tahanan, kenapa sekarang jadi ngaku kalau nyuap tidak merugikan negara? Sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu pasti jatuh juga. Tapi apakah penyuapan ini kali pertama dilakukan? Hayo siapa yang berani jawab? Dan saya tidak bertanggung jawab atas apapun jawaban kalian lho. (SPMC SW, Kamis, 17 Desember 2015.)
.
.
Sumber gambar:
Segalaberita .com
.
.
PS: Mblenger = Jenuh / Bosan
.
.
.
= = = = = = = = = = = = =
.
SYARAT MENJADI ADVOKAT
.
warga negara Republik Indonesia; bertempat tinggal di Indonesia; tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara; berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun; berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum; lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat; magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor Advokat; tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi. Hal ini senada apa yang terurai dan tercantum dalam UU Advokat Pasal 3 ayat 1.
.
.
SUMPAH ADVOKAT
.
Dalam UU Advokat mengenai penyumpahan telah diatur di Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi
(1) Sebelum menjalankan profesinya, Advokat wajib bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh-sungguh di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya.
(2) Sumpah atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1), lafalnya sebagai berikut :
“Demi Allah saya bersumpah/saya berjanji :
ü bahwa saya akan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia;
ü bahwa saya untuk memperoleh profesi ini, langsung atau tidak langsung dengan menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga;
ü bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pemberi jasa hukum akan bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab berdasarkan hukum dan keadilan;
ü bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi di dalam atau di luar pengadilan tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada hakim, pejabat pengadilan atau pejabat lainnya agar memenangkan atau menguntungkan bagi perkara Klien yang sedang atau akan saya tangani;
ü bahwa saya akan menjaga tingkah laku saya dan akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya sebagai Advokat;
ü bahwa saya tidak akan menolak untuk melakukan pembelaan atau memberi jasa hukum di dalam suatu perkara yang menurut hemat saya merupakan bagian daripada tanggung jawab profesi saya sebagai seorang Advokat.
.
(3) Salinan berita acara sumpah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) oleh Panitera Pengadilan Tinggi yang bersangkutan dikirimkan kepada Mahkamah Agung, Menteri, dan Organisasi Advokat.
.
.
NOTES:
Syarat dan Sumpah Advokat disalin dari:
Kantor Hukum Legowo & Partners
Yang dicari via Google.
Wednesday, December 16, 2015
MENYADAP ETIKA MAKELAR
MENYADAP ETIKA MAKELAR
.
Opini Wacana: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
Sadap menyadap pembicaraan diributkan untuk mengadili sidang etika, sebetulnya mereka mau menyingkap pelanggaran etika atau mengadili kasus pidana? Pelapor adanya pelanggaran etika justru diadili layaknya pesakitan, bukankah MKD diadakan untuk mengadili anggotanya, apakah lupa bahwa pengadu bukan anggota? Kalau memang pengadu mengada-ada yang tidak ada, kenapa tidak dilaporkan saja ke-kepolisian sebagai pencemaran nama baik? MKD mempermasalahkan keaslian bahan buktinya, kalau meragukan bahwa kejadian tersebut itu ada, kenapa tidak dipertemukan saja mereka yang terlibat? Atau mintakan saja penilaian antara transkrip dan rekaman asli yang ada di kejaksaan, mintakan penilaian secara resmi, kalau transkrip salah, silahkan seret pengadu kewilayah pencemaran nama baik dan fitnah. Itulah rasionalitas, apakah para Yang Mulia mau membodohi rakyat yang kalian wakili?
.
Mencermati sidang MKD oleh 17 hakim dengan sebutan “Yang Mulia”, tapi ternyata justru para yang mulia sendiri tidak paham tentang etika, saya jadi paham kenapa yang mulia tidak ada yang merasa malu? Sangat lucu dan memang menggelikan ketika sidang etika mempermasalahkan rekaman pertemuan adalah hasil sadapan, rupanya para Yang Mulia bingung dan tidak bisa membedakan mengadili etika, pidana, perdata, pencurian, susila, ....
