
"GAJI ISTRI MILIK ISTRI, GAJI SUAMI HAK ISTRI"
.
Opini Ngasal ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Saya pernah ikutan tanda tangan saksi perjanjian harta terpisah dalam
suatu pernikahan, padahal sebelumnya tidak diinfokan, entah kenapa saya
juga termasuk yang ditunjuk, saya tidak tanya. Tentu saja memang itu
pernikahan yang masih kerabat saya.
.
PERJANJIAN HARTA TERPISAH,
sepertinya sudah bukan barang aneh saat ini, yang "iseng" pingin saya
tanya, apakah boleh untuk pernikahan mereka yang muslim? Maaf, saya
memang tidak paham, dan memperhatikan trendnya, saya kok menduga harta
terpisah sangat mungkin haram, bukankah perjanjian harta terpisah dalam
perkawinan adalah produk baru? Dan sepertinya produk kafir lagi ......
Hehehehe ... itulah dasar saya menerka perjanjian pranikah untuk harta
terpisah adalah sesuatu yang haram bagi muslim, maaf kalau salah, juga
maaf memang saya tidak paham bagaimana pembagian harta bagi muslim jika
terjadi perceraian dalam perkawinan.
.
Harta gono-gini adalah
harta bersama yang didapat ketika ikatan suami istri itu sudah terjadi
dan harusnya dibagi antara suami dan istri jika terjadi perceraian, jadi
harta gono-gini tidak membedakan itu hasil kerja suami atau hasil kerja
istri, maka jika ada salah satu pasangan (suami atau istri) yang tidak
kerja dan terjadi perceraian harusnya juga dapat harta gono-gini itu,
kecuali jika dari awal pernikahan ada perjanjian harta terpisah,
begitulah "pemahaman lugu ngawur" saya.
.
Apakah perjanjian
harta terpisah dalam perkawinan itu etis dan penting? Itulah yang ingin
saya tuliskan, karena soal hukumnya saya memang tidak paham sama sekali.
Jadi artikel ini bukan patokan atau petunjuk lho ya, saya bukan sarjana
hukum, jadi anggaplah ini artikel iseng saja.
.
Jika salah satu
dari pasangan melakukan usaha kerja yang penuh resiko, perjanjian harta
terpisah mungkin penting, sehingga jika terjadi sesuatu resiko
kerugian, maka harta pasangan tidak ikut terjun bebas harus menanggung
kerugian pasangannya, artinya justru keuangan keluarga tersebut
terselamatkan dari kebangkrutan bukan?
.
Etis atau tidak
melakukan perjanjian pra nikah yang biasanya mengatur soal harta
masing-masing itu? Itu pertanyaan yang sangat sulit untuk mendapat
jawaban yang pas, sama dengan mempertanyakan, apakah perceraian itu
etis? Jadi etis atau tidak soal perceraian, bukankah kenyataannya sangat
banyak terjadi?
.
Menurut rasa saya, seharusnya perjanjian
harta terpisah ya tidak ada masalah, apalagi kalau yang wanita dari
keluarga kaya atau sendirinya wanita itu yang kaya, atau setidaknya
"menduga" punya masa depan cemerlang dalam karirnya, karena menurut rasa
saya, justru dengan adanya perjanjian harta terpisah itu membuktikan
bahwa cintanya sang pasangan bukan karena hartanya. Jadi sebetulnya
tergantung sudut pandang saja, kalau mau lihat dari sudut positif,
harusnya ya tidak ada masalah.
.
Masih menurut rasa saya,
perjanjian harta terpisah menyambut ikatan perkawinan bagi dua pribadi
yang tidak setara dalam hal harta, seharusnya tidak perlu membuat
tersinggung yang merasa miskin, yang penting adalah bagaimana isi detail
perjanjian itu.
.
Saya pernah dengar cerita yang lebih membuat
geleng-geleng kepala soal etis atau tidaknya menyambut suatu pernikahan,
tapi saya tidak bisa membuktikan apakah itu etis atau tidak karena
"kebetulan" hasilnya positif. Gini ceritanya, keluarga yang pria sangat
kaya, lalu pihak keluarganya (ortu) sikaya, meminta calon menantunya
melakukan test kesehatan yang sangat detail, termasuk kemungkinan untuk
punya keturunan atau tidak, pokoknya sangat detail lah soal kesehatan
sang calon mantu ....., saya dengar ceritanya saja cukup membuat
geleng-geleng kepala, dan spontanitas tanya dengan yang cerita, apakah
sang pria juga melakukan test kesehatan yang sama? Lalu seandainya ada
sedikit masalah tentang kesehatan sang calon mempelai wanita, apa yang
akan terjadi dengan relasi mereka? Dan saya tidak mendapatkan jawabnya,
karena kenyataannya perkawinan itu tetap berlangsung, yang artinya tidak
ada masalah dengan kesehatan calon istri itu bukan? ADAKAH CINTA SEJATI
dalam relasi itu?
