Monday, July 7, 2014

"INILAH SUSUNAN KABINET KEDUA CAPRES, TERNYATA SAMA HEBAT!?"

(Image source: sinarharapan.co)

Blogspot. Setelah lelah sebulan kampanye yang “setidaknya” menguras tenaga - emosi - biaya, kini rasa optimis layak ditanamkan dalam hati masing-masing Kubu Capres, inilah “bocoran” rasa optimis itu, susunan kabinet kedua Capres:


(PRABOWO – HATTA) << “2014~2019” > > (JOKOWI – JK)

———————————————————————————————————————

1. Menteri Dalam Negeri (MENDAGRI)
FAHRI HAMZAH, SE. || Prof. ANIES R BASWEDAN


2. Menteri Luar Negeri (MENLU)
PROF. DR. RYAAS RASYID || Prof. HIKMAHANTO JUWANA, S.H., LL.M., Ph.D.


3. Menteri Pertahanan (MENHAN)
MAYJEN  (Purn) KIVLAN ZEN, S.IP, M.Si || Jend. (Purn) RYAMIZARD RYACUDU


4. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (MENKUMHAM)
AHMAD YANI, SH., MH || Prof. DR. SALDI ISRA, SH., MPA


5. Menteri Keuangan (MENKEU)
DR. FUAD BAWAZIER || Ir. RADEN PARDEDE, Ph.D


6. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MEN-ESDM)
DR. MARZUKI ALIE || DR. RIZAL RAMLI, Ph.D


7. Menteri Perindustrian (MENPERIN)
PROF. DR. DIDIK J.RACHBINI || Prof. RHENAL KASALI, SE


8. Menteri Perdagangan (MENDAG)
HASHIM DJOJOHADIKUSUMO || AVILIANI SE, MSi


9. Menteri Pertanian (MENTAN)
DR. ALI MASYKUR MUSA || Prof. DR. Ir. NURDIN ABDULLAH, M.Agr


10. Menteri Kehutanan (MENHUT)
DR. ALI MOCHTAR NGABALIN, M.Si || M. ARIEF BUDIMAN, Ph.D


11. Menteri Perhubungan (MENHUB)
ANIS MATTA || TJAHJO KUMOLO, SH


12. Menteri Kelautan dan Perikanan (MEN-KP)
Laksdya (Purn) FREDDY NUMBERI || Laksamana (Purn) TEDJO EDHY PURDIJANTO


13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (MENAKERTRANS)
Prof. FUAD AMSYARI || RIEKE DIAH PITALOKA


14. Menteri Pekerjaan Umum (MENPU)
DR. HIDAYAT NUR WAHID || Prof. YOHANES SURYA, Ph.D


15. Menteri Kesehatan (MENKES)
Dr. DOUGLAS S. UMBOH || Dr. WARSITO PURWO TARUNO


16. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (MENDIKBUD)
FADLI ZON, SS., MSc. || Prof. DR. KEN KAWAN SOETANTO


17. Menteri Sosial (MENSOS)
Dra. RUSTRININGSIH, M.Si. || Pastor BENNY SUSETYO Pr.


18. Menteri Agama (MENAG)
Drs. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN || DR. IMAM B. PRASODJO, Ph.D


19. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MENPAREKRAF)
TANTOWI YAHYA || Prof. JOSAPHAT TETUKO SRI SUMANTYO, Ph.D


20. Menteri Komunikasi dan Informatika (MENKOMINFO)
HARY TANOESOEDIBJO || Prof. DR. KHOIRUL ANWAR


21. Menteri Sekretariat Negara (MENSETNEG)
Prof. DR. ANWAR ARIFIN || Prof. DR. MARGARITO KAMIS, SH, M.Hum.


22. Menteri Riset dan Teknologi (MENRISTEK)
Prof. DR. MARWAH DAUD IBRAHIM || Prof. NELSON TANSU, Ph.D


23. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (MEN-KUKM)
Drs. PRIYO BUDI SANTOSO || MUHAIMIN ISKANDAR, S.IP., M.IKom.


24. Menteri Lingkungan Hidup (KEMEN-LH)
RHOMA IRAMA || AKBAR FAISAL


25. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MEN-PPPA)
NURUL ARIFIN || Dra. KHOFIFAH INDAR PARAWANSA 


26. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MEN-PANRB)

Prof. DR. BHATIAR EFFENDY || DR.Ir. PRAMONO ANUNG, MM


27. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (MEN-PDT)
Prof. DR. PRIJONO TJIPTOHERIJANTO || MARWAN JAFAR, SE, SH, BBA


28. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (MEN-PPN)
DR. HIDAYAT NUR WAHID || DR. KURTUBI, SE, MSp, MSc


29. Menteri Badan Usaha Milik Negara (MEN-BUMN)
DR. IDRUS MARHAM || Prof. Dr.(H.C.) DAHLAN ISKAN


30. Menteri Perumahan Rakyat (MENPERA)
Drs. SETYA NOVANTO || ENGGARTIASTO LUKITA


31. Menteri Pemuda dan Olahraga (MENPORA)
EDHIE BASKORO YUDHOYONO, MSc. || MARUARAR SIRAIT, S.IP.


32. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (MENKO POLHUKAM)
Prof. DR. MAHFUD MD, SH., MH || Jend. (Purn) LUHUT PANDJAITAN


33. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (MENKO EKUIN)
Ir. ABURIZAL BAKRIE || DR. ICHSANUDDIN NOORSY, BSc, SH, MSi


34. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (MENKO KESRA)
Prof. DR. Ir. SYAMSUL BAHRI, MS || DR. CORNELIS LAY 


35. Sekretariat Kabinet (SETKAB)

Mayjen (Purn) SUDRAJAT || ANDI WIDJAJANTO, S.Sos., M.Sc


Itulah susunan Kabinet versi saya, walau sepertinya ngawur, setidaknya dibuat berdasarkan gosip yang beredar, dan menghadirkan yang terbaik berdasarkan perkiraan saya yang mungkin akan dilakukan oleh Capres yang bersangkutan.

 Tapi untuk Kabinet Kubu Jokowi-JK, data yang saya buat lebih banyak unsur “usulan”. Walau tahu artikel ini tidak akan mempengaruhi siapapun, tapi kalau ada nama dalam artikel ini yang ternyata menjadi Menteri, bukankah akan menyenangkan?


Banyak yang mengira Anies Baswedan layak diposisikan sebagai Menteri Pendidikan, dan sayapun juga berpendapat begitu. Tapi ada tokoh hebat anak Bangsa ini yang juga patut dipertimbangkan dijadikan Mendikbud, Prof. DR. Ken Kawan Soetanto, lahir di Surabaya, masih di Jepang, konon Kementrian Pendidikan Jepang menjadikan beliau sebagai penasehat. Ingat saya beliau mendapatkan 4 gelar Doktor pada bidang ilmu yang sangat berbeda, dan hal itu menjadikannya tokoh langka di dunia. Sangat sayang kalau tidak diminta bantuannya untuk memajukan pendidikan di Indonesia.


