(Image source: rimanews.com)
Blogspot. Saya khawatir melihat kampanye Pilpres 2014 kali ini,
terutama sekali bagaimana kalau terjadi kebrutalan antar pendukungnya?
Saya khawatir begitu banyak tokoh yang bisa jadi lupa memprediksi karena terlalu berambisi, atau tergadainya nurani?
Saya khawatir memperhatikan peta dukungan untuk kedua Capres, maaf,
terutama dukungan dari Ulama, Kiai, Habib, dan seterusnya ......
Saya khawatir ketika "misalnya" Kiai, Ulama atau Tokoh agama dari satu
wadah besar NU sebagian memberi dukungan untuk Capres A dan sebagian
lagi Capres B. Apakah hal itu tidak rawan untuk terjadinya konflik?
Saya khawatir mereka semua lupa untuk tidak mempertaruhkan agama dalam
hingar bingar politik. Seandainya toh, tidak terjadi keributan, dan
memang itu yang saya harapkan, apakah tidak membingungkan umat ketika
Kiai A, B, C, D, E, ... mendukung Capres X, lalu Kiai yang lainnya
memberi dukungan Capres Y? Lalu semua Kiai pendukung Capres-Capres itu
mengeluarkan fatwa-fatwa yang sudah pasti berbeda sesuai dengan yang
didukungnya.
Saya khawatir terjadi bencana pada agama Rahmatan Lil 'Alamin hanya
karena banyak tokohnya lupa mengkhawatirkan. Kalau semua Capres/Cawapres
meminta dukungan kesemua orang, bisa dipahami karena memang ingin
menang, itulah sebab perlu bijaksana untuk memberi dukungan.
Terlebih lagi kalau misalnya akan mengeluarkan fatwa-fatwa yang saling
bertentangan, kasihan umat dibawah kalau sampai salah memaknainya,
semoga tidak terjadi pertikaian, karena agama memang sangat rentan
ditunggangi politik juga diselewengkan ..... Mohon maaf kalau kurang
berkenan, karena memang saya khawatir.
Saya khawatir, sungguh saya khawatir ......(SPMC SW, Juni 2014)
---------------------
"PRESIDENT IDOL"
Ayo berikan dukungan suara Anda di sini, GRATIS!
Suara Anda bisa jadi mempengaruhi "masa mengambang". Itulah sebabnya jangan biarkan jagoan Anda tertinggal.
PRABOWO atau JOKOWI?
JOKOWI atau PRABOWO?
Semuanya terserah Anda, Anda yang punya kuasa menentukan nasib mereka,
tapi setelah itu, satu dari mereka yang terpilih yang menetukan nasib
Anda selama 5 tahun kedepan. Jadi supaya tidak menyesal, perjuangkan
idola Anda, beri dukungan suara kepada siapa Anda menginginkan untuk
dipimpin.
Dan karena inilah proses demokrasi, hormati pemenangnya dengan kesatria,
legowo menerima apapun hasilnya, karena memang sejatinya kita adalah
bersaudara dengan ikatan Bhineka Tunggal Ika yang dibingkai PANCASILA
dan disatukan oleh NKRI.
.
------------------
.
TPS TERBUKA "PRABOWO VS JOKOWI", SIAPA JAGOAN ANDA?
.
http://t.co/54EM4zvwfe
.
-------------------
( 5M ) ~ SPMC = "Sudut Pandang Mata Capung" ~ yang boleh diartikan ~ "Sudut Pandang Majemuk" || MEMPERHATIKAN kebenaran-kebenaran sepele yang di-sepele-kan ; MENCARI-tahu mana yang benar-benar "benar" dan mana yang benar-benar "salah" ; MENYUARAKAN kebenaran-kebanaran yang di-gadai-kan dan ter-gadai-kan ; MENGHARAP kembali ke dasar-dasar kebenaran yang di-lupa-kan dan ter-lupa-kan ; MENOLAK membenarkan hal-hal yang tidak semestinya, menolak menyalahkan hal-hal yang semestinya. (© 2013~SW)
Friday, June 6, 2014
Thursday, June 5, 2014
TPS TERBUKA "PRABOWO VS JOKOWI", SIAPA JAGOAN ANDA?
(Image source: jurnal3.com)
Blogspot. SURVEI, satu kata yang begitu populer ketika musim pemilu dimulai. Konon ilmu ini cukup membosankan dipelajarinya, hasil survei yang biasanya digambarkan berupa statistik cukup banyak digunakan pada banyak bidang. Dan karena saya tidak pernah kuliah statistik, maka saya juga tak paham apapun tentang survei yang konon harga jualnya bisa milyar’an rupiah.
Lalu kalau saya membuat artikel tentang survei, pasti banyak kaidah yang akan tertabrak, jadi cuekin saja ya, jangan terlalu perhitunganlah sama teman sendiri. Itu lah ilmu awal terjadinya banyak korupsi dinegeri ini. KKN! (Nodong jadikan “teman sendiri” pula)
PILPRES sudah didepan mata, sebelum semakin marak di publish hasil survei yang mahal-mahal itu, ayo kita lakukan survei sendiri disini, siapa tahu bisa menggambarkan kenyataan yang akan terjadi nanti. Setidaknya juga akan menggambarkan, sebetulnya member dari Kompasianer ini banyak yang mendukung siapa?
Tanpa ba-bi-bu lagi, siapa yang akan Anda pilih/coblos pada 9 Juli 2014 di TPS?
