Friday, March 27, 2015

"AHOK MIMPI HIDUP DI NEGERI GEMBONG BAJINGAN KORUPSI" || #PuisiSensi

       (Gambar: jakarta.coconuts.co)



(¤ 1/11)
-KETIKA sudah duga kisruh APBD Jakarta,
-tidak akan lari kemana-mana
-Hak Angket itu ajang wacana
-Gertak sambal, nampang perkasa
-Kita buktikan tindak lanjutnya ...


(¤ 2/11)
 

-KETIKA debat di tipi undang tokoh terkenal,
-Pengamat, Politikus, dipilih mayoritas bebal

-Ada begundal buat surat terbuka nakal
-Semua gregetan kecam Ahok binal
-MERASA LEBIH SANTUN PADAHAL "DAJJAL"


(¤ 3/11)
 

-KETIKA Wakil Baginda alibi damaikan
-Panggil Ahok dan Dewan bergiliran
-Himbau ada perdamaian
-SALAHKAN komunikasi Ahok pada Dewan

-Apa terkontaminasi kelompok bajingan? 

(¤ 4/11)
 

-KETIKA awal kisruh Ahok banyak dibela
-Gempuran wacana kekasaran Ahok dicerca
-Ibarat zebra diteror kumpulan singa
-Reduplah kegeraman pembela
-Ahok lelah digugat etika

(¤ 5/11)

-KETIKA hanya sorot temperamen Ahok
-Semua tokoh membuta, Dewan lebih bobrok!
-Umpatan Dewan jauh lebih jorok
-Berpihak begundal tampak nyolok
-SEMUA JADI HALAL KALAU BERKELOMPOK


(¤ 6/11)
 

-KETIKA cermati semua keadaan
-POKOK PERKARA KORUPSI ANGGARAN
-Mengapa jadi komunikasi disalahkan?
-Alibi etika ditonjolkan?
-Jaga marwah koruptor tetap elegan?!


(¤ 7/11)

-KETIKA ingat sejuta perkara
-Hanya heboh sebagai wacana
-"KORUPSI MEMANG DIPELIHARA!"
-Kalau ada oknum terpenjara
-Ngenes ..... dianggap apes saja

(¤ 8/11)
 

-KETIKA KPK dikalahkan
-Kisruh APBD diributkan
-Coba cermati wacana perdebatan
-Tanyakan sanubari kebenaran
-SIAPA SEJATI SEMUA PEMBELA BAJINGAN?


(¤ 9/11)
 

-KETIKA dengar bisik sanubari
-Semua jawab aku dapati
-Salahkah pemberi gelar Negeri ini?
-"NEGERI GEMBONG BAJINGAN KORUPSI"
-Jadi ngenes atau sakit hati?


(¤ 10/11)
 

-KETIKA Ahok andai terjungkal
-Ingatlah hai para koruptor dajjal
-Kalian paksa anggap aku bebal
-Kalahkan jujur alasan binal
-APA DEWAN ITU KORUPTOR JUGA BEGAL?


(¤ 11/11)
 

-KETIKA semua nyata terpaparkan
-Masihkah tidak malu katakan:
-"Banyak anggota dewan membanggakan,
-banyak politisi baik kelakuan"
-BENAR-BENAR BEGUNDAL SETAN ......!

.
(SPMC SW, Blogspot, Maret 2015)
 
         (Gambar: gambaranehunik.com)
 
.
**********************
.
 
Catatan:
.
Hanya puisi sensi, kalau tidak ada yang tersakiti, tanda Negeri ini masih ada harapan, atau karena tidak ada yang baca. Kalau banyak yang tersinggung, semoga bukan karena tertabrak, tapi karena tidak rela ....... terbukti "jujur" ternyata tidak diharap di Negeri ini. Maaf telah ngelantur dengan membuat puisi ini. ADAKAH PEMBACA PUNYA KEGERAMAN SAMA? (((SW)))
.
                  (Gambar: bidhuan.com)


Tweet from @basuki_btp
@basuki_btp: Saya minta maaf kepada publik atas kejadian saat wawancara beberapa hari lalu. Saya sedang sangat kesal dgn kemunafikan
.
Tweet from @basuki_btp
@basuki_btp: Tapi sikap saya jelas, untuk para koruptor dan kemunafikan, saya tdk akan pernah minta maaf utk ketidaksantunan saya terhadap mereka
.
— Ahok Basuki TPurnama (@basuki_btp) March 20, 2015
.
--------------------
Puisi Sensitif Sebelumnya:
--------------------
.
 
AHOK: "PEMAHAMAN NENEK LU !! - DASAR PENIPU !" || #PuisiSensi
.
 
http://t.co/6zS6hg3Qm2
.
-----------------

Wednesday, March 18, 2015

AHOK: "PEMAHAMAN NENEK LU !! - DASAR PENIPU !" || #PuisiSensi

                           (Gambar: kaskus.co.id)

Coba renungkan keadaan Negeri ini
Dibalik hiruk-pikuk semua gaduh
Diawal terjadi semua kisruh
Kerucut masalah pemicu kita rawan bubrah
Karena kita lupa ajarkan moral
Terlena nikmat culas
Berlomba jadi kaya modal tipu daya
Bodo amat saudara sebangsa celaka
Penting AKU kaya raya hebat martabat
Hukum dan agama jadi senjata penindas
Juga pembenar semua laku bringas


Tentang Nenek Asyani di Situbondo
Tentang Nenek Fatimah di Tangerang
Tentang Nenek Minah di Banyumas
Tentang Siluman RAPBD DKI
Tentang Kasus Begal Motor
Tentang Kasus Bambang Widjojanto
Tentang Kasus Abraham Samad
Tentang Kasus Budi Gunawan
Tentang Kasus "Cicak versus Buaya"
Tentang Kasus Sutan Bhatoegana
Tentang Kasus Ketua MK
Tentang Kasus Obor Rakyat
Tentang Kisruh Partai PPP
Tentang Kisruh Partai Golkar
Tentang Heboh exis ISIS
Juga semilyar tentang Kasus Kisruh lain



                          (gambar: jokowihok.blogspot.com)
 

Semua karena kita hilang moral jujur
Entah kemana moral jujur kita abai?
Entah kemana moral jujur kita lalai?
Entah kemana moral jujur kita gadai?
Bukankah sangat memprihatinkan?
Ketika Ahok justru dielu karena jujur
Apa hebatnya jujur?
Bukankah itu dasar moral kita?
Sebagai salah satu pembeda
Pembeda sebagai manusia
Atau kita sudah bukan lagi manusia?
Atau kita sedang transformasi?
Jadi spesies mahluk baru?
Tidak punya malu walau penipu
Sungguh itu membuatku pilu

 

Usahawan Industri rumahan ditangkap Polisi
Penjual "gorengan" campur plastik agar awet renyah
Pembuat mie basah, kikil, rambak 

Minuman warna-warni, Ikan asin pemutih
Baso tikus, daging sapi oplos babi hutan
Masih banyak tapi tidak ingat lagi
Gunakan formalin, pemutih, pewarna textil ...
Pembuat mie sudah berpuluh tahun lakukan
Lalu apa jawab ketika di introgasi
Utarakan jawab dengan nada tanya
Pembuat mie mana tidak serupa dengannya?
Sungguh miris .....
Bukankah semua sangat jelas terlihat?
Mereka semua bodo amat akibat
Penting kaya raya sendiri
Berlindung dibalik keluguan
Berpura tidak paham akibat
Tapi dilakukan dengan sembunyi
Bukankah itu kontradiksi?


Lebih rancu kisruh APBD DKI
Ahok bak Pendekar Mabuk cerita silat
Adu pernyataan mengumbar wacana
Mabuk geregetan rasa kebangetan
Jengkel adanya anggaran siluman
Mengungkap bejat anggaran konyol
12 triliun rencana anggaran disusupkan
Ajang korupsi gila-gila-an
Lebih 40 triliun dalam tiga tahun
Lupa logika anggap Ahok terus bodoh
Sukses rampok UPS tahun lalu diulang
Milyaran anggaran UPS diselundupkan  

30 Milyar anggaran buat buku trilogi Ahok
Itu peruntukan nilai anggaran tidak waras
Anggaran sosialisasi pemahaman SK-SK Gebernur
Ahok disposisi "Pemahaman Nenek Lu !!"
Dan itu pembatalan anggaran fantastis
Banyak lagi selundupan anggaran konyol dan gila
Jadi salahkah banyak rakyat bela Ahok?