.
Maka sebaiknya, dalam masa pacaran itu
jangan pakai umpet-umpetan data, tanyakan saja hal-hal yang Anda ingin
tahu, dan jawablah dengan terbuka dan jujur pertanyaan-pertanyaan itu.
Saling terbukalah, dan itulah sebetulnya makna masa pacaran, saling
mencocokkan rasa, dan saling memadukan ego apakah kalian sebetulnya bisa
saling menerima satu sama lain dalam semua hal? Tapi jangan lupa, tidak
ada manusia yang seratus persen klik dengan Anda, jadi kalau itu yang
Anda cari, Anda tidak akan menemukannya. Menutupi sifat dengan pamer
kebaikan dan selalu bersifat manis dalam pacaran, itu akan membuat
kalian terkaget-kaget dikemudian hari, jadi sebaiknya apa adanya
sajalah, jujur adalah hal yang sangat penting, menyesal kemudian tidak
ada gunanya. Karena sebetulnya perkawinan itu juga ada unsur seperti
beli lotre, setelah mengusahakan semuanya, berikutnya ya terima saja apa
adanya pasangan Anda, karena memang tidak ada yang kebetulan dalam
hidup ini. Kalau Anda mendapat pasangan yang kurang sreg menurut rasa
Anda, anggaplah itu juga karma Anda, yang artinya Tuhan menghendaki juga
hal itu terjadi untuk Anda melihat kedalam diri sendiri, apa saja yang
sudah Anda lakukan dalam kehidupan Anda? Bukankah Tuhan itu maha adil?
Orang baik akan ketemu dengan orang baik, merasa baik terus merasa
dikasih yang tidak baik, sangat mungkin itu salah tolok ukur menilai
diri sendiri.
.
TAPI JANGAN NGAWUR PILIH PASANGAN HIDUP, KARENA
MEMANG IKATAN PERKAWINAN ITU BUKAN LOTRE BENERAN YANG SEENAKNYA SAJA
DIBUANG KESAMPAH JIKA SALAH PILIH. PERKAWINAN ADALAH JUGA MENYATUKAN
KELUARGA BESAR MASING-MASING PASANGAN, MAKA HARUSNYA DITARGETKAN UNTUK
SEHIDUP SEMATI, KARENA MEMANG ITU MELIBATKAN RASA YANG TIDAK AKAN BISA
DIHAPUS SEUMUR HIDUP, MENYAKITI PERASAAN PASANGAN HIDUP JUGA BERARTI
MENYAKITI KELUARGA BESARNYA, TERLEBIH MENYAKITI ANAK-ANAK MEREKA SENDIRI
JIKA DIMILIKI.
.
Pesan saya sebelum mengakhiri artikel ini,
kalau Anda keluarga kaya, bukan sangat kaya raya yang sudah tidak
mempedulikan harta, kalau mau belikan anak rumah, sebaiknya belikan saja
sebelum anak Anda punya pacar, karena harta gono-gini itu tidak
termasuk harta yang sudah dimiliki sebelum pernikahan itu terjadi. Jadi
rumah yang Anda belikan untuk anak Anda akan tetap selamat jika terjadi
masalah pada kehidupan perkawinan anak Anda, maaf itu hanya sedia hujan
sebelum payung (dibalik-balik agar tidak terkesan serius-serius amir
boleh ya), bukan maksudnya mengharap kejadian jelek terjadi, sama
seperti Anda beli premi asuransi toh? (#SPMCSW, Senin, 9 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Portal Unique
.
.
PS.
Maaf kalau judul artikelnya "tidak nyambung", seolah jebakan batman,
karena memang judulnya agar menggugah pean untuk mau tahu apa isinya.
(SW)

TOLAK KARTU INDONESIA SEHAT
TOLAK KARTU INDONESIA PINTAR
TOLAK KARTU JAKARTA SEHAT
TOLAK KARTU JAKARTA PINTAR
TOLAK - TOLAK - TOLAK - TOLAK !
-------------------------------
Opini Nekat ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Kalau tidak salah ingat, ketika Ahok jadi Bapati Belitung pernah
membebaskan uang biaya kesehatan, juga uang biaya sekolah, lalu saat ini
bukankah sudah ada beberapa Kepala Daerah melakukan hal serupa,
termasuk ingat saya Bupati Bantaeng, juga KJS dan KJP untuk DKI, maaf
saya tidak hafal/tau Kepala Daerah mana lagi yang membebaskan uang
sekolah dan biaya kesehatan warganya, tapi saya yakin itu ada!