No.1. PRABOWO - HATTA
No.2. JOKOWI - JK
Silahkan suarakan pilihan Anda di “Tanggapan” artikel ini, tanpa ba-bi-bu juga, boleh hanya menyebutkan nomornya, atau hanya nama Capresnya saja. Sekali lagi tidak perlu tanggapan tetek-bengek lainnya, tidak perlu capek-capek menulis alasan-alasan karena memang tidak dibutuhkan. Dan mohon maaf karena ini memang Polling, jadi semua tanggapan tidak mendapat tanggapan balasan. Jangan lupa bahwa satu Kompasianer hanya punya hak satu suara, itulah sebabnya untuk lebih memudahkan rekapitulasi yang nantinya juga akan saya laporkan, mohon TIDAK memberikan suara(tanggapan) berkali-kali, dan tanggapan apapun yang tidak ada hubungannya dengan maksud Polling ini akan dihapus untuk memudahkan perhitungan. (Wow ….sudah tampak serius blom?) Hasil rekapitulasi akan di publish pada hari tenang setelah gegap gempita kampanye.
Sepintas saya pernah dengar tentang peraturan publisitas hasil survei, tapi semoga survei ini tidak termasuk yang dibicarakan para elite diluaran sana. Karena memang ini tidak punya pakem apapun, dan terutama GRATIS.
—————————----
Iseng tapi Formal
Santai tapi Beneran
AYO KITA SUKSESKAN!
——————————--------
Jangan lupa kasih tahu semua sohib Anda, kerahkan semua pertemanan untuk
ikutan Polling ini agar menggambarkan dengan jelas jagoan siapa yang
akan terbaca menjadi juara sebelum Quick Count di tipi-tipi itu
ditayangkan, bukankah banyak yang bilang semakin banyak yang ikutan
survei semakin mungkin mendekati kebenaran hasilnya? Terimakasih atas
partisipasinya. (SPMC SW, Juni 2014)
.
—————–
CATATAN:
Seandainya untuk kali ini “admin” berbersar hati untuk memberikan dukungan dengan menempatkan artikel Polling ini menjadi IH, HL atau TA seperti semua artikel yang dikeluarkan oleh Kompasiana, tentu peserta surveinya akan bertambah banyak. Terimakasih kalau ternyata admin menanggapi candaan ini dengan mengabulkannya, dan semoga saya tidak kecanduan karenanya. (ngarepabis.com)
Link dibawah ini untuk menyebarkan survei, mohon bantuannya supaya hasil survei ini punya makna dan kompasiana sebagai wadah kita beranjangsana semakin menggairahkan kita semua. TQ untuk semua pendukung Polling ini. (SW)
———
.
TPS Terbuka “Prabowo VS Jokowi”, Siapa Jagoan Anda?
.
http://t.co/54EM4zvwfe
.
———
.
—————–
CATATAN:
Seandainya untuk kali ini “admin” berbersar hati untuk memberikan dukungan dengan menempatkan artikel Polling ini menjadi IH, HL atau TA seperti semua artikel yang dikeluarkan oleh Kompasiana, tentu peserta surveinya akan bertambah banyak. Terimakasih kalau ternyata admin menanggapi candaan ini dengan mengabulkannya, dan semoga saya tidak kecanduan karenanya. (ngarepabis.com)
Link dibawah ini untuk menyebarkan survei, mohon bantuannya supaya hasil survei ini punya makna dan kompasiana sebagai wadah kita beranjangsana semakin menggairahkan kita semua. TQ untuk semua pendukung Polling ini. (SW)
———
.
TPS Terbuka “Prabowo VS Jokowi”, Siapa Jagoan Anda?
.
http://t.co/54EM4zvwfe
.
———
Tuesday, June 3, 2014
SIAPA KAMPANYE "GILA RASA KEBANGSAAN?" || #KETIKA
(Image source: surabaya.bisnis.com)
Blogspot.
KETIKA hari ini hangat lagi berita tentang pembangunan mercusuar yang sudah BERHASIL didirikan tiang pancangnya oleh Malaysia di Tanjung Datu, Kalimantan, yang oleh Indonesia dinyatakan wilayah abu-abu. Itulah awal mula pemicu pengetikan artikel ini.
KETIKA Menlu kita “merasa berhasil” menghentikan pembangunan mercusuar tersebut melalui perundingan oleh pihak Malaysia, sungguh dari kaca mata saya adalah kegagalan. Pada artikel saya sebelumnya hal itu sudah saya duga, maksimal penghentian. Mengingat saya adalah rakyat biasa yang bahkan berpendidikan sangat kurang, sangat mungkin saya salah. Tapi bolehkah saya mengatakan, kalau Indonesia yakin bahwa yang dilakukan Malaysia adalah tidak benar, lenyapkan saja tiang pancang mercusuar tersebut, apapun caranya! Termasuk ketika Indonesia meyakini bahwa itu adalah wilayah abu-abu, wilayah dimana kedua belah pihak tidak boleh beraktivitas. Kalau Malaysia benar, tolong kasih tahu ke mereka untuk melanjutkan pembangunan mercusuar tersebut. Menurut logika saya, hanya ada dua pilihan, biar mereka lanjutkan atau lenyapkan. Kalau misalnya kita yakin itu wilayah NKRI, ataupun itu wilayah abu-abu dan sudah ada perjanjian sebelumnya bahwa tidak boleh melakukan kegiatan yang bersifat menetap diwilayah tersebut, lenyapkan saja tiang pancang tersebut. Tidak perlu ijin Malaysia, anggap saja bangunan tidak bertuan. Percayalah itu termasuk salah satu bagian dari penegakkan rasa Kebangsaan yang sudah hampir hilang pada diri kita semua. Kalau hal tersebut dilakukan, anehnya …saya sangat yakin Malaysia tidak akan berani perang dengan NKRI. Karena sejatinya Malaysia sudah menghitung bahwa apa yang dilakukan itu hanya akan berakhir penghentian, dan saya sangat yakin mereka sedang tersenyum menikmati kebenaran hasil prediksinya, sementara Menlu dan Pemerintah kita “merasa berhasil” menghentikan. Memilukan!
