Monday, January 9, 2017

"GAJI ISTRI MILIK ISTRI, GAJI SUAMI HAK ISTRI"


"GAJI ISTRI MILIK ISTRI, GAJI SUAMI HAK ISTRI"
.
Opini Ngasal ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Saya pernah ikutan tanda tangan saksi perjanjian harta terpisah dalam suatu pernikahan, padahal sebelumnya tidak diinfokan, entah kenapa saya juga termasuk yang ditunjuk, saya tidak tanya. Tentu saja memang itu pernikahan yang masih kerabat saya.
.
PERJANJIAN HARTA TERPISAH, sepertinya sudah bukan barang aneh saat ini, yang "iseng" pingin saya tanya, apakah boleh untuk pernikahan mereka yang muslim? Maaf, saya memang tidak paham, dan memperhatikan trendnya, saya kok menduga harta terpisah sangat mungkin haram, bukankah perjanjian harta terpisah dalam perkawinan adalah produk baru? Dan sepertinya produk kafir lagi ...... Hehehehe ... itulah dasar saya menerka perjanjian pranikah untuk harta terpisah adalah sesuatu yang haram bagi muslim, maaf kalau salah, juga maaf memang saya tidak paham bagaimana pembagian harta bagi muslim jika terjadi perceraian dalam perkawinan.
.
Harta gono-gini adalah harta bersama yang didapat ketika ikatan suami istri itu sudah terjadi dan harusnya dibagi antara suami dan istri jika terjadi perceraian, jadi harta gono-gini tidak membedakan itu hasil kerja suami atau hasil kerja istri, maka jika ada salah satu pasangan (suami atau istri) yang tidak kerja dan terjadi perceraian harusnya juga dapat harta gono-gini itu, kecuali jika dari awal pernikahan ada perjanjian harta terpisah, begitulah "pemahaman lugu ngawur" saya.
.
Apakah perjanjian harta terpisah dalam perkawinan itu etis dan penting? Itulah yang ingin saya tuliskan, karena soal hukumnya saya memang tidak paham sama sekali. Jadi artikel ini bukan patokan atau petunjuk lho ya, saya bukan sarjana hukum, jadi anggaplah ini artikel iseng saja.
.
Jika salah satu dari pasangan melakukan usaha kerja yang penuh resiko, perjanjian harta terpisah mungkin penting, sehingga jika terjadi sesuatu resiko kerugian, maka harta pasangan tidak ikut terjun bebas harus menanggung kerugian pasangannya, artinya justru keuangan keluarga tersebut terselamatkan dari kebangkrutan bukan?
.
Etis atau tidak melakukan perjanjian pra nikah yang biasanya mengatur soal harta masing-masing itu? Itu pertanyaan yang sangat sulit untuk mendapat jawaban yang pas, sama dengan mempertanyakan, apakah perceraian itu etis? Jadi etis atau tidak soal perceraian, bukankah kenyataannya sangat banyak terjadi?
.
Menurut rasa saya, seharusnya perjanjian harta terpisah ya tidak ada masalah, apalagi kalau yang wanita dari keluarga kaya atau sendirinya wanita itu yang kaya, atau setidaknya "menduga" punya masa depan cemerlang dalam karirnya, karena menurut rasa saya, justru dengan adanya perjanjian harta terpisah itu membuktikan bahwa cintanya sang pasangan bukan karena hartanya. Jadi sebetulnya tergantung sudut pandang saja, kalau mau lihat dari sudut positif, harusnya ya tidak ada masalah.
.
Masih menurut rasa saya, perjanjian harta terpisah menyambut ikatan perkawinan bagi dua pribadi yang tidak setara dalam hal harta, seharusnya tidak perlu membuat tersinggung yang merasa miskin, yang penting adalah bagaimana isi detail perjanjian itu.
.