 


                                      (Gambar: youtube.com)

Dan aku menduga
Kisruh APBD DKI tidak akan lari kemana-mana
Karena apa?
Ahok hanya seorang diri dalam ring kegaduhan
Korupsi itu bisa terjadi karena kerja sama
Kerja sama Dewan dan Eksekutif
Ahok harus lawan orang luar dan orang dalam
Posisi Ahok sekarang tidak punya partai
Ahok bilang masih ada anggota dewan baik
Tapi itu bukan berarti akan bela Ahok
Yang baik hanya akan jadi penonton
Mau kemana lagi perkara ini?
Ke lembaga penegak hukum?
Itu setali tiga uang
Jangan-jangan Ahok akan kejeblos
Bukan pengadilan kebenaran terjadi
Tapi keberpihakan
Bukankah itu terjadi belum lama ini?
Coba hayati heboh gugatan praperadilan
Ketika Hakim menangkan si Badu
Tinggal condong ke saksi ahli si Badu
Andai Hakim ingin menangkan si Polan
Tinggal condong ke saksi ahli si Polan
Itu banyak kenyataan tentang hukum kita
Mau kekiri atau kanan, sama dianggap benar
Jadi hukum adalah alat, alat halal berpihak!
Tapi melihat gelagat
Kisruh ini tidak akan ke pengadilan
Satu persatu Dewan mulai balik badan
Salah duga tentang Ahok
Dikiranya tidak "segila" itu
Ternyata Ahok lebih "gila" dari orang gila
Modal Ahok hanya kejujuran
Jujur menerbitkan yakin kebenaran
Kebenaran menerbitkan keberanian
Lalu kalau jujur-benar-berani sudah diyakini
Ahok pun tertawakan batalnya pemanggilan Istri
Hasil setting foto ternyata tidak mempan
Gagal maneng gagal maneng Son.....
Bahkan menantang agar dirinya dipanggil
Supaya bisa telanjangi banyak Anggota Dewan
Hayo ....mau bagaimana hadapi orang "kentir"?
Jadi salahkah banyak ibu memberi bunga?
Banyak masyarakat bela bubuhkan tanda tangan
Banyak rakyat "merasa" muak Begal APBD
Begal APBD sudah setengah abad terjadi
Itulah sebab dianggap sudah wajar dan benar
Maka ketika Ahok ingin meluruskan
Ahok distempel "cina-gila-anjing-bangsat"
"Ahok bodo, tidak bisa komunikasi dengan Dewan"
Itulah sumpah serapah kebangetan
Umpatan Dewan ungkap amat sangat jengkel
Karena kelanggengan Begal APBD mau di stop
Lalu seperti biasa di Negeri ini
Tidak akan ada tuntas perkara
Semua akan berlalu begitu saja ...

 

Paparan diatas menggambarkan
Dari level bawah sampai level atas
Langkanya moral jujur diantara kita
Jadi jangan harap Negeri ini segera baik
Banyak ketidak warasan terjadi
Lupa "rasa malu" juga sangat penting
Cobalah ingat ketika nonton tipi
Dialog mantan pejabat teras
Ada mantan Wagub gagal sok pintar
Sok lebih tahu umpamakan zamannya
Padahal dulu tidak akur dengan Bosnya
Lucu, awalnya acungkan jempol ke Jokowi-Ahok
Lalu salahkan Gubernur Jokowi, sekarang Ahok
Juga ada wejangan mantan Gubernur
Tapi aku tidak mau mengulas lebih jauh
Takut kebablasan terbawa emosi
Ingin beri contoh lupa moral rasa malu
Tapi memalukan kalau sampai aku di somasi
Jadi tidak perlu dilanjutkan ya ....

 

Ketika terlalu banyak kasus tidak tuntas
Penegak hukum tidak tegas jadi wasit
Juga tidak adil dengan memihak
Maka Negeri ini tidak akan menjadi baik
Kasus Novel Baswedan ajang tarik ulur kebutuhan
Masih banyak lagi permainan kasus ...
Apa khabar Obor Rakyat?
Apa khabar Rekening Gendut?
Apa khabar Century?
Apa khabar BLBI?
Apa khabar Tragedi Mei '98?
Semilyar apa khabar andai ada catatan
Semua seolah beres
Tak dengar hukuman berat terlaksana
Itu sebab siklus itu akan terulang lagi
Dan lagi .......
Sangat sedikit kasus benar tuntas
Semburat jelas gambar kebobrokan kita



                         (Gambar: tempo.co)

Menurutku .....
Kalau masyarakat suatu Negara baik
Pasti penegak hukumnya baik
Utama Polisinya!
Jadi kalau ingin masyarakat baik
Mutlak Polisi harus baik terlebih dahulu
Baiknya Polisi adalah JUJUR-TEGAS-ADIL
Tapi, Jujur-Tegas-Adil adalah satu kesatuan
Dan kata Gusdur, Polisi jujur kita hanya tiga
Dan aku tidak menilai Polisi kita
Tapi ikut merasakan
Seperti yang pembaca juga rasakan....
Lalu melihat kenyataan Negeri ini sekarang
Sungguh sangat memprihatinkan bukan?
Tidak mungkin menegakkan aturan
Kalau penegak aturan sendiri tidak tegak
Rekayasa kasus itu tabungan kebobrokan
Terima suap itu tabungan dusta
Ketika bobrok dan dusta menggunung
Jadilah kita seperti sekarang
Negeri ini butuh sejuta Hoegeng dan Ahok!?
Yang takut membohongi diri sendiri
Karena percaya Allah tinggal dalam dirinya
Jadi masihkah kita mengaku lebih beragama?
Merasa lebih mulia dari pemeluk agama lain?
Kembalikan moral Jujur dan rasa malu
Maka Allah akan usir Setan dalam dirimu.
.

(SPMC SW, Blogspot, Maret 2015)

.

Notes:
Maaf kalau ada yang tersinggung atas Puisi yang ngelantur ini, tapi itulah ungkapan hati versi kaca mata saya, kalau ada yang benar tersinggung, anggaplah sebagai kritik, tapi tetap, sekali lagi maaf.

.

-------------------
Artikel-artikel saya terkait AHOK:
-------------------
.
"(GUBERNUR AHOK itu) ANJING - BANGSAT - BEGO!!!"
.
 
http://t.co/epEEUDSsle
.
--------------------
.
"SETELAH SERING URAK'AN, SEKARANG AHOK MBALELO!"
.
 
http://t.co/fvcuJ3ImjQ
.
-------------------
.
"PLEASE AHOK, KEEP RAHASIA JOKOWI TERLIBAT KORUPSI BUS KARATAN....."
(kiamat kami nanti .....)
.

http://t.co/mttGyYofru
.
-------------------
.
"KUPAS 1001 MACAM DOSA JOKOWI PADA HARI ULTAH AHOK"
.
 
http://t.co/2Lf9t8UJHO
.
------------------
.
DI MK ADA CERITA AHOK DAN AMOK MASSA
.

http://t.co/LxsjeR0oX7
.
------------------------
.
WASIAT AHOK : "MATI ADALAH KEBERUNTUNGAN"
.
 
http://t.co/S2zIEIDMEA
.
-------------------------
.
SAYA NEMU BOROK KENAPA JOKOWI & BASUKI DICACI-MAKI DAN DIBENCI
.
 
http://t.co/o0haiNgV7l
.
-------------------------
.
KEGALAUAN PAMONG PRAJA JAKARTA KARENA ULAH JOKOWI & BASUKI
.

http://t.co/pVBjy9RXa2
.
--------------------------
.
RAHASIA UNIK ||  TERNYATA GUBERNUR DKI MEMANG TIDAK BECUS!
.

http://t.co/a13QeOIlJC
.
--------------------------
.
MENGUNGKAP DUKUN & SUHU PEMBERI MANTRA KEHEBATAN Jokowi & Ahok
.
 
http://t.co/YupJH4XWBV
.
------------------------------

.
SENSITIF || "AHOK MUSLIM SEJATI BERJUBAH NASRANI"
.
 
http://t.co/VyRkfTmzgo
.
--------------------
.
BASUKI, Selain KRISTEN, CINA Lu !
.
 
http://t.co/0duYoZiEvW
.
--------------------

Thursday, March 5, 2015

DEWAN: "(GUBERNUR AHOK) ANJING - BANGSAT!!"