.
“GANJANG MALAYSIA!!”
.
http://t.co/QNzA2f8U2h
.
KETIKA ada penganiayaan dan juga dialami oleh wartawan KompasTV, lalu hanya berselang dua hari kemudian terdapat perusakan bangunan rumah ibadah yang “diberitakan” tidak berijin, semuanya itu terjadi di Sleman,Yogya. Kalau melihat rekaman peristiwa yang ditayangkan di tipi-tipi, dan sudah lama Pemerintah mengatakan Negara tidak boleh kalah dengan preman, justru itu membingungkan rakyat. Sebegitu tidak berdayanyakah Pemerintah ini? Lalu kesan yang diwacanakan oleh tokoh-tokoh yang berkompeten adalah: Karena mereka sedang emosi tinggi, maka tidak dilakukan penangkapan, dan itu adalah strategi. Lho lho lho …… saya jadi mikir …. bukankah strategi itu yang menyebabkan terjadinya kasus Trisakti? Yang demo tidak anarkis malah ditembak, sementara kalau anarkis malah didiamkan. Semoga itu hanya pemikiran saya yang lagi galau saja. Jadi pastinya ya salah, lupakan saja ya. Maaf kalau gitu.
KETIKA saya membaca ulang isi artikel ini sebelum di publish, apakah juga ada yang menyuarakan kegalauan senada? Yang meminta melenyapkan tiang mercusuar hasil karya Malaysia, juga yang geram melihat pembiaran kasus perusakan di Sleman, Yogya. Atau jangan-jangan saya sedang gila sendirian, gila rasa Kebangsaan, Kebangsaan yang ternyata membuat saya gila sendirian. Saya tak tahu harus mengetik apa lagi untuk menurunkan tensi ini, selain memberi jawab judul artikel ini bahwa ternyata: SAYA-lah yang KAMPANYE “GILA RASA KEBANGSAAN" itu. (SPMC SW, Juni 2014).
——————————
Catatan: Walau pemerintahan yang sekarang ibarat kapal kerem seperti yang dikatakan pada pidato Presiden SBY kemarin karena memang akan segera berakhir, semoga tergerak untuk mengukir sejarah dengan tidak hanya puas karena sudah merasa berhasil menghentikan pembangunan oleh Malaysia. Tinggalkan warisan kehormatan itu Pak, percayalah kita sedang membutuhkan. Juga kehormatan tentang Negara atau Pemerintah tidak boleh kalah dengan Preman, mohon ditambah juga tidak boleh kalah dengan OKNUM, sekalian pembuktian bahwa itu bukan hanya wacana! (Maaf kalau dianggap mendikte, SW)
.
——————–
.
(Politik Adu Domba?)
“KADO KEBRUTALAN HUT PANCASILA”
.
http://t.co/6eT9MTf95h
.
———————
Blogspot.
KETIKA hari ini hangat lagi berita tentang pembangunan mercusuar yang sudah BERHASIL didirikan tiang pancangnya oleh Malaysia di Tanjung Datu, Kalimantan, yang oleh Indonesia dinyatakan wilayah abu-abu. Itulah awal mula pemicu pengetikan artikel ini.
KETIKA Menlu kita “merasa berhasil” menghentikan pembangunan mercusuar tersebut melalui perundingan oleh pihak Malaysia, sungguh dari kaca mata saya adalah kegagalan. Pada artikel saya sebelumnya hal itu sudah saya duga, maksimal penghentian. Mengingat saya adalah rakyat biasa yang bahkan berpendidikan sangat kurang, sangat mungkin saya salah. Tapi bolehkah saya mengatakan, kalau Indonesia yakin bahwa yang dilakukan Malaysia adalah tidak benar, lenyapkan saja tiang pancang mercusuar tersebut, apapun caranya! Termasuk ketika Indonesia meyakini bahwa itu adalah wilayah abu-abu, wilayah dimana kedua belah pihak tidak boleh beraktivitas. Kalau Malaysia benar, tolong kasih tahu ke mereka untuk melanjutkan pembangunan mercusuar tersebut. Menurut logika saya, hanya ada dua pilihan, biar mereka lanjutkan atau lenyapkan. Kalau misalnya kita yakin itu wilayah NKRI, ataupun itu wilayah abu-abu dan sudah ada perjanjian sebelumnya bahwa tidak boleh melakukan kegiatan yang bersifat menetap diwilayah tersebut, lenyapkan saja tiang pancang tersebut. Tidak perlu ijin Malaysia, anggap saja bangunan tidak bertuan. Percayalah itu termasuk salah satu bagian dari penegakkan rasa Kebangsaan yang sudah hampir hilang pada diri kita semua. Kalau hal tersebut dilakukan, anehnya …saya sangat yakin Malaysia tidak akan berani perang dengan NKRI. Karena sejatinya Malaysia sudah menghitung bahwa apa yang dilakukan itu hanya akan berakhir penghentian, dan saya sangat yakin mereka sedang tersenyum menikmati kebenaran hasil prediksinya, sementara Menlu dan Pemerintah kita “merasa berhasil” menghentikan. Memilukan!
.
“GANJANG MALAYSIA!!”
.
http://t.co/QNzA2f8U2h
.