Walau Menteri adalah jabatan politik, tapi bolehkan Presiden memilih Menteri-nya yang bukan orang politik? Sudah saatnya Kementrian yang banyak masalah tidak dijabat oleh tokoh politik, misalnya Kementrian Agama, itulah sebabnya saya mengusulkan nama Imam B. Prasodjo.


Anies R Baswedan layak menjabat Menteri Dalam Neaggeri, karena dalam tatanan kenegaraan Mendagri kalau tidak salah ada diurutan ke tiga setelah RI-1 dan RI-2. Jadi Mendagri sebetulnya juga sangat penting bukan?


Kementrian ESDM dan Meno Ekuin harusnya diserahkan oleh mereka-mereka yang “berani” tapi bersih, dikementerian itulah beredar kabar terjadinya korupsi gila-gila’an. Siapa tahu dengan menempatkan mereka sebagai Menteri, Indonesia akan segera keluar dari keterpurukan? Dan saya memperhatikan Rizal Ramli dan Ichsanuddin Noorsy suaranya cukup nyaring, walau Rizal Ramli pernah diberi kesempatan, banyak yang mengatakan Presiden-nya ketika itu diminta untuk memecat beliau. Sekalian kita buktikan apakah betul Jokowi hanya tunduk pada Konstitusi RI? Dan juga membuktikan Menteri-Menteri tersebut betul berani atau hanya nyaring bersuara. Dan saya ada rasa optimis dengan Jokowi mengingat waktu jadi Gubernur DKI katanya juga pernah menolak bantuan asing ketika ada indikasi “akan di-dekte”. Segera waktunya pembuktian, dan semoga kita bisa bersabar karena semua itu tidak semudah membalikkan tangan, siapapun Presidennya, karena mereka yang sudah terbiasa menikmati uang haram, tentu akan dengan segala cara menghalangi.


Nama-nama tokoh lain yang dituliskan untuk Kabinet Kubu Jokowi-JK yang sepertinya sangat asing ditelinga kita, sebetulnya adalah orang-orang sukses yang sepertinya tidak butuh korupsi lagi, karena mereka adalah orang-orang yang sudah bisa sukses tanpa butuh jabatan. Yang saya maksud adalah:


Prof. DR. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr, Bupati Bantaeng, Makasar, sepertinya dari partai kompetitor, tapi lupakan saja partainya, kita sedang ingin membangun Indonesia. Ini usulan yang paling tidak populer bukan?


Muhammad Arief Budiman, Ph.D lahir di Yogya, 28 September 1970, tinggal di Amerika.


DR. Warsito Purwo Taruno lahir di Purwokerto, 15 Februari 1960.


Pastor Benny Susetyo Pr. Sepertinya ini usulan nekat, tapi beliau adalah orang Indonesia asli, lahir di Malang, 10 Oktober 1968. Saya rasa tidak ada yang salah dengan seorang Pastor, kalau sama-sama berkenan, saya justru yakin akan sangat jauh dari yang namanya korupsi.


Prof. Josaphat TS Sumantyo, Ph.D lahir di Bandung, 25 Juni 1970, tinggal di Jepang(?)


Prof. DR. Khoirul Anwar lahir di Kediri 1978, tinggal di Jepang.


Prof. Nelson Tansu, Ph.D lahir di Medan, 20 Oktober 1977, tinggal di Amerika, hebat di bidang Matematika-Elektro-Fisika


Dan saya minta maaf telah tidak adil lebih sedikit mengulas tentang Kabinet Kubu Prabowo-Hatta. (SPMC SW, Juli 2014)

——————————————————————————————————————-

(Kubu Jokowi-JK)


Dewan Penasehat Politik:

Megawati Soekarno Putri ; Prof. J.E. Sahetapy ; Prof. Ikrar Nusa Bhakti



Tim Penasehat dan Juru Bicara Presiden Bidang Politik:

Prof. Tjipta Lesmana (Koordinator semua juru bicara) ; DR. J Kristiadi



Tim Penasehat dan Juru Bicara Presiden Bidang Umum:

Eep Saefulloh Fatah ; Fadjroel Rachman ; Adian Napitupulu ; Budiman Sudjatmiko


————###———–

Sunday, June 29, 2014

"KUPAS 1001 MACAM DOSA JOKOWI PADA ULTAH AHOK HARI INI"





                             (Image source: smileyvault.com)

Blogspot. Penuh pencitraan, blusuk’an selalu membawa wartawan bayaran. Tudingan yang sudah berlangsung setelah Jokowi jadi Gubernur DKI dan waktu itu survei-nya sangat tinggi untuk digadang-gadang jadi Capres. Saya pernah mengupasnya di artikel dengan judul “Ternyata Gubernur DKI Memang Tidak becus!!” (***) Intinya adalah, hasil blusuk’an Jokowi waktu itu juga ditayangkan di TVONE, juga disemua tipi dan juga semua media berita. Jadi kalau dituding membawa wartawan bayaran, ya tidak salah …..kalau tidak mendapat bayaran …..kasihan keluarganya wartawan mau dikasih makan apa? Tapi yang pasti bukan Jokowi yang bayar gaji mereka, karena mereka bukan karyawannya Jokowi, dan Jokowi juga tidak punya tipi maupun koran berita. Kalau ada kecurangan, kalau tuduhannya benar, apakah yang punya media-media itu akan mendiamkan? GOSIP!

Jokowi sudah disumpah dan pernah berjanji akan menjadi Gubernur selama 5 tahun.
Semua pemegang jabatan di Negeri ini akan disumpah semacam itu. Maka ketika Jokowi belum selesai jadi Walikota Solo, ada yang merasa sangat berjasa karena katanya beliau-lah yang mengusulkan agar Jokowi dijadikan Gubernur di DKI, bagaimana logika berpikirnya? Tapi kalau mereka yang beragumentasi selalu minta dibenarkan, karena itu sudah jabatan yang kedua, apakah kalau jabatan yang kedua disumpah jabatannya dibedakan? Ada pengecualian-pengecualiannya? Juga lupa kalau ada juga Gubernur lain yang ikut Pilkada DKI. Dan juga Gubernur Jabar digadang-gadang untuk di Capres-kan. Soal mereka terlaksana atau tidak, itu urusan lain bukan? Tapi kenapa selalu ada perbedaan kalau untuk menilai Jokowi? Jokowi jadi Gubernur DKI dinominasikan oleh Partai-nya, lalu Jokowi jadi Capres juga di majukan oleh Partai-nya karena begitu banyak rakyat mendesak, saya termasuk salah satunya, dan saya punya bukti autentik untuk itu. Percayalah itu semua terjadi karena sebelum Jokowi jadi Gubernur, dan akhirnya digadang-gadang untuk di Capres-kan, survei Prabowo selalu nomor 1, dan langsung jeblok setelah kemunculan Jokowi. Walau pada banyak pernyataan Prabowo dan Kubunya tidak percaya dengan yang namanya survei, tapi praktek-nya justru sangat kawatir dengan hasil survei …..bahkan bukan tidak mungkin banyak juga menggunakan jasa survei. Entah untuk menggalang opini atau tidak.