               (Gambar: antaranews.com)



Blogspot. Melihat video tayangan hasil mediasi/konfirmasi Mendagri antara Eksekutif DKI yang dipimpin oleh Ahok dan Anggota DPRD (Dewan), itulah tayangan seru Kamis, 5 Maret 2015, selama ini Dewan dan juga banyak tokoh yang anti Ahok selalu mengatakan bahwa Ahok itu: kasar ; arogan ; tidak etis , karena sering berkata-kata yang tidak patut dan menuduh "penipu - maling - koruptor". Lalu video tersebut menyuguhkan nuansa yang berbeda, ketika Ahok akan mengklarifikasi riwayat RAPBD, dengan menanyakan langsung kepada pejabat Pemprov yang nota bene itu berarti bawahan Ahok, pertanyaan Ahok yang menyulut ribut menurut saya adalah: " . . . yang di input sesuai pembahasan atau tidak? ..."

Setelah mencermati kejadian berikutnya, diawali oleh yang mulia Haji Lulung memotong pembicaraan Ahok, saya menilai beliau termasuk yang paling cepat melihat gelagat tidak menguntungkan yang akan dituai Anggota Dewan. Salut! Karena keributan tentang RAPBD DKI yang terjadi saat ini, saya termasuk yang terjerumus termakan asumsi bahwa Ahok memanipulasi RAPBD dengan memasukkan RAPBD yang tidak sesuai bahasan dengan DPRD. Artikel saya yang ada tendensi menyalahkan Ahok tersebut berjudul:

"RAKYAT BERSATU TIDAK TERKALAHKAN, KAFIR AHOK SAATNYA DIMAKZULKAN"


http://t.co/taPo2gqk7U

Saya meminta maaf kalau ternyata salah, dan itu terjadi karena saya terhasut pernyataan-pernyataan semua anggota DPRD juga tokoh-tokoh penentang Ahok yang selalu berkoar-koar bahwa Ahok telah melanggar prosedur UU karena telah memasukkan RAPBD bodong ke Mendagri.

Kalau betul Ahok memasukkan RAPBD bodong, seharusnya pertanyaan Ahok tidak dipotong supaya menelanjangi Ahok sendiri bukan? Yang lain baru sadar suasana akan tidak menguntungkan Anggota Dewan, maka beberapa saat kemudian menciptakan suasana hiruk pikuk dan gaduh supaya jangan sampai terungkap riwayat RAPBD. Begitulah kecurigaan saya, kecurigaan bahwa jawaban yang akan diberikan oleh yang meng input RAPBD akan mengungkap "topeng" anggota Dewan. Padahal katanya ingin buka-bukaan, apakah kejadian itu membuat stigma buruk Anggota Dewan semakin tidak terbantahkan?

Yang paling menunjukkan "ketololan" berikutnya dalam tayangan video kemarin itu, dalam mencipta kegaduhan supaya kebenaran riwayat RAPBD tidak terungkap adalah adanya umpatan dari Anggota Dewan "ANJING - BANGSAT . . ." Apakah umpatan itu lebih halus dari yang selalu di stigmakan terhadap prilaku Ahok? Dan betul Anggota Dewan itu terhormat? Atau menggambarkan kekalutan dan kejengkelan yang memuncak karena merasa akan terpojok dan ditelanjangi? Jengkel dan ngamuk karena merasa DEWAN TERHORMAT paling hebat kok mau dikalahkan oleh hanya seorang Gubernur yang menyadang nama AHOK pula? Mohon pencerahannya para pembaca. (SPMC SW, Maret 2015)

Catatan:
Mohon maaf judul artikel ini: "DEWAN: (GUBERNUR AHOK) ANJING - BANGSAT!!"

Memperhatikan debat-debat yang banyak diadakan oleh tipi dalam kisruh RAPBD DKI kali ini, berdasarkan kalkulasi rasa, sepertinya maling berjamaah itu tampak semakin nyata. Atau dalam artikel inipun saya juga salah persepsi lagi? Maaf lagi kalu gitu.

Seandainya ada jurnalis kreatif (KompasTV mungkin?), mewawancarai pejabat yang dituju Ahok kemarin itu, melanjutkan pertanyaan Gubernur Ahok dan menyiarkan hasil wawancaranya, saya yakin tipi yang menyiarkan akan naik rating karena menjawab keingin tahuan rakyat, dan rakyat yang ingin tahu salah satunya adalah saya. Juga bertujuan mengungkap kebenaran. Apakah kreatif semacam itu susah? Atau tidak mau agar kegaduhan itu berpanjang-panjang dulu? Wallahualam ...(((SW)))

Wednesday, March 4, 2015

"KPK DISUSUPI PELAWAK, TUKUL ARWANA KALAH LUCU" || #PuisiSensi

       (gambar: cnnindonesia.com)

- Pegawai KPK demo protes putusan PLT Pimpinannya
- Tolak putusan pelimpahan kasus ke Kejaksaan
- Tak tahan aku jadi kepo
- Batalkan niat puasa tidak ikut rumpi
- Coba buat puisi untuk kritisi
- Tak dapat prediksi apa jadi puisi ini
- Kalau kesruduk, anggap aku lagi mabuk
- Itulah sebab mohon maaf kalau ngaco
- Sebagai bukti, aku cuekin pakem puisi
- Apa memang puisi punya pakem?


- Pak Ruki, Pak Seno, ikut demo karyawan KPK
- Di tipi lihat Pak Ruki tanda tangan petisi
- Kepalkan tangan nyanyi "Maju Tak Gentar"
- Ingat sehari sebelumnya ngaku kalah
- Aktor utama pelaksana pelimpahan perkara
- Aku jadi blank tak tahu harus berujar apa
- Kucek mata takut hanya mimpi
- Yakinkan diri apa sesungguh terjadi?
- Seketika ingat Tukul Bukan Empat Mata
- Masyur sebab sanggup olok diri sendiri
- Tukul pembawa acara tipi canda masa kini
- Tukul bukan pejabat tinggi yang butuh disegani
- Sekali lagi aku yakinkan diri
- Nyata memang aku lihat tipi berita
- Kukira Tukul akan segera kalah pamor oleh KPK


         (Gambar: news.detik.com)

- Pak Ruki, Pak Seno bolehkah aku tanya?
- Kenapa sehari sebelumnya dilimpahkan?
- Lalu ikut demo menentang pelimpahan
- Apakah itu tidak menggelikan?
- Atau pelimpahan itu karena paksaan?
- Karena sebelumnya rajin ke Istana
- Apa pelimpahan itu petunjuk yang mulia?
- Gema hebat jadi Ketua KPK jilid satu
- Bagaimana aku terima kontradiksi ini?
- Dari pada tunduk karena dipaksa
- Andai hati lawan petunjuk Baginda
- Mundur lebih hormat bahkan lebih hebat
- Bukankah Bapak bilang lebih nyaman pensiunan?