KETIKA ada penganiayaan dan juga dialami oleh wartawan KompasTV, lalu hanya berselang dua hari kemudian terdapat perusakan bangunan rumah ibadah yang “diberitakan” tidak berijin, semuanya itu terjadi di Sleman,Yogya. Kalau melihat rekaman peristiwa yang ditayangkan di tipi-tipi, dan sudah lama Pemerintah mengatakan Negara tidak boleh kalah dengan preman, justru itu membingungkan rakyat. Sebegitu tidak berdayanyakah Pemerintah ini? Lalu kesan yang diwacanakan oleh tokoh-tokoh yang berkompeten adalah: Karena mereka sedang emosi tinggi, maka tidak dilakukan penangkapan, dan itu adalah strategi. Lho lho lho …… saya jadi mikir …. bukankah strategi itu yang menyebabkan terjadinya kasus Trisakti? Yang demo tidak anarkis malah ditembak, sementara kalau anarkis malah didiamkan. Semoga itu hanya pemikiran saya yang lagi galau saja. Jadi pastinya ya salah, lupakan saja ya. Maaf kalau gitu.
KETIKA saya membaca ulang isi artikel ini sebelum di publish, apakah juga ada yang menyuarakan kegalauan senada? Yang meminta melenyapkan tiang mercusuar hasil karya Malaysia, juga yang geram melihat pembiaran kasus perusakan di Sleman, Yogya. Atau jangan-jangan saya sedang gila sendirian, gila rasa Kebangsaan, Kebangsaan yang ternyata membuat saya gila sendirian. Saya tak tahu harus mengetik apa lagi untuk menurunkan tensi ini, selain memberi jawab judul artikel ini bahwa ternyata: SAYA-lah yang KAMPANYE “GILA RASA KEBANGSAAN" itu. (SPMC SW, Juni 2014).
——————————
Catatan: Walau pemerintahan yang sekarang ibarat kapal kerem seperti yang dikatakan pada pidato Presiden SBY kemarin karena memang akan segera berakhir, semoga tergerak untuk mengukir sejarah dengan tidak hanya puas karena sudah merasa berhasil menghentikan pembangunan oleh Malaysia. Tinggalkan warisan kehormatan itu Pak, percayalah kita sedang membutuhkan. Juga kehormatan tentang Negara atau Pemerintah tidak boleh kalah dengan Preman, mohon ditambah juga tidak boleh kalah dengan OKNUM, sekalian pembuktian bahwa itu bukan hanya wacana! (Maaf kalau dianggap mendikte, SW)
.
——————–
.
(Politik Adu Domba?)
“KADO KEBRUTALAN HUT PANCASILA”
.
http://t.co/6eT9MTf95h
.
———————
BIBIT-BEBET-BOBOT (PRABOWO & KUDANYA)
(Image source: tempo.co)
Blogspot. Ketika visi-misi Prabowo tentang ekonomi kerakyatan dipertanyakan karena dihubungkan dengan koleksi kuda Prabowo yang kabarnya berharga mencapai Rp.3M per ekor, jawaban terbagus yang pernah saya dengar adalah: Kuda tersebut dibeli untuk bibit unggul (biang), sehingga keturunannya juga akan unggul sehingga bisa dijual dengan harga mahal. Dan itu justru menguntungkan, bukan pemborosan atau terkesan foya-foya ditengah banyak derita rakyat yang masih miskin. Seterusnya tentu saja saya tidak bermaksud debat soal itu, tapi saya mau mengupas tentang “bibit-bebet-bobot” sesuai judul artikel ini.
Saya melihat di tipi, betapa dengan bangga Fadli Zon menyampaikan tentang betapa hebatnya silsilah Capres Prabowo. Lalu pada kesempatan-kesempatan lain juga diwacanakan oleh Fahri Hamzah dari PKS dengan nada tinggi sesuai cirinya untuk meyakinkan kita sebagai pemirsa, oleh Ahmad Yani dari PPP, dan tokoh-tokoh lain kubu pendukung Prabowo.
Bibit-bebet-bobot, saya juga sering mendengar istilah itu, kebanyakan Orang Jawa juga menganggapnya sesuatu yang penting. Doeloe, hal tersebut sangat diutamakan dalam memilih pasangan hidup. Tapi dengan seiring perkembangan zaman, nilai tersebut agaknya sudah mulai bergeser. Terlebih lagi kalau hal itu diimplementasikan untuk memilih pemimpin, tentu saja sangat tidak cocok kecuali dalam hal kerajaan yang memang otomatis. Dan sejatinya, sangat banyak sekali apa yang kita anggap mutlak benar hari ini, akan tetap mutlak benar dikemudian hari. Seratus tahun yang lalu kalau ada yang mengatakan bahwa ada manusia datang dari bulan, pasti dianggap orang gila bukan? Dan bisa jadi seperempat abad yang lalu, masih dianggap fiksi kalau ada mobil dijalankan tanpa perlu sopir, dan sekarang sudah terjadi walau baru bisa mencapai kecepatan 40km/jam.
Saya bukan hendak menapikan sama sekali tentang bibit-bebet-bobot, tapi bermaksud memberi gambaran bahwa untuk pemilihan pemimpin hal itu ternyata justru sangat tidak pas.
Belum lama saya lihat di TVONE wawancara dengan Prabowo yang mengatakan suka sekali membaca sejarah biografi tokoh-tokoh hebat didunia, bukankah seharusnya Prabowo ingat bahwa banyak tokoh hebat didunia yang justru terlahir dari keluarga rakyat jelata? Tidak usah terlalu jauh, apakah Prabowo lupa Presiden RI ke dua Soeharto mantan mertuanya juga lahir dari keluarga sederhana? (Maaf kalau justru saya yang salah membaca sejarah, SW)
Bagi yang percaya, sejak Adam dan Hawa ada, entah sudah berapa triliun manusia pernah ada dibumi ini, tapi pengetahuan memberi penjelasan kepada kita, tidak ada manusia yang seratus persen identik walau itu saudara kembar sekalipun. Bukankah begitu? Tuhan memang luar biasa. Maka ketika kita bicara tentang bibit-bebet-bobot, sesungguhnya lahir dari keluarga hebat/priayi/ningrat/menak/bangsawan/darah biru/aristokrat dan sebagainya yang digambarkan sangat luar biasa itu, justru punya beban yang tidak ringan, tapi tidak otomatis sebagai orang hebat, bukankah manusia bukan komoditas seperti keturunan kuda mahal, atau anak keturunan anjing ras dengan bekal stambum sebagai tanda bukti?