.
Masih tentang sila kelima dari Pancasila kita yang adalah juga landasan
kita bernegara "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA",
seharusnya kartu Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat TIDAK perlu dibuat
lagi! Termasuk juga KJS, KJP maupun kartu-kartu serupa yang diterbitkan
oleh Kepala Daerah lainnya.
.
Gini maksud saya, seharusnya
pemerintah pusat membantu membuatkan gedung sekolahnya juga rumah
sakitnya, sedangkan pengoperasiannya, gaji guru untuk sekolahan dan gaji
dokter untuk rumah sakit menjadi tanggung jawab APBD daerah setempat.
Dan secara teknis detailnya untuk hal-hal lain bisa dirumuskan bagaimana
sebaiknya. Tapi harusnya bisa, bukankah buktinya ada kepala daerah yang
bisa menggratiskan untuk warganya? Jadi pemerintah pusat bisa membantu
bagi daerah yang benar-benar minus, membantu pengaturan penyebaran guru
atau dokternya melalui kementrian yang sesuai, termasuk juga distribusi
obat-obatan yang dibutuhkan.
.
Tidak harus membuat RS yang
terlalu mewah, bila perlu sengaja dibuat satu ruang untuk minimal tiga
pasien sampai dengan lima pasien. Inti yang ingin saya sampaikan tentang
masalah kesehatan rakyat adalah hapus saja Kartu Sehat, cukup pakai KTP
saja, bagi warga negara kalau mau mendapat "gratis" pengobatan standard
ya dipersilahkan berobat di wilayah masing-masing atau dimanapun di
seluruh Indonesia, asal mau di rumahsakit pemerintah, kalau ingin lebih
mewah dan lebih nyaman ya dipersilahkan ke RS swasta dengan berbayar
sendiri.
.
Menurut saya sebaiknya pemerintah bisa membuat
perusahaan asuransi khusus untuk kesehatan (BUMN), pemegang sahamnya
adalah kementrian kesehatan, kementrian sosial, kementrian dalam negeri,
semua pemerintahan provinsi (semua gubernur), lalu semua anggaran yang
menyangkut kesehatan masyarakat selama ini duitnya dimasukkan kesitu
semua. Kalau disumbang dari jatah APBD daerah-daerah yang memang
mengalokasikan dana kesehatan warganya, bukankah kira-kira hampir
mencukupi dananya? Perusahaan asuransi itu ketika dibuat akan langsung
menjadi perusahaan asuransi terbesar didunia, karena langsung punya
anggota sekitar 250juta jiwa (rakyat NKRI). Ya, semua warga negara
diasuransikan saja DAN GRATIS, kalau asuransi massal semacam itu, biaya
iurannya adalah sekitar 250 ribu perjiwa pertahunnya, jadi 250jt X 250rb
= 62.500.000.000.000,- (62,5T) per tahun. Garansi perusahaan yang akan
dibuat tidak akan rugi ..... Dan pemerintahan akan langsung terkenal di
dunia, semoga Pak Jokowi berani mengimplementasikannya. Coba bayangkan
betapa besar pengaruhnya dengan kehidupan masyarakat, dan betapa
besarnya derap pembangunan RS RS di seluruh pelosok Indonesia, akan
menyerap berapa tenaga kerja dokter, perawat dan lain-lain?
.
Tentu saja implementasinya tidak bisa sim-salabim langsung akan
“lancar-jaya”, mengingat KIS ; KJS bukankah juga banyak terdapat
keluhan-keluhan? Bukankah itu juga bagian dari implementasi sila ke 5
Pancasila kita, kalau tidak berani memulai kapan lagi bisa terlaksana?
Kalau "perusahaan" asuransi itu langsung digelontori dana segitu tiap
tahunnya (± 62,5T), bukankah bisa langsung membuat RS RS secara
bersamaan di seluruh NKRI? Maka dalam waktu sekitar 3 tahun kedepan NKRI
adalah negara yang akan diperbincangkan diseluruh belahan dunia, sangat
mungkin Presidennya mendapat penghargaan nobel.
.
Kalau ingin
menaikkan taraf hidup rakyat, pendidikan adalah salah satu jalan paling
rasional. Sama metodenya seperti dengan menangani soal kesehatan, hanya
kalau masalah pendidikan jangan membuat perusahaan, tapi Kartu Pintar
tidak perlu dibuat, dan semua anak "WAJIB" sekolah di wilayah tinggalnya
masing-masing dan GRATIS, wajibnya sampai minimal SLTP, dan gratisnya
sampai SLTA, kalau mampu menggratiskan sampai kuliah ya lebih bagus.