- Putusan Hakim praperadilan kalahkan KPK
- Nyatakan KPK tidak sah tetapkan tersangka
- Kasasi urung dikirim karena akan ditolak
- Kabar KPK tak punya hak Peninjauan Kembali
- Apa lalu putus asa limpahkan perkara?
- Kenapa tidak coba cara lain?
- Kenapa tidak endapkan atau tidurkan saja?
- Apa praperadilan ultimatum harus limpahkan?
- Sementara itu mintakan fatwa ke MK
- Apa KPK berhak usut kasus semua Polisi?
- Juga fatwa lain alasan menang praperadilan
- Karena fatwa MK juga akan manfaat
- Hadapi semarak praperadilan
- Bangunkan kasus jika didukung fatwa MK
- Itu lebih bermartabat dari dilimpahkan
- Maaf aku memang tak paham hukum

 
- Kasus dilimpahkan ke Kejaksaan
- Jaksa Agung katakan akan limpahkan ke Polri
- Itu juga sangat menggelikan tambah memilukan
- KPK ditelanjangi dirumah sendiri
- Setelah Tukul siapa lagi padanannya?
- Mungkin pembaca bisa memberi tahuku
- Padahal Polri juga ikut datang ke KPK
- Kenapa malu-malu tidak langsung limpahkan sendiri?
- Kalau ingat sejarahnya kasus
- Sudah pernah disidik Polri
- Lalu kasus akan kembali ke Polri
- Doeloe Polri nyatakan kasus clear
- Kalau kasus sama diusut lagi
- Apa mungkin akan beda hasil?
- Artinya 'goblokkan' pengusut sebelumnya
- Jadi masihkah harap beda?
- Agar Polri telan buah simalakama?
- Ah yang mboten-mboten saja


- Betul Pak Ruki, itu hanya satu perkara

- Tapi dampak amat luar biasa
- Pelimpahan kasus dampak negatif dua Institusi
- KPK akan sangat dilemahkan
- Polri juga, jika telan buah simalakama
- Kalau ternyata Polri tetap sama bilang clear
- Pantulan gaungnya akan jatuhkan KPK
- Bukti selama ini KPK suka rekayasa perkara
- Ikut bermain politik demi citra pimpinan
- Status tersangka gampang dikendalikan
- Akan banyak lagi tuduhan menyedihkan
- Batal limpahkan kalau belum lanjur
- Itu pendapatku walau ngawur
- KPK memang perlu dibenahi
- Jangan sandangkan tersangka berlama-lama
- Tidak etis, tidak proper, tidak firm
- Bisa jadi melanggar HAM
- Ayo jangan lakukan lagi
- Segera bereskan yang sudah lanjur
- KPK disegani karena terbukti profesional


       (Gambar: hukumonline.com)

- Pak Ruki dan Pak Seno
- Ingat latar belakang Bapak berdua
- Perhatikan perserta demo "badut" kemarin
- Salahkah jika banyak rakyat curiga?
- Konflik kepentingan penjara Bapak berdua
- Apa bisa Bapak Ruki lupa jasa almamater?
- Bela KPK dalam pelimpahan kasus?
- Gosip Bapak Seno judicial review UU KPK
- Apa tidak konflik batin jadi Plt Pimpinan KPK?
- Jika ucap tidak sama nyata dalam tindak
- Apa batin Bapak-Bapak tidak tersiksa?
- Kenapa terima tugas kalau justru buat kisruh?
- Maaf jika aku tidak sopan isi puisi ini


- Pak Presiden janji tidak campuri hukum
- Jadi apakah artinya pasrah bongkok'an?
- Terserah apa dilaku penindak hukum bawahan?
- Apa tidak perlu diperjelas lagi arti "campuri"?
- Heboh pelimpahan kasus itu bukan peradilan
- Kencang beredar kabar karena barter
- Menurutku Itu kebijakan sarat makna politisasi
- Presiden enggan dituduh campuri peradilan
- Apa heboh pelimpahan kasus didiamkan?
- Bukankah mirip dengan Presiden tolak grasi?
- Menurutku, Presiden harus campuri
- Jadi wasit pengamat adil bukan penonton
- Sejatinya itu makna jabatan Presiden
- Presiden dituntut adil, tegas, arif
- Diamkan melenceng bawahan bidang hukum
- Juga akan tuai kegaduhan rakyat
- Hasil akhir juga dipundak Presiden
- Walau tidak bermaksud menggurui
- Masihkah kurang sreg pendapat ini?
- Memang tidak mudah: adil - tegas - arif
- Itu sebab juga tidak mudah bisa jadi Presiden
- Kalau masih boleh ingatkan sebagai rakyat
- Jadikan pemberi saran "tokoh-tokoh" purna pamrih
- Atau perhatikan suara rakyat kebanyakan
- Semoga Yang Mulia bijak mengemban tugas.


(SPMC SW, Blogspot, Maret 2015)
 
                    (Gambar: timlo.net)


Catatan:
Sekali lagi mohom maaf kalau ada yang tersinggung atas isi puisi ini, hanya sekedar pelampiasan uneg-uneg sambil ngigau siapa tahu ada manfaat pelampiasan untuk para pembaca yang punya uneg-uneg serupa, kalau terpaksa harus di "remove" puisi ini oleh admin karena dirasa kurang ajar, saya pun pasrah bongkok'an. Salam (((SW)))

************************

Sunday, March 1, 2015

"RAKYAT BERSATU TIDAK TERKALAHKAN, KAFIR AHOK SAATNYA DIMAKZULKAN"

                        (Gambar: merdeka.com)

Blogspot. Ribut lagi DKI, kali ini tentang RAPBD yang tidak disahkan oleh Mendagri, kenapa tidak disahkan, yang saya tangkap mulanya karena RAPBD  tidak ada tanda tangan persetujuan Ketua DPRD dan atau para Ketua Komisi yang telah membahas RAPBD tersebut. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah berarti ada RAPBD palsu? Jawab singkatnya “iya”! Siapa yang memalsukan, tentu saja tudingan tertuju kepada yang memasukkan RAPBD, berarti Pemerintah DKI, dan itu dikomandani oleh AHOK. Dalam hal ini, seandainya Ahok tidak menduga bahwa RAPBD pasti TIDAK akan disetujui oleh Mendagri, itu berarti Ahok lupa paham prosedur, tapi kalau Ahok sudah menyadari itu dan tetap melakukan dari pada menempuh cara lain, berarti Ahok punya strategi lain, atau setidaknya “kurang sabar”, dan itulah sebab berkobar “Perang Badar”.


Semua anggota DPRD jadi “ngambek”, campur aduk kepentingan dalam urusan ngambek tersebut, termasuk dendam kesumat yang sudah sangat ingin menjatuhkan “Kafir Ahok” yang terus terang pernah disuarakan FPI dan tampak di “amini” oleh beberapa anggota DPRD dengan ikut demo dalam pelengseran Ahok beberapa waktu lalu itu. Tentu saja juga ada kepentingan yang sangat ditentang Ahok, yang memasukkan anggaran “siluman” dalam RAPBD DKI. Dan kepentingan lain, sehingga bulatlah kehendak anggota DPRD mengajukan hak angket yang semakin memanaskan situasi DKI, sangat mungkin semua anggota DPRD yang sudah geram terhadap Ahok menghendaki dapat membuka gerbang pemakzulan terhadap Gubernur DKI, utamanya saya duga dari Partai dimana Ahok pernah berada, juga dari jajaran Ketua DPRD yang sudah sangat sering “berantem” dengan Ahok.

Pelabelan arogan dan kasar-nya Ahok kenapa selalu dipermasalahkan? Kalau minta Ahok berprilaku seperti orang asli Solo atau Yogya, bukankah itu meng-ada-ada? Apa iya kita akan menyalahkan semua orang Batak atau mungkin juga orang Madura, dan mungkin juga daerah lain hanya karena kita pikir kurang beradat halus? Apakah itu bukan mengada-ada, cari-cari masalah sebetulnya tidak salah, atau istilah hukumnya kriminalisasi seperti gosip cicak vs buaya? Soal seringnya Ahok menuding siapapun dengan kata-kata “maling-rampok-penipu, …..dan lain-lain”, kalau mau dicermati lebih detail, itu lebih karena ulah Jurnalis melakukan potongan-potongan berita supaya bombastis, bahkan tidak jarang meng-adu-domba supaya gaduh dan beritanya lebih heboh. Apakah itu berarti saya menuduh banyak Jurnalis bohong? “Bukan!” Tapi kenyataannya memang Jurnalis suka memenggal-menggal pernyataan Ahok, hanya menitik beratkan kata-kata yang kasar saja, padahal kalau dicermati secara utuh, lengkap latar belakang apa sebab Ahok berkata yang dituduhkan arogan dan kasar itu, setahu saya tidak pernah melihat Ahok menyebut nama seseorang lalu dikatainya maling-rampok-penipu ….dan sebagainya. Sebagai gambaran, atas suatu masalah, misal Ahok mengatakan ada anggota DPRD yang korupsi atau diistilahkan maling, apakah itu salah sementara Ahok mengetahui data yang dituduhkan itu? Padahal diluar juga banyak rakyat yang geram karena ulah banyak koruptor, termasuk banyak tuduhan dialamatkan ke anggota DPR(D) bukan? Saya justru curiga …anggota DPRD yang gampang “kebakaran jenggot” alias gampang tersinggung, jangan-jangan benar dirinya itu maling?