Kalau kekayaan bukan sebagai ukuran mutlak,
tapi lebih menilai tentang prestasi, dan utamanya moral yang baik
sebagai manusia, dan ternyata moral yang baik itu mengajarkan rasa
malu, welas asih, tidak egois, tidak sadis dan seterusnya. Karena
sejatinya moral yang baik itulah yang membedakan antara manusia dan
binatang. Maka sebetulnya keluarga siapa yang lebih hebat, orang tua
Prabowo atau orang tua Jokowi? Tentu saja ukurannya adalah hasil, orang
tua Prabowo menghasilkan Prabowo, orang tua Jokowi menghasilkan Jokowi
dan juga orang tua Soeharto menghasilkan Soeharto. Nah silahkan nilai
sendiri, tapi ketika seandainya Jokowi nanti terpilih sebagai Presiden,
maka orang tua Jokowi semakin membuktikan jauh lebih hebat bukan?
Akhirnya saya harus meminta maaf atas isi artikel ini walau sebetulnya
isi artikel ini berguna untuk Kubu Jokowi maupun Kubu Prabowo. Setelah
membaca artikel ini, masihkah akan meng-agung-kan bibit-bebet-bobot?
Sebagai manusia, “STAMBUM” bukan garansi mutu, percayalah! (SPMC SW, Juni 2014)
.
—————————————-
Kivlan Zen adalah rekan Prabowo, dan posisinya sekarang adalah tokoh partai PPP koalisi kubu Prabowo untuk Capres 2014. Kalau memang secara moral ada masalah, layakkah Prabowo menjadi pemimpin Negeri ini?
——————-
.
“KIVLAN ZEN: SECARA MORAL PRABOWO BERTANGGUNG JAWAB”
.
http://t.co/14ToV3SECw
.
——————–
.
Semoga Anda masih sempat membaca, atau jangan-jangan sudah dibredel.
(SEMOGA BLOM DIHAPUS)
.
REKAM JEJAK TRAGEDI MEI ‘98
.
http://t.co/bop3ecT2eF
.
——————-
.
(AMBISIUS !) BOCORNYA PERSIAPAN PIDATO INAGURASI “PRESIDEN” JOKOWI
.
http://t.co/XmMVPef9G6
.
——————–
.
—————————————-
Kivlan Zen adalah rekan Prabowo, dan posisinya sekarang adalah tokoh partai PPP koalisi kubu Prabowo untuk Capres 2014. Kalau memang secara moral ada masalah, layakkah Prabowo menjadi pemimpin Negeri ini?
——————-
.
“KIVLAN ZEN: SECARA MORAL PRABOWO BERTANGGUNG JAWAB”
.
http://t.co/14ToV3SECw
.
——————–
.
Semoga Anda masih sempat membaca, atau jangan-jangan sudah dibredel.
(SEMOGA BLOM DIHAPUS)
.
REKAM JEJAK TRAGEDI MEI ‘98
.
http://t.co/bop3ecT2eF
.
——————-
.
(AMBISIUS !) BOCORNYA PERSIAPAN PIDATO INAGURASI “PRESIDEN” JOKOWI
.
http://t.co/XmMVPef9G6
.
——————–
Monday, June 2, 2014
KUBU JOKOWI ATAU PRABOWO, ANTI KRITIK ATAU NARSIS??
(Image source: news.detik.com)
Blogspot. Beberapa hari yang lalu melihat berita di tipi, ada beberapa orang melaporkan pasangan Capres Jokowi-JK dengan tuduhan menghimpun dana kampanye yang menurut mereka adalah gratifikasi. Begitu juga dengan pendapat salah satu ketua LSM ketika diminta tanggapannya, kalau saya tidak salah ingat namanya Ucok Khadafi. Tentu saja mereka beragumentasi UU pasal sekian - pasal sekian, karena saya tidak pernah belajar hukum tentu saja apa yang mereka katakan menguap begitu saja dari ingatan saya.
Logika saya hanya mengatakan, uang tersebut masih belum digunakan, dan sudah dinyatakan rencana kegunaannya, manajemen penangannannya, rencana auditnya, dan besaran yang akan diterimanya. Bukankah itu berarti kalau seandainya pasangan Capres Jokowi-JK tidak lolos seleksi KPU untuk resmi dinyatakan sah sebagai pasangan Capres, dana tersebut bisa dikembalikan. Lagi pula bukankah sudah dihitung dan berlogika bahwa kubu Capres Jokowi-JK mengadakan penghimpunan dana karena juga yakin lolos verifikasi. Dan itu pun juga hanya beberapa hari sebelum pengumuman oleh KPU secara final. Karena penggalangan dana tersebut diwacanakan secara terbuka oleh Jokowi, apa KPU ataupun KPK tidak tahu? Jadi kalau ada pelanggaran apakah KPU tidak akan tereak terlebih dahulu? Begitu logika saya.
Jadi saya seringkali tidak dapat memahami mereka yang melaporkan Jokowi ke KPK, sebetulnya apa ya maksudnya? Kalau hal tersebut tidak dilakukan oleh kubu Capres lawan, apakah salah kalau saya curiga mereka sebetulnya sangat narsis? Biar diliput media dan masuk tipi-kah maksudnya? Dan semua itu justru nenyiratkan ketidak kreatifan kubu lain, yang hanya bisa tereak untuk coba menghalangi. Kasihan.