Jokowi keturunan Cina dan silsilahnya bukan murni Muslim.
Harusnya ini tidak usah di bahas, karena kalau ditelisik lebih dalam, ternyata Kubu sebelah yang justru kena imbasnya. Sungguh ini gosip yang tidak cerdas, karena justru mempertanyakan kubu koalisi yang biasanya sangat sensi dengan gosip agama. Bukankah disana ada Rhoma Irama, PKS, FPI yang biasanya selalu mempermasalahkan dan membawa-bawa agama? Kenapa sekarang tidak menelisik Capres-nya sendiri?


Jokowi korupsi bus karatan.
Sementara Kejaksaan Agung menyatakan tidak ada indikasi itu, atau setidaknya belum terbukti, maka ketika saya pernah dengar debat Capres oleh kubunya yang biasa diadakan oleh tipi-tipi, dan mendengar Fadli Zon maupun Fahri H mendebatkan tentang hal itu, saya hampir tidak percaya ….dan mengoreksi ingatan saya bahwa mereka-mereka itu orang hebat. Atau orang hebat sekalipun ternyata bisa terlihat memalukan kalau dilanda gundah karena takut jagoannya kalah? Padahal ada Ahok yang merupakan kader partai Gerindra dalam Kubu Prabowo, kalau mau cerdas ….tanya saja “borok”nya Jokowi ….siapa tahu ada yang lain …. dari pada melempar gosip Jokowi korupsi bus karatan, karena itu tampak seperti orang-orang yang tidak paham hukum, padahal ada Prof. Mahfud MD sebagai ketua Tim pemenangan. Sudah hampir 2 tahun Jokowi kerja sama dengan Ahok, bukan tidak mungkin Ahok akan menemukan borok-nya Jokowi bukan? Hayo …berterimakasihlah atas info ini, dan segera lakukan …..


Transkrip perbincangan Jaksa Agung dan Megawati untuk tidak mengusut Jokowi.
Hal-hal yang sebetulnya lebih menjerumuskan kubu sendiri. Kenapa ya kok selalu melempar gosip yang bertujuan memfitnah dengan bukti yang direkayasa? Kalau kenyataan itu ada, pasti Prof. Mahfud MD, Fadli Zon, Fahri H akan turun tangan sendiri dengan bukti yang sepenting itu. Apakah itu tanda-tanda sedang frustasi?


Jokowi tidak becus mengurus Solo, Keuangan DKI juga bermasalah, penyerapan Anggaran di DKI tidak maksimal, dan lain-lain.
Saya bilang inilah hal-hal yang semikin menunjukkan ke galauan, tuduhan-tuduhan itu selain dilemparkan oleh orang-orang hebat yang tersebut diatas, juga oleh Prof. Amin Rais. Bagaimana ya merekayasa rakyat yang memilih Jokowi untuk periode ke 2 jadi Walikota? 90 persen lebih memilih Jokowi untuk periode kedua, apakah semua rakyat tertipu? Apakah Jokowi korupsi sehingga menjadi sangat kaya raya? Padahal saya pikir itulah suara tertinggi yang pernah diperoleh dalam Pemilu apapun itu, jangan-jangan itu justru rekor dunia, selain tertinggi perolehan suaranya, bisa jadi itulah salah satu politik yang tidak menggunakan uang sogok’an! Dan sungguh tidak ngaca, justru TPID memberi penghargaan kepada Jokowi yang di gosipkan tidak becus itu, Pemerintah dan BI memberi penghargaan kepada Jokowi dan disampaikan oleh Hatta Radjasa. Memalukan sekali. Lalu jawaban terbagus soal penyerapan anggaran diberikan oleh Ahok sendiri ketika saya lihat di tanyangan acara Mata Najwa: “Memang kalau anggaran tidak tersalurkan itu jelek? Jangan-jangan sudah lebih 30 tahun baru kali ini DKI memecahkan rekor. Kenapa anggaran harus selalu disalurkan kalau kita tahu itu besar kemungkinan akan dikorupsi? Pastikan dulu akan tersalur dan digunakan dengan benar.” Kurang lebih intinya begitu yang disampaikan Ahok, memang negeri ini salah kaprah, anggaran harus selalu habis walau tahu kalau disalurkan akan dikorupsi. Jangan-jangan itulah salah satu halangan yang diusahakan mati-matian supaya Jokowi tidak terpilih, sudah pasti Ahok menyusahkan koruptor yang bersumber dari APBD DKI dan Jokowi akan menyusahkan koruptor yang bersumber dari APBN.


Terlalu panjang kalau memang masih ada yang harus saya kupas dan beri tanggapan. Tapi memang saya sekarang sedang tidak ingat, tapi saya optimis bisa memberi tanggapan atas gosip yang ditebarkan atas Jokowi, kalau mau boleh mempermasalahkan di tanggapan, insha’Allah saya akan memberi jawaban hal-hal yang berkaitan dengan Jokowi. Dan percayalah saya tidak akan memberikan jawaban-jawaban yang intinya “pokoknya-pokoknya” yang tidak mendasar seperti mereka yang melemparkan gosip yang justru sangat mudah dimentahkan. (SPMC SW, Juni 2014)
.
—————————
.

Selamat Ulang Tahun Pak Ahok,
PF. 29 Juni 2014


Semoga Bapak banyak mendapat kebahagiaan dalam hidup ini.
.
—————————
 
Catatan:
Jangan heran pada banyak hal saya juga mendukung Ahok, karena saya memang mendukung personal-personal baik dan jujur, jadi saya bukan pendukung yang suka membabi-buta, atau pendukung yang berkaca-mata kuda atas suatu partai. Jadi atas pencapresan Jokowi, saya juga berterimakasih kepada Ibu Megawati, karena kalau beliau kukuh tidak mau mencalonkan, sepertinya Negeri ini semakin tidak ada harapan. Dan ucapan terimakasih saya tersebut tidak merubah status apapun terhadap Ibu Megawati selain apresiasi saya, dan masyarakat lain kalau punya pandangan sama seperti saya. Itu berarti juga bahwa “status” Bapak Prabowo tidak otomatis berubah menjadi bersih walau kenyataannya Prabowo pernah berduet dengan Megawati pada Pilpres tahun 2009 yang lalu bukan? Ayo suarakan kebenaran adalah kebenaran, tak peduli siapa mereka, apapun agamanya, dan juga apapun partainya. (SW)

————–

Friday, June 27, 2014

"PLEASE AHOK, KEEP RAHASIA JOKOWI TERLIBAT KORUPSI BUS KARATAN... (tamat kami nanti...)"