Jangan anak-anak dikasih ATM untuk beli buku, seragam, dan lain-lain.
Setiap tahun seragam dibagikan gratis disekolahnya saja, juga buku-buku
pegangan, bila perlu tiap hari waktu istirahat anak-anak diberi makanan
bergizi, bisa berganti-ganti, hari ini kacang hijau, besok susu, lusa
telor rebus, berikutnya kolak singkong/ketela, satu buah pisang, dll
terserah kreasinya wilayah masing-masing.
.
Sekolah gratis
adalah sekolah milik negara, jadi negara tidak ngasih subsidi ke sekolah
swasta, baik swasta berbasis agama atau partikelir apapun itu namanya.
Terserah rakyat mau sekolah dimana, tapi jika ada yang tidak sekolah,
diwajibkan untuk sekolah, dan itulah tugas RT sampai Lurah untuk
menyisir wilayah tugasnya masing-masing jika ada anak yang tidak
sekolah. Jika anak-anak diwajibkan sekolah diwilayahnya masing-masing
dan sekolahannya juga diadakan, bukankah transportnya jadi dekat dan
lebih mudah dikoordinirnya? Juga bisa pakai sepeda tergantung kondisi
wilayahnya agar anak-anak secara otomatis berolahraga, dan itu akan
menyehatkan bukan?
.
Kalau dua hal itu dilaksanakan oleh
pemerintah, saya hakul yakin 10 tahun lagi NKRI sudah akan menjelma
menjadi negara hebat, tapi untuk melaksanakan itu semua, yang tidak
kalah pentingnya adalah data kependudukan yang akurat. Bagaimana menurut
Anda? Apakah mimpi saya terlalu muluk dan mengawang-awang yang tidak
rasional? (#SPMCSW, Sabtu, 7 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Membangun Pendidikan Bangsa
----------

"AHOK NGEDUMEL PEJABATNYA BANYAK DICOPOT"
.
Opini & Berita ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
Ketika waktu itu PLT Gubernur DKI merombak draf APBD DKI 2017 Gubernur
yang sedang cuti karena menurutnya "blom di komunikasikan dengan DPRD" ,
hemmm ... sepertinya masuk akal walau ketika itu saya blom dengar apa
tanggapan Gubernur yang sedang cuti ....
.
Tadi saya mendengar
komentar dari Gubernur Ahok yang sedang cuti soal adanya beberapa
pejabat yang dicopot, saya ikut gemes juga jika benar apa yang
dinyatakan Pak Ahok.
.
Menurut Pak Ahok, pejabat yang dipecat
justru yang berkinerja baik, dan ngenesnya ada beberapa digantikan oleh
mereka yang pernah dipecat Ahok! Hemmmmm ...... kalau itu betul terjadi,
jelas PLT yang menggantikan Ahok kurang paham manajemen. Wong sudah
jelas pernah dipecat kok menjabat lagi? Ada apa ini? Itu jelas bermuatan
politis atau KKN, begitu kalau menurut saya.
.
Masih menurut
Ahok, alasan pemecatannya adalah juga karena pendidikan formal
pejabatnya tidak sesuai dengan jabatan, seperti pimpinan yang membawahi
PU yang kalau tidak salah ingat tadi dinyatakan karena sarjana sosial,
padahal kata Ahok justru kinerjanya sangat baik. Tambah Ahok dengan nada
tanya, "kenapa semua pejabat yang baik kinerjanya justru diganti?
Apakah karena semua pejabat baik itu dituding mendukung Ahok?" Padahal
menurut Ahok dengan nada gemes, "mereka itu semua bekerja untuk rakyat
DKI, bukan untuk saya!!"
.
Penjelasan Ahok lebih lanjut,
bukankah seharusnya semua itu pakai ukuran basis kerja atau kinerja
pejabat yang bersangkutan? Ahok sedang berusaha minta bantuan ketua DPRD
DKI yang siapa tahu bisa membantu menyuarakan agar tidak mencopot
pejabat berkinerja baik.
.
Saya terus terang saja ikutan gemes
mendengarkan penjelasan Ahok barusan, itulah sebab langsung saya tulis
artikel ini. Dan saat saya tulis ini, saya percaya apa yang dinyatakan
Ahok sambil menunggu siapa tahu akan ada tanggapan balik dari PLT yang
menggantikan Ahok yang sedang cuti. Bagaimana dengan Anda para pembaca? (#SPMCSW, Kamis, 5 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Merdeka .com
"KEADILAN SOSIAL TIDAK HARUS KOMUNIS"
.
Opini Sosial ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, itulah bunyi sila kelima
dari Pancasila yang adalah pedoman bernegara dan berbangsa kita sebagai
satu kesatuan dari NKRI.