Ada juga yang demo Jokowi melanggar sumpah jabatan, karena sudah disumpah waktu pelantikan untuk menjadi Gubernur selama 5 tahun …..dan yang demo saya perhatikan juga ada orang-orang pandai, pengacara ….. Dan saya lihat orang tersebut ada diantara kumpulan orang waktu deklarasi Capres Prabowo-Hatta.
Begitu sensi-nya mereka semua terhadap Jokowi, sampai lupa, hal serupa juga banyak dilakukan oleh kubu mereka. Bukankah Gubernur Jabar juga mencalonkan, kenapa tidak pernah dipermasalahkan? Soal ternyata Gubernur Jabar tidak dapat maju lebih lanjut, itu soal lain bukan? Begitu juga ketika Alex Nurdin maju sebagai Cagub DKI padahal yang bersangkutan juga masih menjadi Gubernur di Sumsel.
Ketika mereka juga demo untuk menyeret Jokowi pada kasus Bus Trans yang karatan, apa dipikir Kejagung tidak paham hukum? Dan yang lebih lucu lagi, Fadli Zon dibanyak kesempatan debat juga sering mengungkit hal-hal tersebut diatas. Padahal saya pikir beliau adalah orang hebat dengan wawasan yang mumpuni, ternyata tidak beda jauh dengan mereka-mereka yang tergolong tidak paham kebenaran logika. Dan itu semua menurut kaca mata saya sebetulnya menggambarkan kekalutan. Jokowi sebelum dicalonkan oleh PDIP, sedemikian rupa diwacanakan dengan pujian campur tekanan ketidak elok’an, sampai semua jurus dikeluarkan, adanya perjanjian batu-tulis, dan tetek-bengek yang lain, yang justru itu semua sangat gamblang terbaca “ketakutan kalah”. Tapi ternyata tetap dicalonkan juga oleh Ibu Megawati melalui PDIP. Langit serasa runtuh bagi mereka yang memang sangat menginginkan hal tersebut tidak terjadi.
Baru saja saya mendapat telepon iterlokal dari kampung halaman, tetangga rumah dikampung, namanya Bapak Kar… hanya untuk menanyakan tentang berita-berita Capres Jokowi. Lalu yang bersangkutan juga mengatakan menggalang persatuan untuk memilih Jokowi, bahkan juga kepada semua kerabatnya yang ada di luar pulau untuk ikut getok-tular, selain cukup potensial karena yang bersangkutan adalah orang lapangan. Bukan main …… Lalu saya juga menanyakan tentang gosip Agama yang dihembuskan …. Dan dijawabnya ….”Justru itu yang membuat rakyat bawah simpati kepada Jokowi”. Sungguh semua itu belum pernah saya alami, orang dikampung saya sana, bukan orang kaya, pekerja biasa yang sangat tidak enak kalau harus saya sebutkan apa pekerjaannya, interlokal saya hanya untuk mengabarkan dukungannya pada Jokowi, dan apa yang telah dilakukan, sungguh membuat bulu tangan saya merinding ketika mengetik alinea ini. Tanpa pamrih, dan saya sangat yakin tidak ada yang membayarnya atas semua yang dilakukan untuk mendukung Jokowi, itulah tambahan keyakinan saya yang sebelumnya Jokowi saya hitung menang setidaknya 60 persen, dan sampai detik ini saya belum berniat merubah pendapat tersebut. Begitu banyak rakyat kecil mengharapkan perubahan bersama Jokowi, bagaimana dengan Anda? (SPMC SW, Juni 2014)
.
———————
.
“PERAMPASAN KAMERA JURNALIS METRO REALITAS DI RUMAH POLONIA”
.
http://t.co/1YVP2O2QMb
.
———————
Sunday, June 1, 2014
(POLITIK ADU DOMBA?) "KADO KEBRUTALAN HUT PANCASILA"
(Image source: lkis.or.id)
Blogspot. Baru saja melihat berita KompasTV, di Sleman, Yogyakarta, ada perusakan Rumah Ibadah oleh sekelompok orang yang semacam “bercadar” dan ada yang memakai kopiah, dan terus terang itu adalah menyiratkan sekelompok penganut agama tertentu yang sangat kasat mata perterjemahannya. Setidaknya banyak orang awam yang akan ber-persepsi begitu.
Yang paling ngenes adalah, begitu banyak aparat keamanan yang ada hanya menonton saja. Salahkah kalau banyak yang beranggapan bahwa Negara atau Pemerintah setidaknya “membiarkan” kalau tidak boleh dibilang “merestui”? Atau Pemerintah memang begitu tidak berdayanya? Atau harus dilakukan penanganan persuasif untuk tindakan distruktif semacam itu? Kalau semuanya dibiarkan dan sepintas saya tidak melihat ada yang ditangkap, lalu dikemudian hari ada yang mempertanyakan, bagaimana mengusutnya? Ah ….. begitu banyak tanda tanya itu, inikah kado peringatan Hari Kelahiran Pancasila pada hari ini? Sepertinya saya kok harus tetap yakin untuk kali inipun semuanya itu akan diserahkan “Sang Waktu” yang diberi tugas untuk perlahan-lahan melupakannya.
Lalu kalau ada pidato kenegaraan, digambarkan betapa Pemerintah telah menjaga keamanan Negara, dan menjaga tolerensi semua warganya. Apakah itu yang mau tidak mau “harus mau” diterima sebagai pihak minoritas? Dan sesungguhnya, kalau menurut penilaian saya, Negara justru menanam “api dalam sekam” kemasyarakatnya. Pembiaran menimbulkan rasa ketidak adilan, dan ketidak adilan itulah yang menanamkan rasa hilangnya pesaudaraan yang sesungguhnya.