.
Sepertinya para Yang Mulia tidak paham benar apa makna merekam atau menyadap pembicaraan, dan itu sungguh memprihatinkan. Pendapat saya tentang menyadap pembicaraan dan tidak sah adalah jika penyadapan itu dilakukan oleh yang tidak berwenang dan atau DILAKUKAN OLEH MEREKA YANG “TIDAK” TERLIBAT DALAM PEMBICARAAN YANG DISADAP. Kalau yang melakukan perekaman adalah yang terlibat pembicaraan itu sendiri, kenapa itu dianggap menyadap dan tidak sah? Menurut saya, itu adalah bagian dari pembuktian untuk memperkuat pernyataannya yang agar tidak dianggap mengada-ada. Dan bukankah makna dari MENYADAP pembicaraan adalah “MENCURI” dengar? Lalu kalau yang merekam adalah juga yang terlibat berbicara, apakah ada unsur mencuri dengar? Apakah para Yang Mulia tidak bermaksud mempermalukan diri sendiri?
.
Sadap menyadap, apa bedanya dengan fungsi CCTV? Kalau tidak merasa bersalah kenapa harus takut dianggap bermasalah? Apakah para Yang Mulia bermaksud menghalalkan perbuatan haram asal tidak ketahuan? Apakah para Yang Mulia bermaksud melindungi sejawat walau yang bersangkutan tidak beretika? Salahkah rakyat membaca bahwa para Yang Mulia yang dianggap dapat menegakkan etika justru berlaku seperti badut? Atau apakah sejatinya semua wakil rakyat (anggota DPR) adalah para badut? Apakah itupula sebabnya kalian ingin membrangus kewenangan penyadapan oleh KPK agar para perampok uang rakyat dapat selamat? Sudah sedemikian bobrokkah etika para wakil rakyat? DPR itu sejatinya Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perampok Rayat?
.
Kalau mau mencarikan jalan keluar agar DPR lebih waras, saran saya adalah berikan wadah bagi para pemain bebas sesuai nurani masing-masing anggota dewan yang berani menentang para ketua partainya, karena ketika anggota partai kampanye untuk memperebutkan kursi DPR mereka pakai dana sendiri, tentunya akan takut di recall atau dipecat oleh partainya jika berani melawan suara partai, padahal suara partai itu identik suara Ketua Umumnya. WADAH yang saya maksud adalah, aturan main (UU) agar anggota DPR tidak bisa dicopot oleh partainya, karena memang anggota DPR terpilih adalah mewakili rakyat pemilihnya, bukan mewakili partainya secara langsung, partai hanyalah kendaraan atau baju sebagai syarat untuk bisa maju ikut kompetisi, tapi rakyat yang memilihnya percaya kepada yang bersangkutan bukan utama kepada partainya. Jadi kalau ada masalah terhadap anggota DPR yang bukan karena melanggar hukum, maka anggota DPR tersebut tidak bisa direcall/dipecat oleh partainya, yang bisa adalah anggota DPR tersebut dipecat sebagai anggota partai, dan kalau itu terjadi, maka anggota partai tersebut masuk ke WADAH Fraksi Sementara yang saya maksud, jadi Wadah Fraksi Sementara di DPR bertujuan menampung semua anggota DPR yang dipecat oleh partainya sampai masa keanggotaan DPR berakhir, dan semua anggota DPR yang masuk di Wadah Fraksi Sementara tersebut tidak boleh menjadi anggota partai lain selain kembali kepartai asalnya. Dan kalau ternyata anggota DPR banyak yang masuk ke WADAH tersebut, mereka bisa membentuk Fraksi Sementara tersendiri, memilih pemimpin Fraksi Sementara, dan sebagainya. Saya yakin kalau hal itu terjadi, anggota DPR justru akan lebih berani memperjuangkan suara rakyat, lebih independen, lebih banyak yang vokal dan tidak asal membebek partainya saja. (SPMC SW, Selasa, 15 Desember 2015)
.