 
               (Image source: politik.kompasiana.com)

Blogspot. Ketika itu menjelang Pilkada DKI, Jokowi duet dengan Ahok mendapat serangan SARA, mereka tidak setuju kalau sampai Ahok yang bukan Muslim memimpin DKI. Lalu dihembuskanlah ayat-ayat suci, haram, murtad, dan lain-lain, kalau umat Muslim memilih pemimpin yang bukan Muslim. Tapi karena ternyata Jokowi Muslim, maka dalil tersebut tidak mutlak benar, maka dibelokkan lagi, bagaimana jika Jokowi berhalangan tetap dan juga sudah terbukti Jokowi telah meninggalkan warisan kepemimpinan kafir seperti di Solo, maka itu akan terjadi di DKI kalau memilih Jokowi-Ahok. Masuk akal dan hampir terjadi walau ternyata bukan karena berhalangan tetap.

Lalu saya jadi ingat, ketika doeloe Megawati ikut Pilpres, yang dihembuskan SARA juga, katanya Wanita tidak boleh jadi pemimpin. Sepertinya mereka-mereka itu selalu benar, walau saya jadi bingung. Lebih bingung ketika dari waktu Pilkada DKI dan Pilpres sekarang, selalu mencari-cari silsilah Jokowi, dan dihembuskan bahwa Jokowi itu bersilsilah Kristen dan atau Cina. Padahal kalau dilihat dari contoh-contoh yang ada, seperti misalnya Benazir Bhutto adalah wanita yang menjadi pemimpin dinegara yang mayoritas juga Islam. Lalu kalau Gubernur, sepertinya ada juga Gubernur di republik ini yang bukan Muslim. Bahkan Ahok juga pernah jadi Bupati di kota yang mayoritas Muslim. Apakah mereka yang memilih Benazir Bhutto dan juga yang memilih Ahok waktu jadi Bupati itu Islam-nya tidak benar? Dan yang lebih konyol, mengetahui semua tokoh Partai maupun yang tidak punya partai yang mempermasalahkan SARA itu, ternyata dalam Pilpres 2014 ini berkoalisi ke Capres yang jelas bersilsilah bukan murni Muslim. Jadi ada apa gerangan? Kenapa tidak konsisten?

Apakah mereka mempermainkan agama, memlintir agama, atau bagaimana? Yang sangat saya ingin sampaikan, pemimpin agama itu bukankah biasanya kita sebut Imam? Dan Imam itu tidak ada dalam Politik. Maka sebaiknya jangan campur adukkan agama dan politik, agama adalah sesuatu yang sangat mulia.

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, apakah situasi sekarang ini adalah kehendakNya untuk meyodorkan cermin kemereka agar segera menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dengan mencatut agama untuk ditunggangi sebagai kendaraan politik adalah salah. Islam adalah “rahmatan lil ‘alamin”, makna singkatnya adalah: “Agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.” Maka sudah bernarkah kita membawa-bawa agama Islam untuk meng-kavling tentang boleh atau tidak seseorang untuk dipilih di ranah politik? Mohon maaf kalau salah, karena memang saya sangat tidak paham tentang hal itu.

Ada yang mengatakan total uang negeri ini yang berputar di JABODETABEK ada di kisaran 70~80 persen. Saya tidak tahu apakah hal itu betul atau tidak, juga ada yang mengatakan uang “haram” atau uang liar yang biasa bisa dibuat bancaan juga sangat besar. Apakah gara-gara hal itu sehingga mereka tidak takut masuk neraka untuk memperebutkannya?

Lalu mereka berkoalisi ke Capres tertentu dengan salah satu alasan lain adalah, supaya Ahok tidak otomatis menjadi Gubernur kalau Jokowi menang, karena Ahok adalah kafir! Dan saya usil melihat dari sisi lain, Jokowi dan Ahok adalah orang-orang jujur yang berprinsif, mereka sangat berani berpegang pada konstitusi. Jadi kalau Jokowi menang, bisa jadi lahan untuk bancaan ada kemungkinan akan lenyap. Coba bayangkan, kalau mereka sudah sangat resah karena Jokowi dan Ahok memimpin DKI uang bancaan-nya sudah sangat susah, bagaimana kalau Jokowi jadi Presiden? Kalau Pemerintahan yang dalam hal ini kita lebih soroti ke Kementrian-Kementrian dipilih orang-orang yang bersih, bukankah lebih berabe? Pupus sudah rente yang bisa untuk bancaan. DKI susah karena ada Ahok, Pemerintah Pusat juga akan susah karena akan ada Jokowi. Itulah kaca-mata saya kenapa mereka mati-matian jangan sampai Jokowi menang. Bodo amat rakyat tidak sejahtera, yang penting aku makmur! Mungkin tidak sadar mereka akan melakukan itu. Dan keblingernya …..ternyata banyak yang mendukung, entah karena tidak sadar maka terjerumus atau karena merupakan bagian dari penikmat uang haram? Atau kaca-mata saya yang mulai rabun?

Untuk lebih meyakinkan ketebalan kaca mata saya, sorotan lainnya adalah: Sudahkah Anda mencermati apa yang sudah mereka perbuat terhadap Jokowi dan Ahok ketika mereka bersama menjadi pemimpin DKI. Lalu coba ingat-ingat perlakuan terhadap Gubernur-Gubernur sebelumnya yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti mereka. Padahal sangat nyata Jokowi dan Ahok jauh lebih bersih bukan? Ada yang mengecam Ahok urak’an/arogan, kasar dan lain-lain. Lalu Jokowi dituduh korupsi proyek bus Trans Jakarta, kenapa tidak tanya Ahok saja Jokowi terlibat korupsi itu atau tidak? Bukankah dalam hal Pilpres ini Bos-nya Ahok juga ikut nyapres? Jadi kalau Bos-nya yang nanya mestinya Ahok tidak akan bohong bukan? Karena kalau mereka dibilang tidak paham tentang trik semacam itu, rasanya kok mustahil bukan? Apa iya saya lebih tahu dari Fadli Zon? Impossible! Percayalah hal-hal semacam itu tidak akan dilakukan, karena mereka lebih suka ketataran gosip karena memang yang ada ya hanya gosip.  Jadi saya sangat heran ketika ada Mahasiswa demo di KPK untuk minta menangkap Jokowi, padahal Kejaksaan Agung juga sudah menyatakan tidak ada(belum ada) tanda-tanda keterlibatan Jokowi. Semoga bukan karena terima bayaran maka demo itu ada. Karena saya melihatnya sedikit rancu, kenapa kalau ada korupsi dibawah Gubernur maka Gubernurnya harus langsung ditangkap karena pasti terlibat? Kenapa waktu Menteri Agama yang sudah jelas dinyatakan tersangka oleh KPK kok tidak demo minta Presiden untuk ditangkap KPK? Apa iya mahasiswa itu sebegitu parahnya?