Sepintas dalam berita tadi disinggung karena rumah ibadah tersebut tidak ada ijinnya. Benar atau tidak tentang ijin tersebut, tidak seharusnya “oknum” menghakimi sendiri. Dan kembali saya mempertanyakan kalau toh akhirnya seperti biasa akan dilempar ke oknum, kenapa tidak dilakukan pencegahan apapun oleh aparat penegak hukumnya? Bukankah untuk membuktikan supaya agama tertentu tidak dicurigai, selayaknya “oknum-oknum” perusak tersebut ditangkap, atau memang sengaja supaya tersembunyi dibalik nama OKNUM saja untuk melindungi?
Apakah kekerasan itu juga berkaitan dengan kekerasan yang diterima wartawan KompasTV sehari sebelumnya, dan juga beberapa warga yang dianiaya. (Di Yogyakarta juga). Ayo kita tunggu penyelesaiannya, tapi jangan terlalu mengharap supaya tidak terlalu kecewa. Atau untuk kali ini punya alasan khusus, “biar saja nanti diusut oleh Presiden baru”? (SPMC SW, Juni 2014)
.
———————–
. SENSITIF || DEMO TOLAK PEMBANGUNAN GEREJA DI TANGERANG
.
http://t.co/T6teWW2Eet
.
————————
Thursday, May 29, 2014
"MENGGUGAT KREDIBILITAS KARNI ILYAS"
(Image source: ekonomi.tvonenews.tv)
Blogspot. Kalau saya tidak salah, Karni Ilyas jabatannya adalah Pemimpin Redaksi News dan Sports di TVONE. Pada tahun 2012 meraih Panasonic Gobel Awards kategori "Life Time Achievement". Lalu menjelang akhir September 2013, Sukarni Ilyas SH, menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) bidang hukum dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan salah satu alasan pemberian kehormatan tersebut adalah memiliki OTENTISITAS karya jurnalistik di bidang hukum.
Indonesia Lawyer Club (ILC) adalah salah satu acara TVONE yang populer, dan pada acara tersebut Karni Ilyas yang merangkap sebagai pembawa acaranya mendapat gelar kehormatan tambahan sebagai "President" ILC. Dan saya belum pernah melihat Program Acara ILC tersebut ditayangkan oleh tipi lain selain TVONE.
Begitu juga dengan program acara Mata Najwa milik METROTV yang juga sangat populer dan sangat identik dengan Najwa Shihab sebagai pembawa acaranya yang selalu mengawali dengan ".... sebagai tuan rumah mata najwa". Padahal dalam hati saya tanya kenapa tidak bilang "....sebagai nyonya rumah mata najwa" Hehehehe... Dan saya juga belum pernah melihat Program Acara Mata Najwa tersebut ditayangkan oleh tipi lain selain METROTV.
Sepertinya hal tayang menayangkan tersebut ada semacam kode etik-nya, mungkin dianggap sangat tabu kalau harus menayangkan program acara tipi lain. Atau dianggap sangat memalukan dan juga terkesan mengiklankan hasil karya jurnalis dari tipi lain dan itu mungkin dianggap sangat haram. Walau mungkin bisa jadi tidak ada UU-nya. Apakah begitu? Mohon pencerahannya untuk pembaca yang memahami tentang hal tersebut, TQ.
Lalu pada masa sekarang ini, masa menjelang Pilpres 2014, kita semua tahu TVONE yang dimiliki oleh ARB juga sebagai Ketum Partai Golkar dan berkoalisi dengan kubu Prabowo, tentu saja dapat dipahami kalau pemberitaan-pemberitaannya condong untuk menonjolkan segi positif kubu Prabowo. Begitu juga dengan METROTV yang dimiliki oleh Surya Paloh juga sebagai Ketum Partai NASDEM dan mendukung kubu Jokowi, tentu saja dapat dipahami kalau pemberitaan-pemberitaannya condong untuk menonjolkan segi positif kubu Jokowi.
Minggu ini beredar kehebohan rekaman wawancara JK tentang penilaiannya terhadap Jokowi. Saya melihat KOMPAS TV memberitakan tentang adanya kehebohan wawancara itu, tapi tanpa menayangkan video rekamannya, walau memang Kompas TV hanya memberitakan secukupnya, tapi menerangkan dengan jelas kapan video tersebut dibuat dan hanya memberitakan sekali karena adanya kehebohan tersebut.
Pertanyaan saya adalah, apa yang dilakukan oleh TVONE, selain menayangkan video wawancara tersebut secara lengkap, juga ber-ulang-ulang beberapa hari, dan sampai artikel ini akan saya publish masih sering sekali melihat penggalan-penggalan tayangnya, apakah rekaman wawancara tersebut hasil karya jurnalis TVONE? Apakah tidak menyalahi kode etik dan tidak memalukan? Dan saya juga tidak melihat adanya klarivikasi atas isi berita tersebut terhadap JK, apakah itu tidak menyalahi kelaziman? Keberpihakan adalah kenicayaan dan itulah sebabnya dapat dipahami, tapi apakah harus menabrak norma dan menanggalkan kredibilitas jurnalis itu sendiri? Lalu saya cari data tentang video tersebut, yang sudah diunggah di youtube adalah hasil karya "Bisnis Indonesia TV". Mohon maaf kalau salah kutip. Lalu pertanyaan berikutnya, apakah yang dilakukan di TVONE itu bukan tanggung jawab Karni Ilyas? Kalau masih menjadi tanggung jawabnya Karni Ilyas tapi merasa tidak sesuai dengan hati nuraninya, dan untuk tetap menjaga kredibilitasnya, saran saya adalah Karni Ilyas cuti sementara dari TVONE seperti Jokowi cuti jadi Gubernur DKI. Artikel ini akan saya ubah atau hapus jika ternyata saya salah data, dan itulah sebabnya mohon maaf sebelumnya. (SPMC SW, Mei 2014)
---------------------
.