.
CATATAN:
Artikel kemarin yang sudah hampir kedaluwarsa karena sekarang sudah dibacakan keputusan tentang kasus “Papa Minta Saham”, saya menyayangkan kalau akhirnya nanti ternyata yang diputuskan adalah “Pelanggaran Berat”, karena hal itu masih akan ada drama yang cukup panjang, lebih praktis kalau “Pelanggaran Sedang” saja, karena pelanggaran sedang sudah cukup untuk membuat SN dicopot sebagai Ketua Dewan, dan itu sudah cukup mempermalukan yang secara otomatis akan kelimpungan sendiri sebagai anggota dewan. Pelanggaran berat mengharuskan MKD membentuk sidang panel ad hoc untuk menentukan apakah SN juga bisa dicopot sebagai anggota DPR? Yang padahal menurut saya tidak terlalu penting lagi selain juga proses terlalu panjang, selain juga lusa DPR akan reses. Semakin meyakinkan bahwa MKD memang sedang bermain politik walau dalam sidang etik. NGENES.
.
Jadi kalau selama ini melihat wakil ketua DPR (pimpinan) yang lain membela mati-matian Ketuanya, walau terkesan sangat memalukan dan memang tidak punya malu, maklumi saja, "mungkin" takut akan ikut tergusur kalau ternyata pimpinan DPR adalah merupakan paket dan ada kemungkinan harus dikocok ulang. Dan drama pencopotan anggota MKD adalah juga termasuk dramatisasi permainan politik kepentingan yang sebodo amat dengan etika kepatutan, hanya sebagai tambahan bukti tidak ada yang peduli pada rakyat yang katanya diwakili. (SW, 16/12/2015)
.
.
Sumber gambar:
www.kompasiana .com
Saturday, December 12, 2015
TUHAN ITU ESA, TAPI KENAPA ADA DIMANA-MANA?
TUHAN ITU ESA, TAPI KENAPA ADA DIMANA-MANA?
.
{ Maaf kalau LOGIKA saya "gila" atau "sesat" menurut Anda, jadi walau Anda tidak setuju dengan isi artikel saya kali ini, semoga Anda tidak ikut tersesat dalam kegilaan saya. Bagi yang fanatik akut dengan agamanya sendiri, mohon tidak ikut membaca artikel ini, berarti juga jangan memberi tanggapan kalau hanya baca judulnya saja, TQ.}
.
.
Opini Logika Sensi: (SPMC) Suhindro Wibisono.
.
.
TUHAN ITU ESA, TAPI KENAPA ADA DIMANA-MANA?
Pernyataan yang sudah seringkali kita dengar, tapi apakah Anda sudah mendapatkan keterangan yang memuaskan? Menurut LOGIKA saya, yang sangat mungkin salah atau tidak Anda suka, begini yang pernah saya kongkow dengan teman waktoe itoe ....
.