Saya pernah dengar cerita yang lebih membuat geleng-geleng kepala soal etis atau tidaknya menyambut suatu pernikahan, tapi saya tidak bisa membuktikan apakah itu etis atau tidak karena "kebetulan" hasilnya positif. Gini ceritanya, keluarga yang pria sangat kaya, lalu pihak keluarganya (ortu) sikaya, meminta calon menantunya melakukan test kesehatan yang sangat detail, termasuk kemungkinan untuk punya keturunan atau tidak, pokoknya sangat detail lah soal kesehatan sang calon mantu ....., saya dengar ceritanya saja cukup membuat geleng-geleng kepala, dan spontanitas tanya dengan yang cerita, apakah sang pria juga melakukan test kesehatan yang sama? Lalu seandainya ada sedikit masalah tentang kesehatan sang calon mempelai wanita, apa yang akan terjadi dengan relasi mereka? Dan saya tidak mendapatkan jawabnya, karena kenyataannya perkawinan itu tetap berlangsung, yang artinya tidak ada masalah dengan kesehatan calon istri itu bukan? ADAKAH CINTA SEJATI dalam relasi itu?
.
Maka sebaiknya, dalam masa pacaran itu jangan pakai umpet-umpetan data, tanyakan saja hal-hal yang Anda ingin tahu, dan jawablah dengan terbuka dan jujur pertanyaan-pertanyaan itu. Saling terbukalah, dan itulah sebetulnya makna masa pacaran, saling mencocokkan rasa, dan saling memadukan ego apakah kalian sebetulnya bisa saling menerima satu sama lain dalam semua hal? Tapi jangan lupa, tidak ada manusia yang seratus persen klik dengan Anda, jadi kalau itu yang Anda cari, Anda tidak akan menemukannya. Menutupi sifat dengan pamer kebaikan dan selalu bersifat manis dalam pacaran, itu akan membuat kalian terkaget-kaget dikemudian hari, jadi sebaiknya apa adanya sajalah, jujur adalah hal yang sangat penting, menyesal kemudian tidak ada gunanya. Karena sebetulnya perkawinan itu juga ada unsur seperti beli lotre, setelah mengusahakan semuanya, berikutnya ya terima saja apa adanya pasangan Anda, karena memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Kalau Anda mendapat pasangan yang kurang sreg menurut rasa Anda, anggaplah itu juga karma Anda, yang artinya Tuhan menghendaki juga hal itu terjadi untuk Anda melihat kedalam diri sendiri, apa saja yang sudah Anda lakukan dalam kehidupan Anda? Bukankah Tuhan itu maha adil? Orang baik akan ketemu dengan orang baik, merasa baik terus merasa dikasih yang tidak baik, sangat mungkin itu salah tolok ukur menilai diri sendiri.
.
TAPI JANGAN NGAWUR PILIH PASANGAN HIDUP, KARENA MEMANG IKATAN PERKAWINAN ITU BUKAN LOTRE BENERAN YANG SEENAKNYA SAJA DIBUANG KESAMPAH JIKA SALAH PILIH. PERKAWINAN ADALAH JUGA MENYATUKAN KELUARGA BESAR MASING-MASING PASANGAN, MAKA HARUSNYA DITARGETKAN UNTUK SEHIDUP SEMATI, KARENA MEMANG ITU MELIBATKAN RASA YANG TIDAK AKAN BISA DIHAPUS SEUMUR HIDUP, MENYAKITI PERASAAN PASANGAN HIDUP JUGA BERARTI MENYAKITI KELUARGA BESARNYA, TERLEBIH MENYAKITI ANAK-ANAK MEREKA SENDIRI JIKA DIMILIKI.
.
Pesan saya sebelum mengakhiri artikel ini, kalau Anda keluarga kaya, bukan sangat kaya raya yang sudah tidak mempedulikan harta, kalau mau belikan anak rumah, sebaiknya belikan saja sebelum anak Anda punya pacar, karena harta gono-gini itu tidak termasuk harta yang sudah dimiliki sebelum pernikahan itu terjadi. Jadi rumah yang Anda belikan untuk anak Anda akan tetap selamat jika terjadi masalah pada kehidupan perkawinan anak Anda, maaf itu hanya sedia hujan sebelum payung (dibalik-balik agar tidak terkesan serius-serius amir boleh ya), bukan maksudnya mengharap kejadian jelek terjadi, sama seperti Anda beli premi asuransi toh? (#SPMCSW, Senin, 9 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Portal Unique
.
.
PS.
Maaf kalau judul artikelnya "tidak nyambung", seolah jebakan batman, karena memang judulnya agar menggugah pean untuk mau tahu apa isinya. (SW)