Duit-duit-duit, sekali lagi duit. Itulah sebabnya mereka begitu ingin melengserkan Jokowi dan Ahok, itulah motivasi paling kuat yang saya lihat dari mereka, bahkan rela menjual agamanya demi duit. Tapi sungguh kali ini mereka terjerumus dalam dilema, karena ternyata mereka terperangkap dalam SARA-nya sendiri. Maka kali ini mereka tidak tampak bersuara dengan nyata, yang ada adalah gerilya dengan tabolid hitam atau mungkin kotbah-kotbah terbatas yang tidak disebarkan dengan terbuka. Takut menepuk air dalam dulang.

Kalau memang mereka lebih peduli dengan kesejahteraan rakyat, bukankah sebetulnya mereka jangan mengecam Jokowi atau Ahok yang tujuannya untuk menjatuhkan. Saya tidak mengatakan bahwa Jokowi atau Ahok tidak boleh dikritik, bukan itu, tapi saya lebih melihat mereka sangat ingin menjatuhkan mereka berdua justru karena mereka berdua tidak bisa diajak kompromi bancak’an uang rakyat atau uang Negara! Itulah yang terjadi kalau Negeri sudah terlalu lama terlena kebobrok’an, orang jujur justru dianggap enemy. Menyedihkan sekali Bangsa ini. Coba bayangkan, kalau awalnya mereka berprinsip jangan pilih Jokowi karena Ahok otomatis akan jadi Gubernur, bukankah itu alasan yang blunder? Ternyata jadi Gubernur DKI lebih hebat dari pada jadi Presiden! Dan semua itu sangat jelas terlihat, mereka sebetulnya sangat jauh memikirkan kesejahteraan rakyat, tapi lebih tersirat memikirkan uang rakyat yang bisa dipakai bancaan, menyedihkan! Saya akhiri saja dari pada saya semakin tidak paham tentang keadaan kita sekarang. (SPMC SW, Juni 2014)
.
————————
.
 
Catatan:
Untuk mereka yang setuju dengan artikel ini, sangat senang kalau mau menyebarkan lebih luas lagi. Seperti misalnya dengan cara Copas artikelnya, publish di lapak Anda sendiri, syukur kalau mau kasih judul maupun gambar yang berbeda, siapa tahu akan lebih menarik orang untuk membaca. Dan itu lebih baik bukan? Tentu saja untuk mereka yang sepaham menginginkan Negeri tercinta ini tidak lebih lama lagi terpenjara SARA dan korupsi yang semakin merajalela. TQ. Salam 2 jari. (SW)

Thursday, June 26, 2014

"PERNYATAAN PENUTUP" DEBAT CAPRES MENGGAMBARKAN SIAPA CAPRES & TIM SUKSES

Blogspot. Kampanye Pilpres tinggal± 2 pekan lagi, sepertinya kedua pasang Capres/Cawapres akan sangat sulit untuk bisa mengunjungi seluruh pelosok masyarakat negeri ini. Walau kedua Kubu Capres sudah banyak yang mengkampanyekan Capres-nya lewat dunia maya, TIPI masih merupakan sarana yang sangat penting saat ini. Dalam hal ini Kubu nomor urut satu lebih banyak diuntungkan, karena selain didukung total TV-ONE, juga didukung oleh MNC GROUP. Sedang Kubu Capres Jokowi didukung penuh oleh METRO-TV.

Apakah ketidak seimbangan sarana tesebut menguntungkan pasangan Capres nomor satu, harusnya memang begitu, tapi berdasarkan survei yang tidak memihak, Jokowi masih lebih unggul. Kalau survei tersebut terbukti, itu menggambarkan Jokowi dikehendaki oleh lebih banyak rakyat untuk jadi Presiden.

Kampanye Pilpres tidak hanya menjual Visi-Misi, tapi yang terpenting adalah menjual figur. Itulah sebabnya REKAM JEJAK adalah penting, secanggih apapun menjual, tapi kalau yang dijual barang jelek, pastinya lebih susah laku bukan? Tapi karena kampanye bukan menjual barang, maka “Tim Sukses” sebagai tim yang mengkampanyekan Capres/Cawapres-nya tentulah amat sangat penting. Dan sejauh ini berdasar pengamatan saya, tim sukses Kubu Jokowi masih lebih unggul. Contoh penilaiannya adalah:

Penggalangan dana dari masyarakat kecil yang sangat fenomenal itu, didalamnya sekaligus memuat arti bahwa Kubu Jokowi tidak membeli suara rakyat. Dan sebetulnya tidak penting gagasannya, karena bisa jadi itu memang bukan ide original, bisa saja ada yang mengatakan menjiplak apa yang dilakukan di Amerika sana. Tapi menjadi sangat penting ketika ternyata rakyat kecil yang biasanya di konotasikan menjual suara, kini rela menyumbang! Bolehkah itu dinilai karena figur Jokowi? Pengamatan lebih lanjut yang akan mengupasnya, karena “kebetulan” pihak Kubu Prabowo juga ikut menggalang dana dari masyarakat. Jadi ayo kita nantikan laporan resminya untuk dapat menilai.

Debat Capres/Cawapres sudah tiga kali, saya tidak bermaksud menilai isi debat-nya karena sudah sangat banyak yang mengupas dan ternyata tidak ada yang unggul karena itu semua sangat tergantung dari sudut mana dan siapa yang menilai. Tapi saya sangat ingin memperhatikan “PERNYATAAN PENUTUP” dari debat-debat tersebut, dan itupun tentunya juga sangat tergantung dari sudut pandang siapa bukan? Cobalah Anda perhatikan, kata-kata yang diucapkan Jokowi walau sederhana, tapi punya konotasi yang luar biasa. Tidak panjang, sederhana, enak didengar, patriotik, menggigit, lugas dan pas! Itulah dasar lain penilaian saya tim sukses Kubu Jokowi lebih hebat. Karena “menjual” figur Jokowi dengan menggambarkan secara nyata dan menyeluruh.

Dan untuk Pak Jokowi saya ingin menyumbang kata-kata sakti yang layak disampaikan kepada rakyat:

“JIKA RAKYAT MEMBERIKAN MANDAT, SAYA AKAN MEMIMPIN PEMERINTAHAN DENGAN BERSIH, ADIL DAN TEGAS UNTUK MENCAPAI KEMAKMURAN DAN KETENTRAMAN SELURUH RAKYAT”

Salam 2 Jari.