.
Jika ditinjau dari "siapa yang tidak
mau kerja, maka tidak berhak mendapat keadilan sosial", ya tidak salah!
Tapi bukankah disitu tertulisnya "BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA",
artinya tanpa kecuali bukan? Bukan bermaksud menjadikan negara ini pakai
sistem komunis, tapi bukankah kenyataannya lapangan kerja juga tidak
tersedia untuk mencukupi seluruh rakyat yang butuh kerja?
.
Sila
ke 5 itu harusnya negara (pemerintah) menjamin kehidupan mimimum(dasar)
setiap warga negaranya. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu,
misalnya warga negara yang berusia mulai 20 tahun dan sedang tidak
kuliah dan tidak kerja (tidak berpenghasilan), maka pemerintah
memberikan uang makan mingguan sebesar 150 ribu, jadi kalau dihitung
tahunan menjadi 52 X 150rb = 7.800.000.- Menurut Kepala Badan Pusat
Statistik (BPS) Suryamin tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016
mencapai 7,02 juta, anggaplah 10 juta jiwa, maka biaya jaminan
kehidupan minimum pertahun bagi pengangguran di NKRI adalah 10jt X 7,8jt
= 78.000.000.000.000. (78T)
.
Apakah terlalu besar uang 78T
setahun untuk biaya keadilan sosial? Bahkan jika harus mencapai 100T
sekalipun? Untuk melaksanakan hal itu, data kependudukan tentunya harus
akurat, dan itu ranah kerja Mendagri bukan?
.
Ketika
pemerintahan saat ini menentukan harga BBM di Papua setara dengan harga
BBM di Pulau Jawa(?), itulah juga yang namanya keadilan sosial, saya
sangat senang ketika hal itu diumumkan oleh Presiden Jokowi, karena
kebetulan punya mimpi serupa, dan menyayangkan kenapa pemerintahan
sebelumnya tidak melakukannya? Apakah hal semacam itu boleh ditafsir
sebagai rasa keberpihakan seorang pemimpin?
.
Seharusnya, semua
harga yang ditentukan oleh negara (pemerintah) sudah selayaknya sama dan
berlaku untuk seluruh wilayah NKRI, karena bukankah itu makna kehadiran
pemerintah diseluruh wilayah NKRI. Jadi untuk harga komoditas bahan
pokok, jika harga itu ditentukan oleh pemerintah, sudah selayaknya
harganya sama bagi seluruh wilayah NKRI, itu menurut rasa saya ejawantah
sila ke 5 dari Pancasila kita. Maaf jika saya ngaco lagi, pan saya
hanya mengutarakan berdasar rasa saya yang sangat mungkin beda ama rasa
pembaca. (#SPMCSW, Kamis, 5 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Kumpulan Makalah

“SIAPA MUNAFIK, SIAPA EGOIS?”
.
Opini Kekeh EGOIS ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
.
“KETUHANAN YANG MAHA ESA” , Di dunia sangat mungkin hanya Indonesia
yang mengagungkannya .... doeloe, dan mungkin masih sampai sekarang,
semua penduduk NKRI harus punya agama, bahkan tokoh yang sudah
meninggalpun juga diberi agama sesuai dengan agama yang dikehendaki
pemerintah! Agar anda tidak banyak tanda tanya, yang saya maksud adalah
tokoh sebelum Islam menjadi agama mayoritas di negeri ini. Seperti
misalnya Ronggolawe dan juga tokoh-tokoh sebelumnya yang terkenal yang
masih ada makamnya.
.
Agama menurut rasa saya, adalah relasi
individu manusia dengan Tuhannya, ketika pemerintah atau negara
mengharuskan rakyatnya beragama, apakah kenyataannya rakyat negeri ini
benar-benar beragama? Jangan protes dulu ya, karena yang saya maksud
“benar-benar beragama” seharusnya individu tersebut menampilkan atau
menyiratkan beragama yang sesungguhnya sesuai dengan ajaran agamanya
bukan? Lalu bagaimana kenyataannya?
.