Saturday, January 7, 2017

TOLAK : KIS ; KIP ; KJS ; KJP ; ... ~ TOLAK-TOLAK-TOLAK-TOLAK !

TOLAK KARTU INDONESIA SEHAT
TOLAK KARTU INDONESIA PINTAR
TOLAK KARTU JAKARTA SEHAT
TOLAK KARTU JAKARTA PINTAR
TOLAK - TOLAK - TOLAK - TOLAK !

-------------------------------

Opini Nekat ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Kalau tidak salah ingat, ketika Ahok jadi Bapati Belitung pernah membebaskan uang biaya kesehatan, juga uang biaya sekolah, lalu saat ini bukankah sudah ada beberapa Kepala Daerah melakukan hal serupa, termasuk ingat saya Bupati Bantaeng, juga KJS dan KJP untuk DKI, maaf saya tidak hafal/tau Kepala Daerah mana lagi yang membebaskan uang sekolah dan biaya kesehatan warganya, tapi saya yakin itu ada!
.
Masih tentang sila kelima dari Pancasila kita yang adalah juga landasan kita bernegara "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA", seharusnya kartu Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat TIDAK perlu dibuat lagi! Termasuk juga KJS, KJP maupun kartu-kartu serupa yang diterbitkan oleh Kepala Daerah lainnya.
.
Gini maksud saya, seharusnya pemerintah pusat membantu membuatkan gedung sekolahnya juga rumah sakitnya, sedangkan pengoperasiannya, gaji guru untuk sekolahan dan gaji dokter untuk rumah sakit menjadi tanggung jawab APBD daerah setempat. Dan secara teknis detailnya untuk hal-hal lain bisa dirumuskan bagaimana sebaiknya. Tapi harusnya bisa, bukankah buktinya ada kepala daerah yang bisa menggratiskan untuk warganya? Jadi pemerintah pusat bisa membantu bagi daerah yang benar-benar minus, membantu pengaturan penyebaran guru atau dokternya melalui kementrian yang sesuai, termasuk juga distribusi obat-obatan yang dibutuhkan.
.
Tidak harus membuat RS yang terlalu mewah, bila perlu sengaja dibuat satu ruang untuk minimal tiga pasien sampai dengan lima pasien. Inti yang ingin saya sampaikan tentang masalah kesehatan rakyat adalah hapus saja Kartu Sehat, cukup pakai KTP saja, bagi warga negara kalau mau mendapat "gratis" pengobatan standard ya dipersilahkan berobat di wilayah masing-masing atau dimanapun di seluruh Indonesia, asal mau di rumahsakit pemerintah, kalau ingin lebih mewah dan lebih nyaman ya dipersilahkan ke RS swasta dengan berbayar sendiri.
.
Menurut saya sebaiknya pemerintah bisa membuat perusahaan asuransi khusus untuk kesehatan (BUMN), pemegang sahamnya adalah kementrian kesehatan, kementrian sosial, kementrian dalam negeri, semua pemerintahan provinsi (semua gubernur), lalu semua anggaran yang menyangkut kesehatan masyarakat selama ini duitnya dimasukkan kesitu semua. Kalau disumbang dari jatah APBD daerah-daerah yang memang mengalokasikan dana kesehatan warganya, bukankah kira-kira hampir mencukupi dananya? Perusahaan asuransi itu ketika dibuat akan langsung menjadi perusahaan asuransi terbesar didunia, karena langsung punya anggota sekitar 250juta jiwa (rakyat NKRI). Ya, semua warga negara diasuransikan saja DAN GRATIS, kalau asuransi massal semacam itu, biaya iurannya adalah sekitar 250 ribu perjiwa pertahunnya, jadi 250jt X 250rb = 62.500.000.000.000,- (62,5T) per tahun. Garansi perusahaan yang akan dibuat tidak akan rugi ..... Dan pemerintahan akan langsung terkenal di dunia, semoga Pak Jokowi berani mengimplementasikannya. Coba bayangkan betapa besar pengaruhnya dengan kehidupan masyarakat, dan betapa besarnya derap pembangunan RS RS di seluruh pelosok Indonesia, akan menyerap berapa tenaga kerja dokter, perawat dan lain-lain?
.
Tentu saja implementasinya tidak bisa sim-salabim langsung akan “lancar-jaya”, mengingat KIS ; KJS bukankah juga banyak terdapat keluhan-keluhan? Bukankah itu juga bagian dari implementasi sila ke 5 Pancasila kita, kalau tidak berani memulai kapan lagi bisa terlaksana? Kalau "perusahaan" asuransi itu langsung digelontori dana segitu tiap tahunnya (± 62,5T), bukankah bisa langsung membuat RS RS secara bersamaan di seluruh NKRI? Maka dalam waktu sekitar 3 tahun kedepan NKRI adalah negara yang akan diperbincangkan diseluruh belahan dunia, sangat mungkin Presidennya mendapat penghargaan nobel.
.
Kalau ingin menaikkan taraf hidup rakyat, pendidikan adalah salah satu jalan paling rasional. Sama metodenya seperti dengan menangani soal kesehatan, hanya kalau masalah pendidikan jangan membuat perusahaan, tapi Kartu Pintar tidak perlu dibuat, dan semua anak "WAJIB" sekolah di wilayah tinggalnya masing-masing dan GRATIS, wajibnya sampai minimal SLTP, dan gratisnya sampai SLTA, kalau mampu menggratiskan sampai kuliah ya lebih bagus. Jangan anak-anak dikasih ATM untuk beli buku, seragam, dan lain-lain. Setiap tahun seragam dibagikan gratis disekolahnya saja, juga buku-buku pegangan, bila perlu tiap hari waktu istirahat anak-anak diberi makanan bergizi, bisa berganti-ganti, hari ini kacang hijau, besok susu, lusa telor rebus, berikutnya kolak singkong/ketela, satu buah pisang, dll terserah kreasinya wilayah masing-masing.
.
Sekolah gratis adalah sekolah milik negara, jadi negara tidak ngasih subsidi ke sekolah swasta, baik swasta berbasis agama atau partikelir apapun itu namanya. Terserah rakyat mau sekolah dimana, tapi jika ada yang tidak sekolah, diwajibkan untuk sekolah, dan itulah tugas RT sampai Lurah untuk menyisir wilayah tugasnya masing-masing jika ada anak yang tidak sekolah. Jika anak-anak diwajibkan sekolah diwilayahnya masing-masing dan sekolahannya juga diadakan, bukankah transportnya jadi dekat dan lebih mudah dikoordinirnya? Juga bisa pakai sepeda tergantung kondisi wilayahnya agar anak-anak secara otomatis berolahraga, dan itu akan menyehatkan bukan?
.
Kalau dua hal itu dilaksanakan oleh pemerintah, saya hakul yakin 10 tahun lagi NKRI sudah akan menjelma menjadi negara hebat, tapi untuk melaksanakan itu semua, yang tidak kalah pentingnya adalah data kependudukan yang akurat. Bagaimana menurut Anda? Apakah mimpi saya terlalu muluk dan mengawang-awang yang tidak rasional? (#SPMCSW, Sabtu, 7 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Membangun Pendidikan Bangsa