Percayalah tidak perlu dua putaran untuk memenangkan pemilihan Presiden. (SPMC SW Juni 2014)
.
—————————

Monday, June 23, 2014

"SPMC: DENGAN CARA APAPUN JOKOWI HARUS MENANG!!"

               (Image source: kaskus.co.id)

Blogspot. “Dengan cara apapun Prabowo harus menang”, adalah pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani yang sedang hot diberitakan di tipi-tipi maupun saya baca di Kompas.com, pernyataan tersebut terlontar ketika di depan para anggota Partai Gerindra Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, di Magelang, Sabtu malam 21 Juni 2014.
 

Mungkinkah seorang Sekjen Partai kita anggap yang bersangkutan tidak paham tentang demokrasi? Oke-lah kalau misal sebelumnya kita anggap tidak paham, bukankah waktu itu di KPU ada deklarasi Capres&Cawapres untuk “Siap menang dan siap kalah” yang sudah ditanda tangani oleh para kontestan Pilpres?


Ah …..pasti akan berlalu begitu saja.


Malam ini kabarnya akan ada deklarasi dari Ruhut Sitompul untuk mendukung Jokowi, kalau itu terjadi …… sepertinya sepele, tapi dukungan Ruhut ini menurut saya belum tentu murni berkah, kalau salah memaknainya bukan tidak mungkin akan jadi musibah. Apalagi banyak sekali awak media menyimpan rekaman tentang Ruhut menghujat dan mencaci maki Jokowi sejak Pilkada DKI sampai dengan selesai Pemilu Legislatif yang lalu. Semoga kubu Jokowi arif menyikapinya, walau tidak menolak dukungan yang diberikan, tapi juga jangan memberi peran apapun kepada Ruhut. Lebih bagus kalau dukungan tersebut tidak pernah ada.


Semoga itupun juga akan berlalu begitu saja.
 

Prof. Mahfud MD kembali telah mempermalukan diri sendiri dengan meminta maaf pada keluarga Soekarno yang diterima oleh Rahmawati. Gara-garanya adalah ketika Prabowo diterpa tuduhan pelanggar HAM, maka Mahfud MD menuduh banyak tokoh “juga” pelanggar HAM, salah satu yang disebut adalah Soekarno. Padahal pernyataan tersebut menurut saya justru Mahfud MD sangat terang mengakui bahwa Prabowo memang pelanggar HAM yang disejajarkan dengan tokoh-tokoh yang disebutnya dan sekaligus meminta maysarakat memakluminya untuk juga melupakan saja. Pernyataan tersebut sama konyolnya ketika petinggi Partai Demokrat membandingkan tokoh yang korupsi dipartainya masih lebih sedikit dibanding tokoh dari partai lain. Benar-benar “gila”, atau jangan-jangan saya yang gila sendirian? Ketika Prof. Mahfud meminta maaf memang sepertinya elegan, dan memang elegan dari pada lebih dipermalukan lagi ketingkatan lain sehubungan kasusnya. Tapi sebagai seorang Profesor, apalagi ahli hukum, sungguh sangat memalukan ….. apakah tidak paham tentang kata-kata bijak: “Pikirkan dulu apa yang akan Anda ucapkan, tapi jangan ucapkan semua yang Anda pikirkan” (maaf, siapa pengarangnya?)


Dan itupun juga akan berlalu begitu saja.


Tabloid Obor Rakyat beberapa pekan membuat heboh masyarakat, isi tabloid tersebut 100 persen berisi tentang Jokowi yang serba kelam karena direkayasa dan difitnah, oleh Kubu Jokowi diadukan ke Bawaslu, lalu setelah terungkap siapa tokoh dibalik beredarnya tabloid tersebut, ada nama Setiyardi Budiono sebagai penanggung jawab dan Darmawan Sepriyossa sebagai jurnalis yang ikut membantu, tentu saja media lebih heboh mewawancarai Setiyardi, selain yang bertanggung jawab, karena dirinya mengaku sebagai Asisten Staf Khusus Presiden. Tabloid Obor Rakyat menurut pendapat Dewan Pers yang disampaikan oleh Bagir Manan adalah: “Bisa disimpulkan tabloid itu bukan produk pers”. Lalu Kubu Jokowi juga melaporkannya ke Kepolisian. Aneh menurut saya, Setiyardi mengatakan itu adalah produk jurnalis biasa, tapi pakai alamat palsu, dan sudah ada pernyataan dari Dewan Pers bahwa Tabloid Obor Rakyat adalah produk haram. Dan yang paling “gila” adalah, kurang lebih dua hari setelah huru-hara atas kemunculan Setiyardi, justru tabloid Obor Rakyat edisi ke 3 diedarkan! Ternyata tak ada yang takut dengan hukum di Negeri ini, apakah itu karena memang hukum selalu tumpul keatas? Bisa jadi cara berpikirnya mungkin gini: Toh sudah terlanjur dicetak, kalau tidak diedarkan kan mubazir. Atau jangan-jangan ada orang “besar” dibalik itu semua sehingga tidak takut hukum, atau berpikir: Pelanggaran HAM berat saja tidak ada masalah kok, lanjuuuuutt …. Lagian apa bedanya diedarkan atau tidak, sama-sama sudah membuat ribut dan juga tetap sama di permasalahkannya, tidak akan mengurangi atau menambah masalah kalau memang akan ada. Bukankah begitu juga dengan kasus Emon pelaku sodomi, saya heran kenapa tidak ada yang ingin menuntut hukuman sesuai korbannya 100 X 2 tahun misalnya, maka setidaknya Emon bisa dihukum 200 tahun. Pemikiran saya adalah, apa yang dilakukan Emon bukan tindakkan satu saat dan korban yang merasakan penderitaan juga berbeda. Jadi tidak harus disatukan. Sama seperti kalau misalnya Emon hanya melakukan sodomi pada 1 anak, bukankah Emon juga akan dituntut misalnya 2 s/d 5 tahun? Sori jadi ngelatur kemana-mana.


Apakah kasus tabloid Obor Rakyat ini juga akan padam dengan sendirinya? 


Kubu Prabowo melaporkan Wiranto ke Bawaslu sehubungan pernyataan Wiranto yang menyatakan secara terbuka bahwa Prabowo adalah pelaku pelanggaran HAM, padahal Wiranto sudah menyatakan itu adalah pernyataan pribadi sebagai mantan Pangab yang merupakan atasan Prabowo waktu Prabowo “dipecat” sebagai anggota ABRI. Kalau mau benar tuntas, bukankah seharusnya JUGA dilaporkan ke Kepolisian? 


Besar kemungkinan kasus ini juga tidak akan merubah apapun juga.