Kembali ke masalah RAPBD heboh karena tuduhan ada anggaran siluman 12.1 T, saya melihat jelas adanya komunikasi yang tidak nyambung, bukankah seharusnya Ahok bisa telepon dulu ke Ketua DPRD-nya untuk mempertanyakan hal tersebut sebelum memasukkan RAPBD lain ke Mendagri? Karena toh pasti tidak disetujui kalau tidak ada tandatangan persetujuan DPRD? Atau bisa jadi Ahok memang sudah sangat siap dan mengkalkulasi apa yang memang akan atau justru diharap terjadi. Tapi mencermati apa yang disuarakan Ketua DPRD yang tersinggung karena Ahok telah memasukkan RAPBD yang tidak ada tanda persetujuan DPRD, maaf menurut saya kurang bijak. Karena Ketua DPRD hanya mempermasalahkan “palsu atau bodong” RAPBD, tidak mempermasalahkan kenapa hal itu terjadi? Ibarat “Gajah dipelupuk mata tidak mau dilihat, kuman diseberang lautan di-gadang sebesar Gunung Everest”, dan biasanya hal itu terjadi karena tidak adanya komunikasi yang harmonis, alias ada api dalam sekam, saling curiga karena aslinya memang sudah saling tidak suka. Menurut saya seharusnya Ketua DPRD meyakinkan terlebih dahulu betul atau tidaknya tuduhan adanya anggaran siluman, baru memutuskan perlu tidaknya hak angket, kalau ternyata nanti terbukti ada anggaran siluman yang diselundupkan, salahkah rakyat curiga bahwa memang benar ada korupsi berjamaah di DPRD itu sendiri? Bukankah dengan keputusan bulat mengajukan hak angket juga bisa dimaknai jangan-jangan DPRD menggunakan strategi perang “Sun Tzu”, serang terlebih dahulu sebelum kedok kita semua terbongkar?! Wkwkwk ….guyon lho, karena pasti sangat menyedihkan kalau benar begitu kejadiannya bukan? Dan sepertinya Ahok memang tidak mudah ditaklukkan, lebih tepatnya tidak mudah dikadali sekaligus tidak mudah digertak! Hayo mau pakai ilmu apalagi kalau ngadepin orang macam ini? Asal jangan “main kayu” saja ya….

            (Gambar: news.detik.com)

Gubernur DKI AHOK, nama lainnya adalah Basuki Tjahaja Purnama kependekannya BTP yang boleh disingkat Bersih - Transparan - Profesional. Butuh keteguhan moral untuk berani berprinsif seperti itu, memang bisa banyak makna, tapi hanya ada dua makna hebat didalamnya, yakni “Asli hebat” karena memang benar BERSIH - TRANSPARAN - PROFESIONAL, atau “penipu hebat” yang pakai kedok itu. Dan saya percaya Ahok memang jujur, karena sampai saat ini saya belum pernah dengar ada pejabat lain di Negeri ini yang berani mengatakan “hartanya siap dibuktikan secara terbalik” alias siap ditelusuri asal muasal kekayaannya. Dan untuk ukuran Indonesia, jelas Ahok orang yang maniak! Maniak kejujuran, sampai sering marah-marah melihat kenyataan yang ada, dan itulah salah satu hal saya menduga Ahok tidak takut dipecat, karena memang dia punya modal besar tentang kejujuran. Lebih rela dipecat dari pada membiarkan terjadinya perampokan yang apalagi hal itu terjadi diwilayah kekuasaan kerjanya. Dasar maniak! Hehehe ….

Mau tahu cerita lain tentang Ahok, ini sedikit cerita yang karena satu dan lain hal, saya tidak ingin mengungkap sumbernya, karena memang saya juga tidak membuktikan kebenarannya, tapi sebagai intermezo, bolehlah ya …. Beberapa waktu yang lalu, Ahok, bisa jadi Ahok sendiri atau mungkin istrinya, atau berdua, ingin membeli rumah, biasa ada strategi pemasaran perumahan, kalau Anda mau beli rumah banyak sekali cara bayarnya, ada yang cash keras, cash keras bertahap, kredit …dan lain-lain. Untuk cara yang ber-embel-embel cash biasanya ada diskon khusus, maka ketika mengetahui Ahok ingin membeli rumah, ditawarilah keistimewaan khusus, akan diberi diskon khusus yang bisa jadi 2 kali diskon yang resmi. Hehehehe …..enak sekali ya jadi orang terkenal, lalu setelah itu, Ahok tidak pernah datang lagi untuk melanjutkan proses transaksi beli properti tersebut, alias batal beli. Ternyata jajaran Direksi Perumahan tersebut salah duga, dikiranya memberi keistimewaan akan menarik hati Ahok, atau mungkin direncanakan sebagai promosi terselubung perumahan tersebut dipilih Gubernur, atau mungkin dikiranya kesempatan untuk menjalin pertemanan. Ternyata Ahok justru berpikir itu adalah unsur “gratifikasi”, jadi ingat Pak Hugeng mantan Kapolri di era doeloe!

Jadi, sebetulnya Ahok adalah fenomena di NKRI, karena saat ini memang sudah sangat langka kejujuran di Negeri ini, kalau toh banyak anggota DPR(D) yang sering kali berargumen: “Janganlah digebyah uyah, masih banyak kok anggota DPR(D) yang baik, yang bersih dan bla-bla-bla …..” Memang tidak tepat berkata begitu, tapi intinya kurang lebih begitu ….lalu maaf samar-samar rasanya saya juga pernah dengar Sutan Bhatoegama pernah mengatakan begitu, bahkan dengan bersumpah untuk meyakinkan atas kebersihannya, lalu akhirnya …….? Topeng monyet …. Sedih ternyata banyak dari kita yang tampak gagah perkasa, gagah dengan topeng kemunafikannya!

Sebagai rakyat, saya coba nekat mengingatkan Ahok, menyangkut RAPBD kali ini, karena dibahasnya adalah antara komisi-komisi DPRD dan SKPD(dan atau lainnya), maka kalau boleh diibaratkan SKPD adalah mewakili Pemerintah dalam hal ini pimpinannya adalah Ahok, itu berarti mereka adalah bawahannya Ahok. Maka ketika ada hal-hal yang sekiranya tidak benar, kalau saya jadi Ahok, pertama sekali saya tentu akan menyalahkan orang sendiri(SKPD) sebelum menyalahkan orang lain(DPRD), bukankah DPRD tidak mungkin korupsi sendirian tanpa dukungan eksekutif, ibaratnya bertepuk mestinya ya pakai dua tangan bukan? Kalau alasannya dipaksakan, jelas itu alasan model anak kecil yang tidak pas sebagai alasan kalau memang sejatinya tidak ikut terlibat didalamnya. Seandainya dalam hal ini, Ahok mengumpakan dirinya sendiri yang terlibat dalam pembahasan RAPBD, apakah kira-kira Ahok bisa menyetujui penyelewengan kalau dirinya sendiri tidak ikut menikmatinya, apakah mungkin Ahok beralasan “dipaksa”? Pak Gubernur, jangan lupa musuh dalam selimut ya. Karena semua itulah, sejatinya saya justru menduga Ahok kini sedang tersesat, tersesat dirimba yang dipenuhi oleh para koruptor, jadi apa mungkin mengimplementasikan kejujuran, sementara ternyata tidak ada satupun orang lain jujur dirimba yang dimasuki Ahok saat ini? (SPMC SW, Maret 2015)


Tambahan:
Judul Artikel ini mengingatkan saya untuk berharap semoga geger DKI tidak ada yang menyangkutkan ke ranah agama dan juga ras, bukankah kita tidak bisa memilih untuk lahir sebagai ras apa? Karena menurut saya, percayalah tiket test masuk surga tidak mungkin ditanyakan soal Ahok kenapa bisa jadi Gubernur DKI Jakarta. Jangan marah ya kalau saya salah duga pertanyaan test masuk surga.