----------

Thursday, January 5, 2017

"AHOK NGEDUMEL PEJABATNYA BANYAK DICOPOT"

"AHOK NGEDUMEL PEJABATNYA BANYAK DICOPOT"
.
Opini & Berita ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Ketika waktu itu PLT Gubernur DKI merombak draf APBD DKI 2017 Gubernur yang sedang cuti karena menurutnya "blom di komunikasikan dengan DPRD" , hemmm ... sepertinya masuk akal walau ketika itu saya blom dengar apa tanggapan Gubernur yang sedang cuti ....
.
Tadi saya mendengar komentar dari Gubernur Ahok yang sedang cuti soal adanya beberapa pejabat yang dicopot, saya ikut gemes juga jika benar apa yang dinyatakan Pak Ahok.
.
Menurut Pak Ahok, pejabat yang dipecat justru yang berkinerja baik, dan ngenesnya ada beberapa digantikan oleh mereka yang pernah dipecat Ahok! Hemmmmm ...... kalau itu betul terjadi, jelas PLT yang menggantikan Ahok kurang paham manajemen. Wong sudah jelas pernah dipecat kok menjabat lagi? Ada apa ini? Itu jelas bermuatan politis atau KKN, begitu kalau menurut saya.
.
Masih menurut Ahok, alasan pemecatannya adalah juga karena pendidikan formal pejabatnya tidak sesuai dengan jabatan, seperti pimpinan yang membawahi PU yang kalau tidak salah ingat tadi dinyatakan karena sarjana sosial, padahal kata Ahok justru kinerjanya sangat baik. Tambah Ahok dengan nada tanya, "kenapa semua pejabat yang baik kinerjanya justru diganti? Apakah karena semua pejabat baik itu dituding mendukung Ahok?" Padahal menurut Ahok dengan nada gemes, "mereka itu semua bekerja untuk rakyat DKI, bukan untuk saya!!"
.
Penjelasan Ahok lebih lanjut, bukankah seharusnya semua itu pakai ukuran basis kerja atau kinerja pejabat yang bersangkutan? Ahok sedang berusaha minta bantuan ketua DPRD DKI yang siapa tahu bisa membantu menyuarakan agar tidak mencopot pejabat berkinerja baik.
.
Saya terus terang saja ikutan gemes mendengarkan penjelasan Ahok barusan, itulah sebab langsung saya tulis artikel ini. Dan saat saya tulis ini, saya percaya apa yang dinyatakan Ahok sambil menunggu siapa tahu akan ada tanggapan balik dari PLT yang menggantikan Ahok yang sedang cuti. Bagaimana dengan Anda para pembaca? (#SPMCSW, Kamis, 5 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Merdeka .com

"KEADILAN SOSIAL TIDAK HARUS KOMUNIS"

"KEADILAN SOSIAL TIDAK HARUS KOMUNIS"
.
Opini Sosial ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.

KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, itulah bunyi sila kelima dari Pancasila yang adalah pedoman bernegara dan berbangsa kita sebagai satu kesatuan dari NKRI.
.
Jika ditinjau dari "siapa yang tidak mau kerja, maka tidak berhak mendapat keadilan sosial", ya tidak salah! Tapi bukankah disitu tertulisnya "BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA", artinya tanpa kecuali bukan? Bukan bermaksud menjadikan negara ini pakai sistem komunis, tapi bukankah kenyataannya lapangan kerja juga tidak tersedia untuk mencukupi seluruh rakyat yang butuh kerja?
.
Sila ke 5 itu harusnya negara (pemerintah) menjamin kehidupan mimimum(dasar) setiap warga negaranya. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu, misalnya warga negara yang berusia mulai 20 tahun dan sedang tidak kuliah dan tidak kerja (tidak berpenghasilan), maka pemerintah memberikan uang makan mingguan sebesar 150 ribu, jadi kalau dihitung tahunan menjadi 52 X 150rb = 7.800.000.- Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta, anggaplah 10 juta jiwa, maka biaya jaminan kehidupan minimum pertahun bagi pengangguran di NKRI adalah 10jt X 7,8jt = 78.000.000.000.000. (78T)
.
Apakah terlalu besar uang 78T setahun untuk biaya keadilan sosial? Bahkan jika harus mencapai 100T sekalipun? Untuk melaksanakan hal itu, data kependudukan tentunya harus akurat, dan itu ranah kerja Mendagri bukan?
.
Ketika pemerintahan saat ini menentukan harga BBM di Papua setara dengan harga BBM di Pulau Jawa(?), itulah juga yang namanya keadilan sosial, saya sangat senang ketika hal itu diumumkan oleh Presiden Jokowi, karena kebetulan punya mimpi serupa, dan menyayangkan kenapa pemerintahan sebelumnya tidak melakukannya? Apakah hal semacam itu boleh ditafsir sebagai rasa keberpihakan seorang pemimpin?
.
Seharusnya, semua harga yang ditentukan oleh negara (pemerintah) sudah selayaknya sama dan berlaku untuk seluruh wilayah NKRI, karena bukankah itu makna kehadiran pemerintah diseluruh wilayah NKRI. Jadi untuk harga komoditas bahan pokok, jika harga itu ditentukan oleh pemerintah, sudah selayaknya harganya sama bagi seluruh wilayah NKRI, itu menurut rasa saya ejawantah sila ke 5 dari Pancasila kita. Maaf jika saya ngaco lagi, pan saya hanya mengutarakan berdasar rasa saya yang sangat mungkin beda ama rasa pembaca. (#SPMCSW, Kamis, 5 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Kumpulan Makalah

“SIAPA MUNAFIK, SIAPA EGOIS?”