Satu lagi saja supaya tidak terlalu panjang, karena memang juga tidak tahu kasus yang lain hehehe. Saya tidak bisa membayangkan andai Ibu-nya Prabowo adalah Ibunya Jokowi, adik Prabowo adalah adik Jokowi. Anda tentu tahu kemana tujuan kupasan saya bukan? Apakah karena masalah itu sehingga Rhoma Birama tidak tampak bekerja hebat sebagai bagian team Kubu Pemenangan Prabowo? Saya hanya melihat yang bersangkutan menghibur penonton sesudah orasinya Prabowo, atau sudah kembali “kehabitat” awalnya karena tidak punya bahan untuk diserang? Atau justru takut kalau ditanya wartawan usil tentang Ibunya Prabowo? Walahualam. 


Dan ajaibnya, kok tidak ada yang mempermasalahkan tentang hal yang “sensitif” itu ya, padahal bukankah di Kubu Prabowo ada PKS dan FPI yang biasanya sangat sensi mempermasalahkan agama. Apakah sebelum bergabung mereka tidak tahu? Rasanya impossible bukan? Juga bersyukur Kubu Jokowi tidak membalas mengungkit masalah tersebut walau punya kesempatan yang sangat faktual dan tidak meng-ada-ada. Semoga dengan peristiwa kali ini Allah menunjukkan pada kita semua, jangan suka membawa-bawa agama dalam ranah politik. Karena rasanya masih terngiang ditelinga, betapa mereka sebelum-sebelumnya selalu mengatakan jangan sampai memilih pemimpin yang bukan dari keturunan agama bukan mayoritas, karena menurut kitab suci adalah bla-bla-bla! Bahkan juga sangat sering mengutip sabda-sabda Nabi. Sungguh ini adalah hikmah yang luar biasa, semoga mereka bukan karena menggadaikan ideologi, tapi kesadaran bahwa sebetulnya selama ini mereka telah “memlintir” agama untuk kepentingannya. Setidaknya ada bahan untuk kita mengingatkan siapa tahu pada pemilu-pemilu yang akan datang mereka lupa, dan mencoba menggadaikan agamanya lagi untuk kepentingan sendiri. Semoga Allah memang punya rencana yang luar biasa untuk kebangkitan Negeri ini. Sekaligus membuktikan Konstitusi Negeri ini tidak salah, semua warga negara punya hak dan kewajiban yang sama dengan tidak membeda-bedakan agama, ras, dan gender-nya. Walau tidak yakin, setidaknya saya berharap mereka tidak akan terus-terusan plin-plan. (SPMC SW, Juni 2014)

.

———————-

Catatan:

Judul Artikel ini sengaja memprovokasi supaya menarik perhatian. Tentu saja juga ada pertimbanganya, antara lain:

- Saya menjagokan Jokowi.

- Sampai dengan saat ini survei di media netral masih mengunggulkan Jokowi.

- Adanya pernyataan-pernyataan vulgar seperti awal atikel ini, maka seandainya Prabowo yang menang, akan dicurigai karena kecurangan. Dan itu akan tidak menentramkan kita semua.

- Memperhatikan dukungan yang diberikan oleh rakyat kecil dari banyak kalangan, yang justru rela menyumbang dana untuk kemenangan Jokowi. Dan itu sangat fenomenal juga anomali yang menggembirakan.

- Dan lain-lain pertimbangan.

- Mohon maaf kalau judul artikel ini ada yang tidak suka. (SW)

Saturday, June 21, 2014

"JOKOWI-JK TERLIBAT MONEY POLITICS"

               (Image source: politik.news.viva.co.id)


Blogspot. Melihat berita di tipi utamanya, dan tentu saja juga dari media-media lain, bagaimana serunya masa kampanye Pilpres kali ini, Jokowi-JK ternyata sudah terlibat politik uang, bahkan konon dua hari sebelum kampanye dimulai.

Lalu Kubu Prabowo mencoba mengadukan ke Bawaslu dan KPK, sambil berusaha meng-olok-olok dan menghina apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi-JK. Tapi mencermati perkembangan yang ada, ternyata Kubu Prabowo-Hatta justru keblinger juga terlibat politik uang tersebut.

Jadi teringat spanduk “Di Sini Menerima Serangan Fajar” yang dipasang dibeberapa daerah menjelang Pemilu Legislatif pada 9 April 2014 yang lalu, dan kini kedua Kubu Capres ternyata dengan terbuka mengajak para simpatisannya melakukan penggalangan dana!

Inilah babak baru perpolitikan dinegeri ini, luar biasa, kalau sebelum-sebelumnya rakyat menerima amplop sogok’an untuk meng-ijon-kan suaranya agar memilih tertentu, lalu sesudahnya ada pascabayar, dan kini titik balik dari itu semua, rakyat yang mengeluarkan uang untuk memberikan dukungan pada tokoh idolanya. Apakah itu semua gara-gara Jokowi? Tentu masih menjadi perdebatan terutama bagi mereka yang tidak mau mengakui tentang rekam jejak kejujuran Jokowi. Dan sejarah akan mencatat, terutama sekali dengan perbandingan jumlah penyumbang yang berhasil dikumpulkan oleh kedua Kubu Capres, dimana Jokowi-JK menamai penggalangan dananya “Rekening Gotong Royong” dan Prabowo-Hatta menamainya “Rekening Dana Aspirasi Indonesia Bangkit”.

Sejenak, ayo lupakan saja siapa trendsetter dan siapa follower dalam hal penggalangan dana, kasihan nama-nama beken di Kubu Prabowo yang sudah terlanjur membuat pernyataan yang ternyata berbalik sangat memalukan, itu semua gara-gara penggalangan dana kepada masyarakat yang juga dilakukan oleh Kubu Prabowo. Memang sesuai UU Pilpres dan peraturan KPU dana kampanye harus dilaporkan, terutama adalah menyangkut sumber dananya, tapi tidak ada anjuran untuk meminta dana dari masyarakat awam, jadi itu adalah murni kreatifitas Jokowi-JK.

Mencermati penggalangan dana oleh Kubu Jokow-JK, yang menarik tentu saja banyaknya rakyat kecil ikut menyumbang, tukang becak, tukang ojek, petani, nelayan, buruh cuci, pemulung, dan lain-lain. Sungguh ini fenomena yang luar biasa, utamanya rakyat miskinpun ikut memberikan sumbangan! Masihkah Anda tidak yakin akan apa yang dilakukan oleh rakyat kecil tersebut? Atau Anda tetap bersikukuh Jokowi telah menipu rakyat miskin itu? Rakyat kecil yang terjebak oleh tampang keluguan Jokowi? Ayolah berlogika waras, tidak memberi dukungan tidak masalah, tapi jangan melakukan fitnah, walau memang dalam masa kampanye. Dan saya merinding ketika rakyat kecil itu justru memberikan sumbangan untuk kemenangan Jokowi, bukan mengharap pemberian uang untuk memilihnya. Apakah fenomena ini menggambarkan kebangkitan rakyat yang sudah muak dan merasa tertipu dengan kenyataan yang ada selama ini? (SPMC SW, Juni 2014)


.