Semoga Pak Ahok juga ingat membandingkan dengan kasus Bus TransJakarta, bukankah yang akhirnya ditahan orang eksekutif sendiri? Karena saya perhatikan di tipi tidak banyak yang mencurigai, mereka hanya mengaitkan pertarungan antara Ahok dan Anggota Dewan, padahal saya curiga bagaimana kalau seandainya Ahok juga sedang diadu domba? Itulah saya mengibaratkan Ahok tersesat “sendirian” di rimba penuh tipu daya yang menganggap korupsi adalah wajar dan biasa. Dapatkah kita membayangkan situasi kerja Ahok, bisa jadi yang terlihat mengkhawatirkan hanya Ahok seorang? Ibarat se-ekor kuda dikepung kawanan singa yang lapar. Apa sudah begitu bobrok Negeri ini, atau lebih bobrok dari yang saya gambarkan? Memilukan sekaligus menyedihkan, dan maafkan artikel ini seperti menggambarkan kerancuan dalam kejengkelan yang memang sedang saya rasakan. Sekali lagi maaf. (((SW)))


Wednesday, February 25, 2015

PRESIDEN "ANAK PAPI' || #PuisiSensi

~~ PRESIDEN "ANAK PAPI" ~~
'THOUSAND FRIENDS ZERO ENEMY' 
(#PuisiSensi)

                                                        (rakomsulut.com)

'Thousand Friends Zero Enemy'
Warisan "papi" jadi kontroversi hati
Haruskah tetap dikiblati?
Demi jadi anak papi
"Tunduk" pada semua Negeri

'Thousand Friends Zero Enemy'
PM Kangguru ungkit bantuan tsunami
Rakyat NKRI terusik harga diri
Galang koin balikin bantuan tsunami
Rakyat Kangguru juga timpali
"Tujukan Perdana Menteri bukan Aussie"

'Thousand Friends Zero Enemy'
Pemerintah NKRI sepi tanggapi
Moga bukan karena tak berani
#CoinsForAbbott gantikan #CoinsForAussie
Kenapa itu terjadi?
Apa bantuan itu uang pribadi?
Perdana Menteri wakili suara Negeri

'Thousand Friends Zero Enemy'
Andai Presiden berani
Bersurat pada DPR RI
Agar bahas balikin bantuan tsunami
Karena itu ranah politik sangat sensi
Usik sanubari seisi Negeri
  Walau banyak Satu Miliar Dolar Aussie
Lebih mahal "rasa kegi" seisi Negeri

'Thousand Friends Zero Enemy'
Apa jadi halang Pemimpin Negeri?
NKRI telan getir ulah Perdana Menteri
Manfaatkan situasi demi citra diri
Balikin saja sumbangan tsunami
Harga diri negeri bukan dikalkulasi
Apalagi hitung untung rugi
Pertahankan dengan tindak berani
Bukan penakut seperti "anak papi"

'Thousand Friends Zero Enemy'
Apa batasi merdeka Negeri?
Ketika rakyat galang koin untuk Aussie
Petunjuk bagi Pemimpin Negeri
Agar balikin sumbangan tsunami
Prediksi akan ganti permalukan Aussie
Tamat karir politikus Perdana Menteri
Lebih bermartabat dari berdiam diri
Sayang balikin atau takut enemy?
Atau tak terpikir sama sekali?

'Thousand Friends Zero Enemy'
Apa Pemimpin ini juga terasuki?
Atau memang begitu sifat asli?
Penakut atau hati-hati?
Terbaca bagai "anak papi"
Presiden Samba permalukan NKRI
Hinaan, balas tarik Dubes sendiri
Kalau boleh samakan cerita ini
Ketika utusan kita diludahi
Benar suruh balik Negeri sendiri
Kenapa hanya protes keras sekali?

'Thousand Friends Zero Enemy'
Geregetan maaf jadi ngompori
Andai aku wakili Presiden Jokowi
Benar panggil Dubesnya oleh Menteri Luar Negeri
Tapi aku tidak perintah protes keras sekali
Tanpa ba-bi-bu kuminta bilang: "Siapkan diri"
"Tinggalkan Negeri ini dalam tiga hari"
Lebih bermartabat dari pada seperti ini
Protes keras Menlu tak kunjung ditanggapi
Apa hebat kita, adai mereka nanti bilang sori?
Ibarat terlanjur diludahi ngarep barter kata sori
Tunjukkan pada Dunia, kita juga pemberani

'Thousand Friends Zero Enemy'
Harusnya tidak jadi kekang diri
Waktoe itoe saya lihat di tipi
KETIKA kapal perang tetangga intimidasi
KETIKA mereka bangun mercusuar langgar janji
KETIKA banyak TKI dituduh rampok ditembak mati

KETIKA Sipadan dan Ligitan, kita dikibuli
KETIKA penamaan kapal perang diprotes Negeri mini
KETIKA, KETIKA, KETIKA, .... masih banyak lagi
Kita hanya mampu protes keras sekali
Galak, garang, 'cakar-cakaran' sendiri dalam Negeri
Aku rindu punya Pemimpin berani
Tegas menjaga martabat Negeri

'Thousand Friends Zero Enemy'
Segera ganti slogan ini
Berani karena benar tetap dihargai, bonusnya disegani
Dari pada bangga jadi anak papi
Di-injak-injak-pun harus menahan diri
Lupa telah dilecehkan karena hantu enemy
China, Rusia, Australia, Inggris, Jepang, Kanada, Turki
Prancis, Jerman, Spanyol, Amerika, Bulgaria, Itali
Irak, Iran, Belanda, Belgia, Swiss, dan banyak Negeri
Lakukan "persona non grata" demi kehormatan Negeri
Lupakah kejadian di Irak oleh wartawan pemberani?
Presiden AS dilempar sepatu walau harus dibui
Kini telah dibuat patung sepatu untuk pemberani
Andai tentara kita berani tembak kapal perang intimidasi ...

(SPMC SW, Blogspot, Februari 2015)

                                                        (ciricara.com)


------------------------------
Puisi-puisi Sensi:

"TELANJANGI DEWAN PENIPU RAKYAT" || #PuisiSensi

http://t.co/AcxqJMtUz9

---------------------------

PRESIDEN "ANAK MAMI" || #PuisiSensi

http://t.co/7T1O9Wrs5B

------------------------------

Sunday, February 8, 2015

"TANGKAP EMPAT CICAK MODAL BARTER SATU BUAYA" || #KETIKA

(”ANTAH BERANTAH TERNYATA NEGARA SALAH KAPRAH”)

14234209202137629131
elmoudy.com

Kompasiana. KETIKA Rabu lalu melihat acara tipi “Mata Najwa”, korban-korban rekayasa hukum itu sungguh menyedihkan, itu yang disingkap, berapa “juta” yang tidak di-expose? Bukankah itu semua diawali dari sistem kerja Polisi?
 
KETIKA terungkap heboh Labora Sitorus yang ternyata sudah hampir satu tahun tidak ada dalam penjara padahal katanya tahun lalu sudah diputus 15 tahun penjara oleh MA, sangat miris mendengarkan pernyataan-pernyataan semua pihak, termasuk pejabat-pejabat paling tinggi di-institusi yang berkaitan dengan kasus tersebut. Bagaimana tidak miris, ketika jurnalis menanya tentang LS sambil menginfokan bahwa LS ada dirumahnya dan Sang Pejabat menjawab “…itu kan katanya …”, lalu menerangkan status DPO dan sedang kerja sama dengan Polda setempat untuk memburu LS. Itu jelas pejabat yang kurang update informasi, atau “robot” yang terpaku protap pokoknya-pokoknya, dan jelas selalu menganggap titahnya paling benar. Atau menganggap tipi-tipi merekayasa berita? Padahal ingat saya setidaknya melihat tiga saluran tipi beberapa hari sedang hot menyiarkan “live” komunikasi dengan LS (salah satunya adalah KompasTV, Red) yang tanpa tedeng-aling-aling mengaku ada dirumah, dan juga cerita sebelum kasusnya heboh, hampir tiap hari ada pejabat dari beberapa institusi yang tandang menemuinya untuk silaturahmi …… Lalu saya menerawang membayangkan kejadian silaturahmi tersebut, bukankah sangat mungkin “ada gula ada semut”?  Atau jangan-jangan dijadikan ATM TST (tau sama tau) …. Maaf kalau saya terlalu berimprofisasi dalam membayangkan, itu hanya ber-andai-andai lho, bukan menuduh! Mendengarkan apa yang diterangkan oleh LS tentang kasusnya, pendapat akhir saya adalah, LS itu Polisi ….. kalau Polisi ber-perkara saja “merasa” direkayaya, dikorbankan, ditumbalkan, dikriminalisasi, dizalimi, dibohongi dan entah apa lagi ……, bagaimana kalau rakyat kecil tertimpa masalah, bukankah sering kita dengar ceritanya bahkan yang tidak-tahu-menahu sekalipun tanpa ba-bi-bu bisa langsung masuk penjara? Bukankah apa yang ditampilkan di acara Mata Najwa pada Rabu lalu semakin menguatkan pameo tentang “fenomena gunung es”?
 