Maraknya teroris yang
tertangkap di negeri ini dan yang mendukung teroris tersebut secara
diam-diam maupun terang-terangan, apakah menggambarkan manusia beragama
sesuai dengan yang diharapkan negara? Ketika semua pejabat negara
disumpah sesuai agamanya, lalu kenyataannya Bupati Klaten, Jawa Tengah,
Sri Hartini tersangkut OTT oleh KPK pada Jumat pagi, 30 Desember 2016,
apakah itu menggambarkan manusia beragama sesuai dengan yang diharapkan
negara? Berapa banyak pejabat yang disumpah sesuai agamanya lalu
kenyataannya korupsi? Bahkan waktu itu Menteri Agama tersangkut perkara
korupsi dan juga dipenjara. Paling ngenes adalah ketika ada pejabat
jujur justru dimusuhi oleh mereka termasuk ormas dengan label agama, dan
melihat kenyataan begitu massifnya yang memusuhi, apakah itu tidak
kontradiktif dengan sila pertama negara kita? Negara yang “merasa”
paling religius di dunia karena mengharuskan semua rakyatnya beragama,
tapi justru kenyataannya begitu banyak rakyatnya yang mencermikan
layaknya manusia yang berlawanan dengan akidah-akidah beragama
semestinya. Hal itu juga didukung kenyataan bahwa tokoh-tokoh dari
berbagai macam agama di negeri ini yang di penjara karena korupsi.
.
Bukankah semua agama melarang (mengharamkan) korupsi, sementara semua
rakyat di negeri ini diharuskan punya agama, dan tampaknya mereka semua
utamanya para tokoh terlihat menampilkan sangat religius beragama
masing-masing sesuai agamanya, tapi kenyataannya begitu banyak yang di
penjara karena korupsi. Paling ngenes lihat ditipi pengacara senior yang
sangat kondang doa bersama sebelum sidang, apa maksudnya? Tuhan diminta
“membela” kelakuannya memberi sogok’an pada pejabat negara? Juga
melihat para narapidana memohon doa restu dan agar dikuatkan menghadapi
cobaan, itu mah gile!! Kalau ketangkap dan di penjara dianggap cobaan,
lalu yang blom tertangkap apakah artinya Tuhan melindungi korupsinya?
Tuhan kok malah seolah selalu dipersalahkan, dan dijadikan tameng,
apakah hal-hal itu menggambarkan beragama yang sebenar-benarnya benar?
.
Merenungkan kenyataan yang ada, apakah salah jika saya masih
berpendapat bahwa EGOIS telah mengalahkan relasi antara individu dengan
Tuhan kita masing-masing? Egois mengalahkan kecintaan kita terhadap
Tuhan, karena cinta seharusnya mewakili sepak terjang kita masing-masing
sebagai individu bukan? Bukankah sejatinya mencintai adalah tidak
mengkhianati? Jadi kalau benar kita percaya dengan Tuhan kita dan
mencintaiNya, artinya kita tidak mengkhianati Tuhan kita bukan? Bukankah
Tuhan kita meminta kita jujur dan segala macam itu? Dan korupsi itu
sangat tidak jujur bukan? Bukankah korupsi karena individu itu sangat
EGOIS? Masih tidak percaya bahwa EGOIS itu akar segala masalah kita?
Juga awal masalah kita dalam bernegara?
.
Silahkan ditinjau
lagi, apakah benar bahwa negeri ini rakyatnya religius? Apakah benar
bahwa rakyatnya sudah beragama dengan benar? Apakah masih benar negara
(pemerintah) harus ngurusi individu agama rakyatnya? Jangan ngamuk ya?
Saya hanya mempertanyakan, karena saya galau dengan kenyataan yang ada
di negeri ini. Harap maklum. (#SPMCSW, Selasa, 3 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Hipwee

“MASIH TENTANG EGOIS”
.
Opini Rasa ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
EGOIS SUMBER KEJAHATAN
KEJAHATAN RUSAK TATANAN KEHIDUPAN
TATANAN KEHIDUPAN ADALAH BERNEGARA
JADI .....
EGOIS AWAL MULA BENCANA BERNEGARA
HAYO .....
KELOLA DAN KENDALIKAN EGOIS KITA
AGAR KITA NYAMAN HIDUP BERSAMA
DALAM KEBERSAMAAN DI NEGARA TERCINTA
INDONESIA HARUSLAH TETAP JAYA
.
.
.
Dalam artikel sebelumnya, saya pernah menyatakan bahwa EGOIS adalah
akar segala masalah, dan menurut saya memang begitulah kenyataannya,
bahkan tidak sedikit luka batin juga dikarenakan egois, dan saya menduga
semua orang dewasa pasti punya luka batin itu.
.
Ketika waktu
SMP doeloe saya pernah pakai sepatu sampai sepatu itu seperti mulut
buaya karena sudah rusak, sadar atau tidak, mau atau tidak, kenyataan
itu menyebabkan saya mempunyai luka batin. Dan bermilyar hal lain juga
bisa membuat seseorang mendapatkan luka batin, itulah kenapa saya nekad
simpulkan bahwa semua orang dewasa pasti punya luka batin. Bekas luka
batin itu terkadang sadar atau tidak sadar juga akan ditampakkan oleh
yang bersangkutan. Saya pernah membelikan banyak sepatu untuk anak saya
ketika masih balita, hampir semua warna yang dia belom punya saya beli
kalau lihat ada di toko, padahal bukankah anak balita itu cukup cepat
tumbuh dan sepatunya jadi tidak bisa dipakai lagi? Luka batin, balas
dendam, egois ingin membalas rasa yang tidak enak yang pernah dialami
terkadang tak bisa dikendalikan!