SELAMAT ULANG TAHUN PAK JOKOWI,
SEMOGA BANYAK MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP INI.
PF. 21 Juni 2014

.
———————-
.

“JANGAN PERMALUKAN PKS MENJILAT LUDAHNYA SENDIRI!”
.

http://t.co/7wtgpFOZs0
.
———————-

Monday, June 16, 2014

DEBAT CEPIKA-CEPIKI CAPRES RONDE-2

             (Image source: surabaya.bisnis.com)


Blogspot. Minggu, 15 Juni 2014 pukul 20:00  di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan dimulai debat Capres yang ke dua, Jokowi vs Prabowo. Disiarkan secara live oleh beberapa tipi berita dan juga TVRI. Siapa pemenangnya? Karena bukan adu tinju, tentu saja tidak ada yang bonyok kena tonjok atau KO dan dinyatakan kalah oleh wasit. Debat diadakan memang tidak cari pemenang, hanya adu gagasan dan tanding membuat pertanyaan untuk mempermalukan lawan atau memberi jawaban untuk meyakinkan publik.


Setelah semuanya selesai, lalu seperti yang sudah-sudah pada acara semacam itu, baik setelah ronde pertama tanggal 9 juni yang lalu, maupun kampanye Pilpres-Pilpres sebelumnya, yang heboh adalah pengamat, jurnalis surat kabar dan majalah, tipi-tipi yang mengadakan acara kupasan debat, juga para lovers-nya masing-masing. Mereka semua mengutarakan pendapatnya, memberi nilai siapa yang menurut mereka sebagai pemenang debat.


Setelah saya amati secara serampangan, ternyata memang tidak penting-penting amat debat, justru menuai dosa bagi para calon pemenangnya. Coba kalau Anda dapatkan rekaman debat Capres pada Pilpres-Pilpres sebelumnya, pelajari janji-janji visi misi-nya, tidak kalah hebat dan mulia-nya janji-janji tersebut dibanding dengan yang sekarang, lalu bandingkan janji-janji itu dengan keadaan Negeri ini sekarang, dimana letak keberhasilannya? Korupsi masih merajalela, bahkan tindakan anarkis dihadapan penegak hukum justru hanya ditonton oleh aparat penegak hukum itu sendiri, dan mungkin masih banyak lagi kenyataan dan janji yang tidak berbanding lurus bukan?


Mencermati perdebatan Minggu malam itu, ketika Jokowi mengutarakan tentang 2 anak cukup, sementara anaknya sendiri ada 3. Lalu klaim Prabowo yang begitu nyata bahwa UU Desa yang menghasilkan keputusan adanya bantuan 1Milyar pertahun tiap desa adalah hasil usahanya, lebih seru lagi ketika Prof. Didik J.R. di-tipi membela hal itu, sementara kesaksian dari pihak yang merasa memperjuangkan mengatakan itu adalah hasil bersama banyak partai. Lalu kalau kita cermati tipi-tipi yang sudah jelas mendukung kubu siapa, semuanya sudah pasti memenangkan jagoan yang didukungnya. Termasuk betapa serunya artikel-artikel yang dibuat oleh lovers-nya masing-masing, yang juga tentu saja memenangkan jagoannya.


Dalam debat ke dua tersebut, Jokowi menanyakan tentang TPID kepada Prabowo, menjadi banyak dibicarakan oleh masyarakat karena Prabowo kebetulan tidak paham tentang itu, memang singkatan dari TPID tidaklah terlalu penting, tapi rupanya Prabowo juga gagal menerangkan substansinya. TPID adalah Tim Pemantau dan Pengendalian Inflasi Daerah dan kebetulan Jokowi pernah mendapat penghargaan untuk itu.


Begitu juga debat tentang Ekonomi Kreatif, walau Prabowo mendukung pendapat Jokowi, itu juga tidak berarti Prabowo kalah dalam debat tersebut, karena memang sangat tergantung dari siapa yang menilainnya. Itulah gambaran nyata bahwa debat tersebut tidak ada menang atau kalah-nya, sementara kita tahu bahwa dibalik debat tersebut ada tim sukses masing-masing kubu yang memang dibentuk untuk mempersiapakan atau memoles sang jagoannya menghadapi debat.


Jadi sesungguhnya debat adalah hasil polesan, kursus kilat yang disiapkan team sukses masing-masing kubu, juga konsultan politik dengan bayaran menggiurkan. Itulah sebabnya sampai dengan detik ini, saya masih beranggapan bahwa dalam pemilihan Presiden lebih penting REKAM JEJAK dari pada debat-kusir yang juga tidak bisa ditentukan siapa pemenang debat tersebut. Bukankah rekam jejak adalah sejarah tentang siapa jagoan yang kita idolakan? Dan yang pasti rekam jejak kecil sekali karena hasil polesan.


MetroTV menayangkan gambar Prabowo tidak melayani cepika-cepiki dari Jokowi ketika Prabowo baru nyampai ruangan persiapan untuk debat. Padahal itu bukan kali pertama mereka akan melakukan cepika-cepiki, jadi kalau alasannya adalah cara yang dilakukan Jokowi tidak lazim, kenapa harus membela dengan menganggap semua pemirsa bodoh? Atau karena buru-buru jadi tidak sempat melayani? Bukankah itu alasan yang sangat tidak masuk akal? Lalu banyak yang mengatakan bahwa Prabowo penuh kepura-pura'an, karena ketika dipanggung atau ditempat yang lebih umum, menampilkan seolah-olah orang yang ramah dan hangat. Terkadang banyak hal kecil lebih bermakna sesungguhnya. Tapi sekali lagi pasti tetap ada alasan positifnya untuk lovers-nya. Yach ...begitulah kalau bukan memberi ponten tentang matematika. Juga jadi ingat ketika Prabowo memberi hormat dan menyalami Megawati di KPU tapi Megawati tetap duduk saja. Semoga Prabowo bukan karena balas dendam, karena itu sifat yang sangat menakutkan bukan? (SPMC SW, Juni 2014)
.
---------------------------
.
 
"JANGAN PERMALUKAN PKS MENJILAT LUDAHNYA SENDIRI!"
.

  http://t.co/7wtgpFOZs0
.
----------------------
.
 "PRABOWO TUNTUT FITNAH-NYA AGUM GUMELAR DKK. || DEBAT-KUSIR CA(WA)PRES RONDE-1"
.

  http://t.co/Ix2QVdSBRZ
.
-----------------