KETIKA ingat cerita yang sudah lupa detailnya, itulah sebab saya tak ingat lagi siapa yang menceritakannya, juga apakah cerita itu masih relevan untuk disimak? Waktoe itoe samar-samar yang saya ingat ceritanya begini, ketika ada kejadian kebakaran pada pabrik yang diasuransikan, yang punya pabrik datang melihat karena kejadiannya pada malam hari setelah pabriknya tutup. Lalu “oknum” pemadam kebakaran yang tahu situasi menanyakan pada sang bos, “disemprot engga bos?” Itulah pertanyaan bersayap, karena si bos sudah tahu situasi dan gelagatnya, bukankah tidak ada yang gratis dalam hidup ini? Si bos akhirnya meninggalkan lokasi tanpa memberikan jawaban untuk menghindari “pemerasan”, dalam hatinya mungkin mengatakan, “terserah Andalah, sudah saya asuransikan ini.” Syukur kabarnya Institusi Pemadam Kebakaran sudah banyak mengalami perbaikan, karena kejadian itoe memang soedah sangat lama, mungkin lebih seperempat abad yang laloe. Tapi inti cerita saya adalah kelanjutan dari peristiwa itu. Untuk  claim asuransi dibutuhkan surat pernyataan dari kepolisian, “konon” disitulah terjadi tawar menawar untuk mendapatkan surat pernyataan yang dibutuhkan sebagai syarat kelengkapan claim asuransinya dapat diproses lebih lanjut, dan kabarnya nilai surat pernyataan itu beberapa persen dari nilai tanggungan asuransinya. Maaf kalau itu hanya rumor, atau tidak pernah terjadi, tapi itulah cerita yang berkembang disebagian masyarakat, dan sebetulnya itu bukan uang kecil, kalau nilai tanggungan asuransi pabriknya sekarang sampai ratusan milyar, bukankah sangat besar untuk sepuluh persennya saja? Lalu pertanyaan selanjutnya, kalau “seandainya” ada kejadian tersebut, apakah uang-uang pungutan itu ada kwitansinya? Apakah masuk kas Negara? Bukankah hal itu juga termasuk salah satu alasan Gubernur DKI akan menaikkan gaji Lurah/Camat/Walikota karena adanya pungutan persentase jual beli properti? Kalau tidak salah ingat, saya lihat di tipi Ahok sempat nyeletuk satu persen pungutan “liar” transaksi jual beli properti.
 

KETIKA di DKI masih ada angkutan umum berplat nomor hitam, kejadian beberapa tahun lalu yang pernah dihebohkan, tapi sampai sekarang tidak mampu memberantas, entah siapa yang paling kebangetan? Kalau dibilang tidak tahu, bukankah rakyat umum yang menggunakan jasanya saja tahu? Padahal itu adalah kejadian yang juga termasuk memberikan penilaian negatif terhadap Institusi yang bertanggung jawab, bisa jadi Institusi DLLAJ dan Polri. Padahal kalau mau, seandainya saja semua angkutan umum plat hitam itu didata, lalu plat nomornya diganti dengan plat nomor kuning dengan fasilitas GRATIS untuk pengurusan pertamanya dan peresmian jalurnya, saya percaya itu lebih bermartabat untuk semuanya, dari pada dibiarkan justru menggambarkan ketakberdayaan Institusi yang juga merupakan penegak hukum itu sendiri. Apalagi kalau pembiarannya dengan alasan “karena sudah dari dulu terjadi”, ngenes dot com!
 
KETIKA beberapa hari yang lalu heboh pemberitaan video oknum Polisi menerima mel/saweran/sogok’an/tip di bunderan HI untuk metromini yang akan memutar, percayakah Anda bahwa hal-hal kecil itupun juga termasuk degradasi kepercayaan masyarakat terhadap Polri? Lalu pernyataan pimpinannya adalah, bla-bla-bla …..sambil ditambahkan, itu terjadi dua sisi, sebaiknya jangan ada oknum yang menyogok, karena kalau tidak ada yang menyogok bukankah peristiwa itu tidak terjadi? Hayo ….kurang wise apa? Masuk akal dan rasional bukan? “Iya” …sepintas dan secara awam, dan itu tergantung sudut pandang, tapi kalau boleh melihat dari sisi berbeda, semoga tidak ada yang memberi stempel saya selalu menyalahkan pihak Polisi, karena sejatinya saya sangat mengharapkan adanya perubahan kebaikan Negeri ini, dan Polri punya andil yang sangat penting untuk perubahan itu, atau kalau boleh dikatakan dengan cara lain, kalau Polri baik saya sangat yakin Negeri ini akan baik. Jadi memang Polri amat sangat penting di Negeri ini, bisa jadi jauh lebih penting daripada KPK, karena Polri bersinggungan dengan semua aspek kehidupan rakyat, sedangkan KPK “hanya” masalah korupsi saja, walau saat ini kenyataannya justru korupsilah salah satu penyebab utama rusaknya Negara, dan ngenesnya oknum Polri juga tidak sedikit yang terlibat korupsi itu. Kembali kemasalah saweran untuk memutar dan sudut pandang berbeda versi kacamata saya atas tanggapan yang diberikan. Kalau ingat kita pernah sekolah, didalam kelas biasanya selalu saja ada murid yang bandel atau berkelakuan sangat berbeda dengan yang lain, mungkin lebih egois, mungkin merasa sok jago, dan banyak lagi sifat lain, itu baru satu kelas, belum kalau satu sekolah, lalu bagaimana kalau gabungan manusia satu kota, apalagi yang namanya DKI, yang konon kabarnya tidak kurang dari 10 juta jiwa penghuninya. Sifat apa yang tidak ada didalamnya? Semua berlomba untuk semudah mungkin bersaing mencari duit dibidangnya masing-masing, kalau ada yang saling sikut dan mau menang sendiri, tentulah sangat banyak dijumpai. Disitulah salah satu pentingnya dibutuhkan keberadaan Polri, untuk jadi wasit, bukan untuk pro kesalah satu pihak dengan mau menerima suap. Pemikiran itu yang menyebabkan secara pribadi saya LEBIH menyalahkan “oknum” Polisi yang menerima suap, tapi bukan berarti membenarkan yang menyuap. Jadi sangat jelas terlihat bukan, kalau Polri baik akan menggiring dan mengajarkan atau bahkan bisa memaksa rakyat menjadi baik. Tapi percayalah kasus “kecil” itu akan berlalu begitu saja …..hehehe …..
 