“SIAPA MUNAFIK, SIAPA EGOIS?”
.
Opini Kekeh EGOIS ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
“KETUHANAN YANG MAHA ESA” , Di dunia sangat mungkin hanya Indonesia yang mengagungkannya .... doeloe, dan mungkin masih sampai sekarang, semua penduduk NKRI harus punya agama, bahkan tokoh yang sudah meninggalpun juga diberi agama sesuai dengan agama yang dikehendaki pemerintah! Agar anda tidak banyak tanda tanya, yang saya maksud adalah tokoh sebelum Islam menjadi agama mayoritas di negeri ini. Seperti misalnya Ronggolawe dan juga tokoh-tokoh sebelumnya yang terkenal yang masih ada makamnya.
.
Agama menurut rasa saya, adalah relasi individu manusia dengan Tuhannya, ketika pemerintah atau negara mengharuskan rakyatnya beragama, apakah kenyataannya rakyat negeri ini benar-benar beragama? Jangan protes dulu ya, karena yang saya maksud “benar-benar beragama” seharusnya individu tersebut menampilkan atau menyiratkan beragama yang sesungguhnya sesuai dengan ajaran agamanya bukan? Lalu bagaimana kenyataannya?
.
Maraknya teroris yang tertangkap di negeri ini dan yang mendukung teroris tersebut secara diam-diam maupun terang-terangan, apakah menggambarkan manusia beragama sesuai dengan yang diharapkan negara? Ketika semua pejabat negara disumpah sesuai agamanya, lalu kenyataannya Bupati Klaten, Jawa Tengah, Sri Hartini tersangkut OTT oleh KPK pada Jumat pagi, 30 Desember 2016, apakah itu menggambarkan manusia beragama sesuai dengan yang diharapkan negara? Berapa banyak pejabat yang disumpah sesuai agamanya lalu kenyataannya korupsi? Bahkan waktu itu Menteri Agama tersangkut perkara korupsi dan juga dipenjara. Paling ngenes adalah ketika ada pejabat jujur justru dimusuhi oleh mereka termasuk ormas dengan label agama, dan melihat kenyataan begitu massifnya yang memusuhi, apakah itu tidak kontradiktif dengan sila pertama negara kita? Negara yang “merasa” paling religius di dunia karena mengharuskan semua rakyatnya beragama, tapi justru kenyataannya begitu banyak rakyatnya yang mencermikan layaknya manusia yang berlawanan dengan akidah-akidah beragama semestinya. Hal itu juga didukung kenyataan bahwa tokoh-tokoh dari berbagai macam agama di negeri ini yang di penjara karena korupsi.
.
Bukankah semua agama melarang (mengharamkan) korupsi, sementara semua rakyat di negeri ini diharuskan punya agama, dan tampaknya mereka semua utamanya para tokoh terlihat menampilkan sangat religius beragama masing-masing sesuai agamanya, tapi kenyataannya begitu banyak yang di penjara karena korupsi. Paling ngenes lihat ditipi pengacara senior yang sangat kondang doa bersama sebelum sidang, apa maksudnya? Tuhan diminta “membela” kelakuannya memberi sogok’an pada pejabat negara? Juga melihat para narapidana memohon doa restu dan agar dikuatkan menghadapi cobaan, itu mah gile!! Kalau ketangkap dan di penjara dianggap cobaan, lalu yang blom tertangkap apakah artinya Tuhan melindungi korupsinya? Tuhan kok malah seolah selalu dipersalahkan, dan dijadikan tameng, apakah hal-hal itu menggambarkan beragama yang sebenar-benarnya benar?
.
Merenungkan kenyataan yang ada, apakah salah jika saya masih berpendapat bahwa EGOIS telah mengalahkan relasi antara individu dengan Tuhan kita masing-masing? Egois mengalahkan kecintaan kita terhadap Tuhan, karena cinta seharusnya mewakili sepak terjang kita masing-masing sebagai individu bukan? Bukankah sejatinya mencintai adalah tidak mengkhianati? Jadi kalau benar kita percaya dengan Tuhan kita dan mencintaiNya, artinya kita tidak mengkhianati Tuhan kita bukan? Bukankah Tuhan kita meminta kita jujur dan segala macam itu? Dan korupsi itu sangat tidak jujur bukan? Bukankah korupsi karena individu itu sangat EGOIS? Masih tidak percaya bahwa EGOIS itu akar segala masalah kita? Juga awal masalah kita dalam bernegara?
.
Silahkan ditinjau lagi, apakah benar bahwa negeri ini rakyatnya religius? Apakah benar bahwa rakyatnya sudah beragama dengan benar? Apakah masih benar negara (pemerintah) harus ngurusi individu agama rakyatnya? Jangan ngamuk ya? Saya hanya mempertanyakan, karena saya galau dengan kenyataan yang ada di negeri ini. Harap maklum. (#SPMCSW, Selasa, 3 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Hipwee

Monday, January 2, 2017

“MASIH TENTANG EGOIS”

“MASIH TENTANG EGOIS”
.
Opini Rasa ala #SPMC Suhindro Wibisono
.

EGOIS SUMBER KEJAHATAN
KEJAHATAN RUSAK TATANAN KEHIDUPAN
TATANAN KEHIDUPAN ADALAH BERNEGARA
JADI .....
EGOIS AWAL MULA BENCANA BERNEGARA


HAYO .....
KELOLA DAN KENDALIKAN EGOIS KITA
AGAR KITA NYAMAN HIDUP BERSAMA
DALAM KEBERSAMAAN DI NEGARA TERCINTA
INDONESIA HARUSLAH TETAP JAYA