Samar-samar jadi ingat entah sudah berapa tahun yang lampau pernah diskusi dengan teman yang berinisial nama PTL, waktu itu pemahaman saya mengumpamakan seperti program komputer, google misalnya, bukankah hanya pakai metode sharing saja? Jadi ketuhanan adalah Tuhan mengcopy “embrio” kedalam inti sanubari pada setiap kehidupan manusia tentang makna Tuhan itu sendiri. Jadi makna Tuhan ada dimana-mana, itu bukan berarti Tuhan juga ada didalam botol, didalam kulkas, di alamari pakaian, dan seterusnya. Tapi karena Tuhan ada di sanubari terdalam kita, maka ketika kita ada dimanapun, berarti kita juga akan membawa embrio ketuhanan yang memang sudah dalam diri kita. Itulah sebabnya, mustahil kita dapat menipu Tuhan, karena memang ketuhanan ada didalam diri kita masing-masing. Boleh jadi koruptor/pembunuh mendapat hukuman ringan dalam berkorupsi/membunuh karena alibi meyakinkan yang diutarakan, lalu merasa sudah “bersih lagi” ketika selesai menjalani hukuman, tapi apakah Tuhan tidak paham sejatinya semua yang terjadi? Bagaimana kita menipu diri kita sendiri, karena Tuhan juga bersemayam pada diri kita masing-masing sebagai saksi? Jadi sogok’an kepada penegak hukum agar mendapat hukuman ringan, itu ejawantah dari TIDAK mempercayai adanya hukum Tuhan, banyak orang-orang semacam itu di negeri ini, justru “merasa” sangat terhormat, banyak juga di barisan terdepan ketika pada upacara keagamaan, mereka bangga dengan agamanya tapi sekaligus juga memperdaya sanubari sendiri dan berusaha menipu atau menyogok Tuhannya sendiri.
.
Dan yang terjadi kemudian adalah banyak beramal, menyumbang yatim piatu, dan sejenisnya. Berharap Tuhan mengampuni segala perbuatan curangnya, padahal uang yang untuk menyumbang adalah uang haram, Tuhan dianggap tidak paham sebab-akibat, Tuhan dianggap sangat mudah dikibuli dengan kemunafikan, bagaimana kita dapat membohongi diri sendiri? Itulah semua usaha untuk menentramkan rasa, karena sejatinya agama adalah masalah rasa dan perasaan yang menerbitkan iman untuk mengimani. Hanya kesadaran yang sehat (logika rasional) dengan pedoman KASIH itulah yang akan menyelamatkan kita di hadapan Tuhan, jadi siapa bilang beragama tidak dibutuhkan logika? Zikir adalah tuntunan pikiran agar selalu ingat ketika pikiran kita mulai memikirkan hal-hal negatif untuk kembali ke hal-hal yang positif, karena semua hal memang diawali dari pikiran kita. Zikir dalam kepercayaan lain juga banyak sekali ragamnya, bahkan kita juga bisa menciptakan “zikir” kita sendiri untuk hal-hal positip alam pemikiran kita agar selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Zikir memang butuh dihafal agar dapat lebih mudah diaplikasikan tanpa contekan, tapi yang lebih penting untuk menghalau pemikiran negatif, zikir harus selalu diingat makna kata-katanya, karena tanpa kesadaran akan makna zikir, tak ubahnya kita seperti merancu (ngigau) tanpa makna apa-apa karena pemikiran negatif tetap melanda kita walau mulut kita kenyataannya sedang ber zikir. Apakah saya salah bertutur? Mohon wawasannya bagi yang lebih ahli ...... Tq.
.
Kalau ingin terbebas dari rasa bersalah, maka jalan yang paling mungkin adalah “kesesatan”, maka ketika kita beragama dengan sesat, tujuan utamanya adalah menghilangkan rasa bersalah dengan menciptakan kebenaran semu sesuai dengan yang kita mau. Biasanya mereka menyadur ayat-ayat suci sebagai sarana pembenar tindakan mereka, lebih seringnya adalah jihad, membunuh manusia lain justru dialibikan kebenaran yang di ridho Tuhan, lebih kebacut lagi membunuh dan memerangi manusia lain dengan alibi membela Tuhannya, dan melupakan logika kebenaran bahwa manusia lain yang dibunuh atau diperangi adalah ciptaan Tuhan yang dialibikan untuk dibela itu juga. Jadi sesungguhnya yang merusak agama adalah kesesatan/penyesatan oleh ummatnya sendiri.
.