KETIKA kembali mengaitkan artikel ini dengan Serial Cicak vs Buaya, dan mencermati pernyataan-pernyataan egois banyak orang yang merasa terhormat sambil ngotot berpendapat “bijak”, “sebaiknya rakyat perlu diingatkan bahwa Polisi tidak selalu salah dan KPK tidak mungkin selalu benar”, mungkin tidak tepat berkata begitu, tapi setidaknya itu makna yang saya tangkap. Betapa arif-nya wejangan mereka melihat fenomena banyaknya rakyat yang lebih pro “Cicak” dari pada “Buaya”, hanya sayang mereka lupa (atau melupakan?) sejarah.  Menurut saya, andai ke-arif’an mereka tidak menyingkirkan fakta atau mau menelaah, kenapa rakyat banyak yang lebih pro Cicak? Apakah pro Cicak itu karena bayaran?  Paragraf-paragraf KETIKA diatas sengaja disusun sebagai gambaran atau sejarah timbulnya rasa kenapa rakyat memihak yang mana. Jadi bukan hanya ujug-ujug lebih pro Cicak. Dapatkah Anda menambahkan paragraf-pargaraf KETIKA yang menggambarkan sagat parahnya KPK supaya lebih seimbang? Atau saya coba ya, tapi maaf sebelumnya karena saya bukan siapa-siapa, maka keberpihakan itu tentulah tidak dapat saya hindarkan.
 

KETIKA BW di-tersangka-kan pada kasus waktu yang bersangkutan sebagai Pengacara, itu hampir tidak rasional menurut banyak tokoh yang lebih moderat, dan saya juga lebih pro pendapat itu, walau saya tidak mengupas kasusnya. Lalu AS di-kulik tentang pertemuan haram dengan tokoh politik PDIP, bukankah itu namanya pelanggaran kode etik, kok larinya ke Bareskrim juga? Semoga bukan karena memaksakan, tapi hanya kerena alpha. Lalu disusul cerita masa lalu tentang keterlibatan pembuatan Paspor, terus terang yang ini agak susah dipahami karena saya hanya mencermati sepotong-sepotong. Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah PASPOR-nya palsu? Apakah yang mengeluarkan/membuat PASPOR adalah AS? Begitu juga pertanyaan tentang KTP yang biasanya merupakan syarat kelengkapan pembuatan Paspor, apakah PALSU dan dibuat oleh AS? Lalu apakah orang yang menerima jasa tersebut memalsukan data, misalnya merubah nama, merubah umur, dan Paspor yang didapat digunakan untuk penipuan atau tindak kriminal yang lain? Apakah kasus itu bukan “percepatan” karena adanya sogok’an (per-calo'an) dan itu sangat mungkin masih terjadi dibanyak tempat di Negeri ini, mungkin sangat relevan kalau dikaitkan dengan pembuatan SIM, “konon” ceritanya kalau lagi ada sidak atau tidak boleh menggunakan calo, jangan harap Anda sekali lulus dan bisa dengan mudah mendapat SIM, bukankah itu “cerita” rahasia umum yang bahkan terjadi ditubuh Polri sendiri? Tentang pembuatan SIM, bukankah kalau mau pakai logika rasional, kenapa kalau pakai calo tiba-tiba rakyat pembuat SIM bisa begitu “pandai” dan lulus semua, tapi kalau tidak pakai calo kok bisa “bodo” semua? Berapa banyak TKI yang memalsukan data pembuatan KTP dan PASPOR yang akhirnya berujung pada masalah bahkan terjadi penyiksaan, dan sangat mungkin masih terus berlangsung, sudah berapa puluh tahun terjadi dan tidak kunjung habis masalahnya? Waktu E-KTP belum dilaksanakan, bukan rahasia umum lagi berapa banyak warga BABODETABEK kemungkinan punya 2 KTP? (Atau masih ada yang punya sampai sekarang?) Bukankah dibalik itu semua ada bejibun oknum yang juga harus dipermasalahkan? Hibah Senpi juga jadi masalah, memang seharusnya ijinnya diperpanjang, tapi jadi “sangat” masalah, padahal sayup-sayup kita masih ingat kasus serupa yang menimpa anak pejabat, pengacara, juga mantan pejabat dan penanganannya tidak sampai seperti yang terjadi pada AS. Saya tentu saja tidak berkapasitas membela atau membenarkan apa yang telah dilakukan AS, tapi sebagai rakyat …. hanya melihat lalu merasa ada ketidak samaan perlakuan didepan hukum oleh Polisi sebagai penegak hukum, termasuk ketika menangkap dan mem-borgol BW ber-argumentasi “kesamaan” didepan hukum. Lalu mengandaikan jika ada pejabat Polisi dengan bintang dipundak ditangkap KPK dengan di borgol, dapatkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi? Bukankah ketika BG dipanggil KPK rumahnya dijaga extra ketat oleh Polisi, itu yang saya lihat di tipi. Bagaimana kalau BG misalnya waktu itu langsung ditangkap oleh KPK dengan cara di-borgol? Apakah Polri mau dan bisa menerima seandainya KPK beralasan “kesamaan” didepan hukum?
 
KETIKA begitu banyak masalah bak cendawan dimusim hujan tiba-tiba menimpa pimpinan KPK, logika saya hanya masalah AS yang silahkan kalau mau dilanjutkan, itu semua karena terjadinya masalah ketika AS menjadi pimpinan KPK. Masalah pertemuan haram dengan tokoh-tokoh PDIP yang layaknya ada di ranah Komite Etik, dan kepemilikan Senpi yang kedaluwarsa ijinnya kalau memang benar ada peristiwa itu. Sedangkan kasus-kasus yang lain, saya justru bertanya apa kerja tim yang dulu memilih mereka sebagai Pimpinan KPK? Bukankah ada keterlibatan DPR juga dalam pemilihan tersebut? Bahkan sangat mungkin juga ada sumbang pendapat dari Polri atas kelayakan sang calon. Jadi salahkah kalau rakyat berpendapat bahwa kasus-kasus yang diungkit sekarang ini terhadap pimpinan KPK tidak lebih sebagai “kriminalisasi”?
1423421367220095589 
lifestyle.kompasiana.com

KETIKA “menduga”, sekali lagi MENDUGA berdasarkan pernyataan-pernyataan para pengacara, tokoh politik dan ahli tatanegara yang pro pengangkatan BG sebagai Kapolri, yang intinya menyatakan : “Sebaiknya semua pihak menurunkan tensi masing-masing, dan tidak melanjutkan masalah-masalah supaya tidak bertambah runyam”, lalu menyarankan Presiden menggunakan hak-nya untuk “mengesampingkan” semua masalah yang disengketakan demi ketentraman/kebaikan Negara ….garis merahnya adalah, mengesampingkan dulu masalah BG, BW, AS dan semua pimpinan KPK lain. Wow ….. Itulah permainan catur yang dipikir bermain sangat cantik, terlihat seperti win-win solution …..bukan main! Masalah pelanggaran hukum kok mau dibarter? Jadi ingat ancaman ISIS yang mau barter tawanan …..kalau sampai terjadi mengurus Negara dilakukan gaya preman seperti itu …..mau dibawa kemana Negeri ini? Ternyata kriminalisasi itu bertujuan untuk mempunyai amunisi barter toh? Mungkin akan sangat terlihat murah hati kalau 4 tukar 1, alias 4 pimpinan KPK barter dengan satu kasus BG. Semoga Presiden tidak terjerat cara berpikir “gaya preman” walau dengan dalih yang tampak rasional, AS atau siapapun kalau terpaksa boleh saja dipecat dan diganti, tapi jangan sampai terjadi barter dengan dalih ditakut-takuti akan terjadi kisruh Negara, bukankah Panglima TNI juga sudah mengeluarkan pernyataan jaminan keamanan Negara akan tetap terjaga? 
 
KETIKA degradasi terhadap “Buaya” itu terjadi, kalau kita mau mencermati yang sesungguhnya, bukankah memang atas akumulasi perbuatan mereka sendiri? Jadi revolusi mental itu sungguh sangat dibutuhkan, tapi tidak semudah membalikkan tangan, butuh minimal satu generasi, itupun perlu dilakukan secara revolusioner, tapi kalau seperti sekarang yang terjadi …. Saya menduga perubahan itu paling cepat terjadi pada cicit kita. (SPMC SW, Februari 2015)
 

                     (Republik-gondes.blogspot.com)

Catatan:
Mohon maaf kalau artikel ini banyak yang kurang berkenan, dan sesungguhnya saya hanya sangat menginginkan Negeri ini menjadi lebih baik, dan pendidikan moral untuk anak-anak di Sekolah Dasar adalah sangat penting untuk generasi yang akan datang. Jangan berharap terlalu singkat untuk memperbaiki Negeri ini, siapapun Presidennya, karena kerusakannya memang sudah sangat parah. (SW)