.
.
.
Dalam artikel sebelumnya, saya pernah menyatakan bahwa EGOIS adalah akar segala masalah, dan menurut saya memang begitulah kenyataannya, bahkan tidak sedikit luka batin juga dikarenakan egois, dan saya menduga semua orang dewasa pasti punya luka batin itu.
.
Ketika waktu SMP doeloe saya pernah pakai sepatu sampai sepatu itu seperti mulut buaya karena sudah rusak, sadar atau tidak, mau atau tidak, kenyataan itu menyebabkan saya mempunyai luka batin. Dan bermilyar hal lain juga bisa membuat seseorang mendapatkan luka batin, itulah kenapa saya nekad simpulkan bahwa semua orang dewasa pasti punya luka batin. Bekas luka batin itu terkadang sadar atau tidak sadar juga akan ditampakkan oleh yang bersangkutan. Saya pernah membelikan banyak sepatu untuk anak saya ketika masih balita, hampir semua warna yang dia belom punya saya beli kalau lihat ada di toko, padahal bukankah anak balita itu cukup cepat tumbuh dan sepatunya jadi tidak bisa dipakai lagi? Luka batin, balas dendam, egois ingin membalas rasa yang tidak enak yang pernah dialami terkadang tak bisa dikendalikan!
.
Jangan lupa penghinaan yang membuat orang luka batin terkadang juga bisa memicu seseorang menggapai sukses, dan itulah susahnya bagaimana mengukur hal itu kenapa bisa terjadi? Menurut duga saya, itu adalah tergantung dari resistensi tiap individu terhadap beban derita. Ada manusia yang ingin balas dendam dan tertantang, tapi ada juga yang terpuruk dan menganggap hinaan itu benar adanya, bahkan juga bisa membuat orang menjadi gila karena tidak bisa menahan rasa masalahnya. Lalu berkembanglah pengetahuan-pengetahuan baru soal motivasi, yang menyatakan bahwa memotivasi orang itu harusnya diutamakan, padahal kalau mau teliti mencermati, begitu banyak pengikut pendidikan kursus motivasi, apakah pengikutnya juga menjadi berhasil semua? Menurut saya ada faktor X kenapa seseorang menggapai sukses atau tidak, dan faktor X itu ternyata tidak bisa diseragamkan untuk setiap orang. Menurut saya sangat baik untuk menjamin kehidupan seseorang dan agar orang-orang lebih berani berusaha untuk menggapai suksesnya masing-masing, harusnya negara memberikan jaminan kehidupan minimal bagi semua warga negaranya.
.
Ketika melihat keluarga kurang mampu mempunyai anak lebih dari dua, selain faktor ketidak pahaman, itu adalah bentuk egois yang lain lagi, egois yang tertanam dengan mengharapkan salah satu atau beberapa anaknya bisa sukses, sehingga mengharap kehidupannya ikut terangkat, sambil mengharap syukur-syukur kalau semua anaknya akan sukses, padahal menurut rasa saya, harusnya keluarga tidak mampu cukup punya anak satu saja.
.
Bahkan kalau mau lebih extrim masih menurut rasa saya, seharusnya semua keluarga tidak boleh punya anak lebih dari dua, KECUALI KELUARGA YANG KEHIDUPANNYA BANYAK BAHAGIA, jadi ukurannya bukan soal banyaknya harta yang dipunyai! Kalau kita hidup tidak banyak bahagia, atau kehidupan kita lebih banyak deritanya, kenapa kita begitu egois juga ikut andil terciptanya kehidupan-kehidupan yang besar kemungkinan akan tidak bahagia juga? Kita tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak kita punya, dan kalau kita tidak punya kebahagiaan itu, kebahagiaan darimana lagi yang akan kita berikan pada anak-anak kita? Apa bukan egois itu namanya? Maka kalau ada keluarga tidak bahagia dan berani memutuskan untuk tidak mempunyai anak walau sebetulnya bisa punya anak, harusnya itulah keluarga hebat yang tidak egois.
.
Kenyataannya bukankah makin lama makin banyak masalah kehidupan didunia, utamanya dinegara-negara berkembang yang tidak memberikan jaminan kehidupan minimum bagi warga negaranya? Karena selain orang tuanya tidak bisa memberikan kebahagiaan pada anaknya, kehidupan minimalpun juga belom pasti. Cobalah cermati lebih detail, banyaknya kejahatan sangat mungkin ditimbulkan oleh oknum yang datangnya dari keluarga yang tidak bahagia. Ada yang setuju dengan artikel gila saya ini? Jangan marah ya, pan saya bukan ahlinya, saya hanya menulis menurut rasa saya saja, maaf kalau ngaco. (#SPMCSW, Senin 2 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
muazfozi.wordpress .com

Sunday, January 1, 2017

"SUGESTI PENJARA OTAK KITA"