"PERAMPASAN KAMERA JURNALIS METRO REALITAS DI RUMAH POLONIA"
.
http://t.co/1YVP2O2QMb
.
----------------------
Catatan:
Kalau kemarin dulu saya menulis artikel bahwa di TVONE saya tidak pernah melihat berita adanya deklarasi dukungan terhadap Jokowi, hari ini saya mulai melihat adanya berita tersebut. Bisa jadi banyak yang mengkritik sehingga ada perubahan porsi pemberitaan supaya tampak sedikit lebih elok. (SW)
Blogspot. Kalau saya tidak salah, Karni Ilyas jabatannya adalah Pemimpin Redaksi News dan Sports di TVONE. Pada tahun 2012 meraih Panasonic Gobel Awards kategori "Life Time Achievement". Lalu menjelang akhir September 2013, Sukarni Ilyas SH, menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) bidang hukum dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan salah satu alasan pemberian kehormatan tersebut adalah memiliki OTENTISITAS karya jurnalistik di bidang hukum.
Indonesia Lawyer Club (ILC) adalah salah satu acara TVONE yang populer, dan pada acara tersebut Karni Ilyas yang merangkap sebagai pembawa acaranya mendapat gelar kehormatan tambahan sebagai "President" ILC. Dan saya belum pernah melihat Program Acara ILC tersebut ditayangkan oleh tipi lain selain TVONE.
Begitu juga dengan program acara Mata Najwa milik METROTV yang juga sangat populer dan sangat identik dengan Najwa Shihab sebagai pembawa acaranya yang selalu mengawali dengan ".... sebagai tuan rumah mata najwa". Padahal dalam hati saya tanya kenapa tidak bilang "....sebagai nyonya rumah mata najwa" Hehehehe... Dan saya juga belum pernah melihat Program Acara Mata Najwa tersebut ditayangkan oleh tipi lain selain METROTV.
Sepertinya hal tayang menayangkan tersebut ada semacam kode etik-nya, mungkin dianggap sangat tabu kalau harus menayangkan program acara tipi lain. Atau dianggap sangat memalukan dan juga terkesan mengiklankan hasil karya jurnalis dari tipi lain dan itu mungkin dianggap sangat haram. Walau mungkin bisa jadi tidak ada UU-nya. Apakah begitu? Mohon pencerahannya untuk pembaca yang memahami tentang hal tersebut, TQ.
Lalu pada masa sekarang ini, masa menjelang Pilpres 2014, kita semua tahu TVONE yang dimiliki oleh ARB juga sebagai Ketum Partai Golkar dan berkoalisi dengan kubu Prabowo, tentu saja dapat dipahami kalau pemberitaan-pemberitaannya condong untuk menonjolkan segi positif kubu Prabowo. Begitu juga dengan METROTV yang dimiliki oleh Surya Paloh juga sebagai Ketum Partai NASDEM dan mendukung kubu Jokowi, tentu saja dapat dipahami kalau pemberitaan-pemberitaannya condong untuk menonjolkan segi positif kubu Jokowi.
Minggu ini beredar kehebohan rekaman wawancara JK tentang penilaiannya terhadap Jokowi. Saya melihat KOMPAS TV memberitakan tentang adanya kehebohan wawancara itu, tapi tanpa menayangkan video rekamannya, walau memang Kompas TV hanya memberitakan secukupnya, tapi menerangkan dengan jelas kapan video tersebut dibuat dan hanya memberitakan sekali karena adanya kehebohan tersebut.
Pertanyaan saya adalah, apa yang dilakukan oleh TVONE, selain menayangkan video wawancara tersebut secara lengkap, juga ber-ulang-ulang beberapa hari, dan sampai artikel ini akan saya publish masih sering sekali melihat penggalan-penggalan tayangnya, apakah rekaman wawancara tersebut hasil karya jurnalis TVONE? Apakah tidak menyalahi kode etik dan tidak memalukan? Dan saya juga tidak melihat adanya klarivikasi atas isi berita tersebut terhadap JK, apakah itu tidak menyalahi kelaziman? Keberpihakan adalah kenicayaan dan itulah sebabnya dapat dipahami, tapi apakah harus menabrak norma dan menanggalkan kredibilitas jurnalis itu sendiri? Lalu saya cari data tentang video tersebut, yang sudah diunggah di youtube adalah hasil karya "Bisnis Indonesia TV". Mohon maaf kalau salah kutip. Lalu pertanyaan berikutnya, apakah yang dilakukan di TVONE itu bukan tanggung jawab Karni Ilyas? Kalau masih menjadi tanggung jawabnya Karni Ilyas tapi merasa tidak sesuai dengan hati nuraninya, dan untuk tetap menjaga kredibilitasnya, saran saya adalah Karni Ilyas cuti sementara dari TVONE seperti Jokowi cuti jadi Gubernur DKI. Artikel ini akan saya ubah atau hapus jika ternyata saya salah data, dan itulah sebabnya mohon maaf sebelumnya. (SPMC SW, Mei 2014)
---------------------
.
"PERAMPASAN KAMERA JURNALIS METRO REALITAS DI RUMAH POLONIA"
.
http://t.co/1YVP2O2QMb
.
----------------------
Catatan:
Kalau kemarin dulu saya menulis artikel bahwa di TVONE saya tidak pernah melihat berita adanya deklarasi dukungan terhadap Jokowi, hari ini saya mulai melihat adanya berita tersebut. Bisa jadi banyak yang mengkritik sehingga ada perubahan porsi pemberitaan supaya tampak sedikit lebih elok. (SW)
Subscribe to:
Posts (Atom)