Apakah Tuhan perlu dibela, kalau mau lebih extrim, apakah pembelaan agama apapun itu layak untuk ajang penghilangan nyawa sesama manusia? Bukankah agama diadakan sebagai sarana pembentukan rohani dan moral manusia agar berbeda dengan binatang yang tidak pernah merasa bersalah ketika membunuh binatang lainnya? Kalau agama kita dijelekkan, tapi kita tetap mengimaninya sebagai jalan menuju kebaikan atau jalan menuju surga sesuai keyakinan kita, lalu apakah itu jadi sangat masalah? Yang banyak terjadi justru kita acapkali kepo terhadap agama orang lain, mengutarakan ayat-ayat yang jelas menyinggung kepercayaan orang lain, dan itu sungguh tidak etis walau ada tertulis diayat suci kitab kita. Karena sepengetahuan saya berdasar apa-apa yang pernah saya baca dan juga logika menurut saya, Tuhan itu tidak pernah membuat kitab suci apapun juga, Tuhan juga tidak pernah membuat agama apapun juga. Tuhan hanya bersabda tentang KASIH, KEBENARAN, PETUNJUK dan LARANGAN. Tuhan tidak pernah menyebut nama agama apapun juga, karena memang semuanya itu adalah kebijakan manusia “bijak” yang bermaksud agar mengajarkan sesuai kebijakan Tuhan lebih mudah dipahami secara awam oleh mereka-mereka yang suka dengan pengajaran tersebut. Lalu kenapa terjadi banyak agama atau kepercayaan, karena sabda-sabda Tuhan padamasa tertentu disabdakan sesuai jalan yang dikehendakiNya, lalu oleh kroninya yang diberi sabda itulah agama dibentuk. Jadi ajaran agama apapun itu karena memang agama adalah buatan manusia juga kitab-kitab sucinya itu adalah hasil tulisan manusia, walau memang manusia “bijak” tersebut bermaksud demi kebaikan dan demi kehendak Tuhan, tapi karena sebijak-bijaknya manusia adalah juga tetap manusia yang memang tidak sesempurna Tuhan Yang Maha Esa, maka ketidak sempurnaan hasil karyanya adalah sangat mungkin, jadi bukan tidak mungkin bahwa disemua kitab suci juga terjadi kekilafan, itu analisa saya. Maaf kalau ada yang kurang berkenan.
.
Lalu bagaimana kita tahu dan menilai ajaran Tuhan yang sebenarnya, yang tidak tercemar oleh kebijakan manusia bijak sekalipun yang ikut tercampur didalam ayat-ayat kitab suci baik karena disengaja maupun tidak, juga untuk menangkal ajaran yang disesatkan agar terlihat benar oleh pelakunya? Maksud baik belum tentu menghasilkan kebaikan, apalagi maksud tidak baik, termasuk diantaranya agar tampak kepercayaan tersebut adalah yang paling baik dan paling benar, upaya manusia bijak sekalipun perlu dibuktikan oleh waktu apakah maksud-maksud tersebut bisa sinkron dengan kehendak Tuhan yang adalah Maha Sempurna? Termasuk upaya-upaya oleh manusia yang dianggap bijak sekalipun, karena itulah mengapa tidak ada manusia yang dianggap sempurna bukan? Tolok ukurnya menurut saya adalah dasar dari sabda-sabda Tuhan yang harus kita cermati berdasarkan “konsistensi”, sekali lagi KONSISTENSI tentang sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Harap diingat, Tuhan Maha Sempurna, maknanya Tuhan memang sudah sempurna dari awal hingga akhir, jadi kalau menganggap Tuhan menyempurnakan apa yang pernah diajarkan, “silahkan renungkan”, menambahkan hal lain yang dianggap juga benar tentu berbeda dengan menyempurnakan atau mengoreksi sabdaNya sendiri. Karena juga seingat saya, dalam kitab-kitab yang pernah saya dengar dari khotbah oleh mereka yang mempercayai kitab-kitabNya, Tuhan tidak pernah membatalkan sabda-sabdaNya, tidak pernah mengoreksi, atau menyatakan tidak berlaku lagi, dan bukankah itu sebangun dengan makna Tuhan Maha Sempurna?