.
Jangan lupa penghinaan yang
membuat orang luka batin terkadang juga bisa memicu seseorang menggapai
sukses, dan itulah susahnya bagaimana mengukur hal itu kenapa bisa
terjadi? Menurut duga saya, itu adalah tergantung dari resistensi tiap
individu terhadap beban derita. Ada manusia yang ingin balas dendam dan
tertantang, tapi ada juga yang terpuruk dan menganggap hinaan itu benar
adanya, bahkan juga bisa membuat orang menjadi gila karena tidak bisa
menahan rasa masalahnya. Lalu berkembanglah pengetahuan-pengetahuan baru
soal motivasi, yang menyatakan bahwa memotivasi orang itu harusnya
diutamakan, padahal kalau mau teliti mencermati, begitu banyak pengikut
pendidikan kursus motivasi, apakah pengikutnya juga menjadi berhasil
semua? Menurut saya ada faktor X kenapa seseorang menggapai sukses atau
tidak, dan faktor X itu ternyata tidak bisa diseragamkan untuk setiap
orang. Menurut saya sangat baik untuk menjamin kehidupan seseorang dan
agar orang-orang lebih berani berusaha untuk menggapai suksesnya
masing-masing, harusnya negara memberikan jaminan kehidupan minimal bagi
semua warga negaranya.
.
Ketika melihat keluarga kurang mampu
mempunyai anak lebih dari dua, selain faktor ketidak pahaman, itu adalah
bentuk egois yang lain lagi, egois yang tertanam dengan mengharapkan
salah satu atau beberapa anaknya bisa sukses, sehingga mengharap
kehidupannya ikut terangkat, sambil mengharap syukur-syukur kalau semua
anaknya akan sukses, padahal menurut rasa saya, harusnya keluarga tidak
mampu cukup punya anak satu saja.
.
Bahkan kalau mau lebih
extrim masih menurut rasa saya, seharusnya semua keluarga tidak boleh
punya anak lebih dari dua, KECUALI KELUARGA YANG KEHIDUPANNYA BANYAK
BAHAGIA, jadi ukurannya bukan soal banyaknya harta yang dipunyai! Kalau
kita hidup tidak banyak bahagia, atau kehidupan kita lebih banyak
deritanya, kenapa kita begitu egois juga ikut andil terciptanya
kehidupan-kehidupan yang besar kemungkinan akan tidak bahagia juga? Kita
tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak kita punya, dan kalau kita
tidak punya kebahagiaan itu, kebahagiaan darimana lagi yang akan kita
berikan pada anak-anak kita? Apa bukan egois itu namanya? Maka kalau ada
keluarga tidak bahagia dan berani memutuskan untuk tidak mempunyai anak
walau sebetulnya bisa punya anak, harusnya itulah keluarga hebat yang
tidak egois.
.
Kenyataannya bukankah makin lama makin banyak
masalah kehidupan didunia, utamanya dinegara-negara berkembang yang
tidak memberikan jaminan kehidupan minimum bagi warga negaranya? Karena
selain orang tuanya tidak bisa memberikan kebahagiaan pada anaknya,
kehidupan minimalpun juga belom pasti. Cobalah cermati lebih detail,
banyaknya kejahatan sangat mungkin ditimbulkan oleh oknum yang datangnya
dari keluarga yang tidak bahagia. Ada yang setuju dengan artikel gila
saya ini? Jangan marah ya, pan saya bukan ahlinya, saya hanya menulis
menurut rasa saya saja, maaf kalau ngaco. (#SPMCSW, Senin 2 Januari
2017)
.
.
Sumber gambar:
muazfozi.wordpress .com

"SUGESTI PENJARA OTAK KITA"
.
Opini Nekad ala #SPMC Suhindro Wibisono
.
Ketika sekitar 3,5 dasa warsa yang lalu bokap saya tanya penjual gulai
kambing yang sedang lewat didepan rumah "Kang otakmu masih ada",
pedagangnya tidak marah dan nyantai saja menjawab masih dan berhenti
melayani. Itulah candaan tahu sama tahu ala kampung saya era waktu itu,
jangan ditiru ya.
.
Tahun 2016 sudah berlalu, malam tadi
dirayakan begitu meriah, detik-detik berlalunya waktu bahkan dihitung
dengan heboh, dirayakan dengan saling bersulang, ada yang menyulut
kembang api juga petasan, cepika-cepiki sesama teman, semua hura-hura
merayakannya .....