"SUGESTI PENJARA OTAK KITA"
.
Opini Nekad ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
Ketika sekitar 3,5 dasa warsa yang lalu bokap saya tanya penjual gulai kambing yang sedang lewat didepan rumah "Kang otakmu masih ada", pedagangnya tidak marah dan nyantai saja menjawab masih dan berhenti melayani. Itulah candaan tahu sama tahu ala kampung saya era waktu itu, jangan ditiru ya.
.
Tahun 2016 sudah berlalu, malam tadi dirayakan begitu meriah, detik-detik berlalunya waktu bahkan dihitung dengan heboh, dirayakan dengan saling bersulang, ada yang menyulut kembang api juga petasan, cepika-cepiki sesama teman, semua hura-hura merayakannya .....
.
KENAPA? Bukankah itu semua hanya masalah pikiran manusia saja? Tertanam didiri kita "rasa" semuanya itu, rasa berbeda, rasa berlalunya tahun 2016 dan diganti 2017, padahal bukankah siklusnya ya sama saja, tiap hari ya waktunya berlalu seperti biasa, siklus alamnya sama saja, bukankah manusia sendiri yang memberi angka-angka 2016, 2017 itu?
.
Itulah luar biasanya pikiran manusia, begitu juga ketika Anda sedang jatuh cinta. Semua hal memang ditentukan oleh pemikiran, otak yang bekerja disana, maka sampai detik ini, saya blom pernah dengar ilmu kedokteran bisa mengganti otak manusia, kalau ganti hati masih pernah kita dengar, dan tebak'an saya kok memang otak manusia itu tidak bisa diganti secara fisik. Karena kalau otak manusia itu diganti dengan otak manusia yang lain, orang tersebut jadi identitasnya menjadi siapa? Menjadi yang punya otak, menjadi yang punya tubuh keseluruhannya, atau menjadi bagian dari keluarga yang membiayai operasinya? Jadi ketika banyak orang berlaku tega, dan dijuluki "tidak punya hati", atau tidak punya perasaan, itu sebetulnya hanya perumpamaan saja, karena sebetulnya itu semua merujuk ke otak-otak juga.
.
Dan karena ulah otak kita juga maka segala permainan rasa juga sangat mempengaruhi hidup kita. Ketika dulu waktu kecil saya tidak suka daging, juga kenyataanya keluarga tidak mampu beli daging, bahkan ingat saya potong ayam itu hanya pada hari-hari besar saja, tapi beruntung saya masih suka ikan laut, dan karena kebetulan kami tinggal di kota pesisir pantai, ikan laut lebih murah dari pada daging ayam atau daging sapi. Lalu ada juga anak(keponakan sepupu) yang saya kenal tidak doyan daging dan ikan, hanya makan tahu tempe, sayur dan maksimal telor ayam. Lalu kita semua dicekok'i info bahwa orang tersebut akan kekurangan gizi, tidak akan pandai, dan banyak hal negatif lain. Lalu ortunya terpengaruh dan menjadi khawatir akan perkembangan anaknya, padahal anaknya tidak apa-apa dan biasa saja, juga berkembang seperti anak-anak lain, tidak sakit-sakitan, bahkan tubuhnya cukup proporsional. ITULAH PENJARA PIKIRAN.
.
Padahal sekarang kita malah disodori info ternyata vegetarian itu sangat baik untuk kesehatan manusia, juga untuk bumi. Jadi apa yang kita anggap benar saat ini, belum tentu akan tetap benar untuk masa yang akan datang. Dan itu sudah sangat sering terbukti, sama seperti andai kita hidupkan lagi orang yang meninggal dunia dua abad yang lalu, lalu kita cerita bahwa ada orang yang datang dari bulan, pasti kita dianggap gila. Hanya orang-orang mati yang tidak pernah merubah setiap pendapatnya, mustahil orang selalu benar dalam semua hal. Kalau toh kenyataannya saat ini orang tersebut terlihat (tampaknya) selalu benar, bukankah sebagai manusia itu dihitungnya semenjak lahir sampai dengan meninggal? Kalau mau lebih baik, memang nasehat "pikirkan setiap hal yang ingin diucapkan, tapi jangan ucapkan semua hal yang dipikirkan" itu adalah benar adanya, dan hal itu akan meminimalisir kesalahan yang kita lakukan, selain tentu saja tidak mudah pikun. Segalanya akan menjadi terbiasa dan tanpa beban kalau kita berkehendak melakukannya, jadi jangan dianggap memikirkan hal-hal yang mau diucapkan itu sesuatu yang mustahil.
.
Saya tutup artikel saya ini dengan pendapat, ketika kita terbiasa memikirkan setiap hal yang mau diucapkan, selain bonus tidak mudah pikun, bonus lainnya adalah biasa berpikir kritis, dan efek dominonya adalah berani berlogika yang berbonus lagi tidak mudah diombang-ambingkan pendapat orang-orang karena kritis dan memikirkan logikanya. Maaf kalau Anda tidak paham, karena memang saya bukan ahlinya, saya hanya menulis berdasarkan rasa saya saja. (#SPMCSW, Minggu, 1 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Pulsk