.
Diatas tadi sudah saya utarakan tentang dasar-dasar dari sabda Tuhan, yakni: “KASIH ; KEBENARAN ; PETUNJUK ; LARANGAN”, dan keempat hal itu bisa dilandasi dalam satu kata kunci “KASIH”, jadi kalau ingin memahami apakah ayat-ayat kitab suci kita mana yang layak kita imani, kita harus punya FILTER sendiri dengan hanya berpedoman dengan “kasih”. Larangan menipu, menyakiti, mencuri, merampok, membunuh adalah karena KASIH. Jadi kalau ada ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan dalih apapun juga, renungkanlah hal itu apakah ada landasan/kandungan kasih didalamnya? Tuhan tidak mungkin mengajarkan untuk membunuh sesama manusia apapun dalihnya, sementara Tuhan sendiri adalah juga Maha Pengampun, bukankah begitu logikanya? Jadi Kebenaran, Petunjuk dan Larangan yang ada dalam ayat-ayat kitab suci kita tanpa landasan “Kasih” sudah sepatutnya kita pertanyakan berulang kali dalam sanubari kita, apakah betul itu termasuk sabda Tuhan yang juga adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang?
.
Lalu bagaimana tentang pernyataan dalam artikel ini untuk diaplikasikan kepada manusia yang tidak beragama, yang tidak percaya akan adanya Tuhan itu sendiri?
.
(“Jadi ketuhanan adalah Tuhan mengcopy “embrio” kedalam inti sanubari pada setiap kehidupan manusia tentang makna Tuhan itu sendiri.”)
.
Ketuhanan itu artinya sangat luas, dan sekali lagi landasannya adalah “kasih”. Jadi boleh saja manusia itu merasa tidak beragama, merasa tidak mengenal Tuhan, juga tidak mempercayai adanya Tuhan. Tapi ketika manusia itu sendiri mempunyai rasa malu, rasa bersalah, rasa berterimakasih, rasa sayang menyayangi, rasa bersyukur, rasa welas-asih, bisa dipercaya dan sejenisnya, itulah sejatinya tanda-tanda Tuhan hadir dalam diri orang tersebut. Lalu bagaimana ketika ada manusia yang sangat bengis, kejam tidak berprikemanusiaan, tapi tidak bisa kita juluki sesat karena tidak percaya agama dan juga tidak percaya adanya Tuhan? Bukankah hal semacam itu juga pernah kita dengar baik dalam cerita sejarah maupun berita-berita yang entah kapan tepatnya terjadi? Hal yang memang sangat langka terjadi, seperti halnya bisakah kita membayangkan andai ada orang yang dari kecil diajarkan bahwa mencuri, merampok, membunuh adalah suatu kebenaran, lalu apakah menjadi aneh kalau hal itu dilakukan dikemudian hari oleh yang bersangkutan? Itulah pentingnya kita sebagai manusia utamanya sebagai orang tua dari anak-anak kita untuk mengajarkan “kasih” sesuai dasar ajaran dari Tuhan yang embrionya telah ditanamkan kepada kita semua sebagai manusia, embrio tersebut perlu dibina, dirawat, dan dipelihara agar tetap terjaga dan semakin berkembang sesuai makna KASIH itu sendiri. Dan untuk menjaga “kasih” itu agar tidak melenceng ukurannya adalah UNIVERSAL. Makna kasih universal adalah, kasih yang berlaku dan diterima oleh siapa saja tanpa membedakan SARA. Apakah ada yang SETUJU? Silahkan beri tanggapan kalau ingin diskusi, walau menurut Anda saya ada salah, mohon tidak caci-maki ya, TQ. (SPMC SW, Minggu, 13 Desember 2015)
.
.
Sumber gambar:
Agamabuddhaindo .wordpress .com
Subscribe to:
Posts (Atom)