.
KENAPA? Bukankah itu semua hanya masalah
pikiran manusia saja? Tertanam didiri kita "rasa" semuanya itu, rasa
berbeda, rasa berlalunya tahun 2016 dan diganti 2017, padahal bukankah
siklusnya ya sama saja, tiap hari ya waktunya berlalu seperti biasa,
siklus alamnya sama saja, bukankah manusia sendiri yang memberi
angka-angka 2016, 2017 itu?
.
Itulah luar biasanya pikiran
manusia, begitu juga ketika Anda sedang jatuh cinta. Semua hal memang
ditentukan oleh pemikiran, otak yang bekerja disana, maka sampai detik
ini, saya blom pernah dengar ilmu kedokteran bisa mengganti otak
manusia, kalau ganti hati masih pernah kita dengar, dan tebak'an saya
kok memang otak manusia itu tidak bisa diganti secara fisik. Karena
kalau otak manusia itu diganti dengan otak manusia yang lain, orang
tersebut jadi identitasnya menjadi siapa? Menjadi yang punya otak,
menjadi yang punya tubuh keseluruhannya, atau menjadi bagian dari
keluarga yang membiayai operasinya? Jadi ketika banyak orang berlaku
tega, dan dijuluki "tidak punya hati", atau tidak punya perasaan, itu
sebetulnya hanya perumpamaan saja, karena sebetulnya itu semua merujuk
ke otak-otak juga.
.
Dan karena ulah otak kita juga maka segala
permainan rasa juga sangat mempengaruhi hidup kita. Ketika dulu waktu
kecil saya tidak suka daging, juga kenyataanya keluarga tidak mampu beli
daging, bahkan ingat saya potong ayam itu hanya pada hari-hari besar
saja, tapi beruntung saya masih suka ikan laut, dan karena kebetulan
kami tinggal di kota pesisir pantai, ikan laut lebih murah dari pada
daging ayam atau daging sapi. Lalu ada juga anak(keponakan sepupu) yang
saya kenal tidak doyan daging dan ikan, hanya makan tahu tempe, sayur
dan maksimal telor ayam. Lalu kita semua dicekok'i info bahwa orang
tersebut akan kekurangan gizi, tidak akan pandai, dan banyak hal negatif
lain. Lalu ortunya terpengaruh dan menjadi khawatir akan perkembangan
anaknya, padahal anaknya tidak apa-apa dan biasa saja, juga berkembang
seperti anak-anak lain, tidak sakit-sakitan, bahkan tubuhnya cukup
proporsional. ITULAH PENJARA PIKIRAN.
.
Padahal sekarang kita
malah disodori info ternyata vegetarian itu sangat baik untuk kesehatan
manusia, juga untuk bumi. Jadi apa yang kita anggap benar saat ini,
belum tentu akan tetap benar untuk masa yang akan datang. Dan itu sudah
sangat sering terbukti, sama seperti andai kita hidupkan lagi orang yang
meninggal dunia dua abad yang lalu, lalu kita cerita bahwa ada orang
yang datang dari bulan, pasti kita dianggap gila. Hanya orang-orang mati
yang tidak pernah merubah setiap pendapatnya, mustahil orang selalu
benar dalam semua hal. Kalau toh kenyataannya saat ini orang tersebut
terlihat (tampaknya) selalu benar, bukankah sebagai manusia itu
dihitungnya semenjak lahir sampai dengan meninggal? Kalau mau lebih
baik, memang nasehat "pikirkan setiap hal yang ingin diucapkan, tapi
jangan ucapkan semua hal yang dipikirkan" itu adalah benar adanya, dan
hal itu akan meminimalisir kesalahan yang kita lakukan, selain tentu
saja tidak mudah pikun. Segalanya akan menjadi terbiasa dan tanpa beban
kalau kita berkehendak melakukannya, jadi jangan dianggap memikirkan
hal-hal yang mau diucapkan itu sesuatu yang mustahil.
.
Saya
tutup artikel saya ini dengan pendapat, ketika kita terbiasa memikirkan
setiap hal yang mau diucapkan, selain bonus tidak mudah pikun, bonus
lainnya adalah biasa berpikir kritis, dan efek dominonya adalah berani
berlogika yang berbonus lagi tidak mudah diombang-ambingkan pendapat
orang-orang karena kritis dan memikirkan logikanya. Maaf kalau Anda
tidak paham, karena memang saya bukan ahlinya, saya hanya menulis
berdasarkan rasa saya saja. (#SPMCSW, Minggu, 1 Januari 2017)
.
.
Sumber gambar:
Pulsk